DEPOK – Suasana rumah keluarga Rayhansyah Pinago Sipahutar di Perumahan Jatijajar, Tapos, Depok, berubah sunyi sejak kabar duka itu datang. Foto-foto Rayhan masih tertata rapi di ruang tamu, namun senyum pada gambar itu kini terasa meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.
Rayhan, karyawan muda yang penuh mimpi, menjadi salah satu korban kebakaran Gedung Terra Drone di Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Keluarga masih menunggu kepastian pemulangan jenazahnya dari RS Polri, sembari memeluk secercah harapan yang kian menipis.
Ibunda Rayhan, Mimi Adriani Nasution, mengingat jelas momen ketika kabar kebakaran pertama kali ia dengar. Panik, cemas, namun Mimi berusaha tenang, menggantungkannya pada keyakinan bahwa putranya akan selamat.
“Saya pikir anak saya bisa selamat. Dia itu atlet, saya percaya dia kuat,” ucap Mimi, dikutip dari http://beritasatu.com Rabu, 10 Desember 2025.
Namun keyakinan itu runtuh saat ia melihat foto-foto lokasi kebakaran dan korban yang dievakuasi petugas. Informasi yang diterima keluarga menyebutkan bahwa para karyawan di lantai lima—tempat Rayhan bekerja—meninggal karena kehabisan oksigen akibat asap pekat.
“Saya lihat tadi foto-fotonya… katanya yang di lantai lima meninggal karena kehabisan oksigen. Mati lemas,” katanya pelan, suaranya serak oleh tangis.
Kebakaran besar itu diduga dipicu ledakan baterai drone di lantai satu. Ledakan memicu panas ekstrem dan asap yang menjalar cepat ke lantai atas, menjebak para karyawan tanpa kesempatan menyelamatkan diri. Di lantai lima dan enam, banyak dari mereka tidak sempat menemukan jalur evakuasi.
Rayhan baru bekerja setahun di perusahaan tersebut. Masih belajar, masih beradaptasi, dan masih menyusun rencana masa depan. Kini semua impian itu hilang dalam sekejap.
Hingga kini, keluarga belum mendapatkan kabar pasti kapan jenazah Rayhan dapat dipulangkan. Penantian panjang itu membuat rumah duka dipenuhi isak dan doa.
“Saya hanya ingin anak saya segera pulang,” ujar Mimi, menatap kosong. “Saya masih berharap bisa memeluk dia untuk terakhir kalinya.”
Tragedi kebakaran Terra Drone yang menewaskan 22 orang itu terus menjadi sorotan publik—menyoal keselamatan gedung bertingkat, prosedur evakuasi, hingga penanganan perangkat baterai litium yang rawan memicu kebakaran.







