TANGSELXPRESS – Informasi pencairan bantuan sosial (bansos) kerap dimanfaatkan pelaku penipuan untuk menjaring korban melalui situs palsu, aplikasi tidak resmi, hingga akun media sosial yang mengatasnamakan Kementerian Sosial (Kemensos).
Masyarakat perlu berhati-hati sebelum mengisi formulir, mengunduh aplikasi, atau menyerahkan data pribadi. Modus penipuan yang digunakan beragam, mulai dari meminta biaya administrasi dan menjanjikan pencairan bantuan lebih cepat hingga mencuri informasi pribadi melalui tautan atau aplikasi berbahaya.
Pelaku biasanya membuat tampilan layanan palsu menyerupai situs pemerintah agar calon penerima bantuan percaya. Karena itu, masyarakat perlu memastikan sumber informasi sebelum mengikuti instruksi terkait pendaftaran maupun pencairan bansos.
Salah satu kanal resmi untuk memeriksa data penerima bansos adalah situs Cek Bansos Kemensos di https://cekbansos.kemensos.go.id/.
Melalui laman tersebut, masyarakat dapat mencari data penerima manfaat menggunakan nomor induk kependudukan (NIK) dan kode keamanan yang ditampilkan pada halaman.
Agar tidak terjebak dalam modus penipuan, berikut tujuh ciri yang perlu diwaspadai.
7 Ciri Penipuan Bansos yang Perlu Diwaspadai
1. Alamat situs bukan situs resmi pemerintah
Langkah pertama untuk menghindari penipuan bansos adalah memeriksa alamat situs yang digunakan. Pengecekan data penerima bantuan dapat dilakukan melalui situs resmi Kemensos di https://cekbansos.kemensos.go.id/.
Waspadai situs yang menggunakan nama atau tampilan menyerupai layanan pemerintah, tetapi alamatnya berbeda dari kanal resmi.
Pelaku dapat memakai nama yang mirip, menambahkan kata tertentu, atau menggunakan domain lain agar situs terlihat meyakinkan.
Meski demikian, penggunaan domain seperti .com, .net, atau .xyz tidak otomatis membuktikan sebuah situs merupakan penipuan. Masyarakat perlu memeriksa alamat secara menyeluruh dan mencocokkannya dengan informasi dari kanal resmi pemerintah.
Ikon gembok atau koneksi HTTPS pada peramban juga bukan jaminan situs dikelola pemerintah. Fitur tersebut berkaitan dengan keamanan koneksi, bukan kepastian identitas pemilik situs.
2. Meminta biaya pendaftaran atau pencairan bantuan
Permintaan uang dengan alasan biaya pendaftaran, verifikasi, administrasi, atau percepatan pencairan bansos perlu diwaspadai.
Pengecekan data penerima melalui situs resmi Cek Bansos dapat dilakukan tanpa membayar biaya pencarian.
Pelaku dapat menjanjikan bantuan segera cair setelah korban mentransfer sejumlah uang. Ada pula modus yang meminta pembayaran terlebih dahulu dengan alasan pengurusan dokumen atau aktivasi bantuan.
Jangan langsung mengikuti permintaan pembayaran dari situs, pesan pribadi, atau akun media sosial yang mengatasnamakan Kemensos. Pastikan informasi tersebut benar melalui kanal resmi sebelum mengambil tindakan.
3. Meminta kode OTP dan PIN perbankan
Permintaan kode one-time password (OTP), PIN ATM, kata sandi mobile banking, atau informasi rahasia perbankan lainnya merupakan tanda bahaya.
Informasi tersebut dapat disalahgunakan untuk mengambil alih akun atau melakukan transaksi tanpa izin.
Pengecekan data melalui situs Cek Bansos menggunakan NIK dan kode keamanan yang ditampilkan pada halaman. Kode keamanan tersebut berbeda dari OTP perbankan yang digunakan untuk mengautentikasi transaksi atau akses akun.
Jangan pernah menyerahkan OTP, PIN, kata sandi, maupun kode pemulihan akun kepada orang yang mengaku membantu pendaftaran atau pencairan bansos.
Jika seseorang meminta informasi rahasia tersebut dengan alasan mempercepat bantuan, hentikan komunikasi dan periksa kebenarannya melalui kanal resmi.
4. Mengarahkan pengguna mengunduh aplikasi dari tautan asing
Aplikasi palsu dapat disebarkan melalui WhatsApp, media sosial, atau tautan yang mengarahkan pengguna mengunduh berkas instalasi Android atau APK di luar toko aplikasi resmi.
Nama, logo, dan tampilan aplikasi dapat dibuat menyerupai layanan pemerintah agar calon penerima bantuan tidak curiga. Padahal, aplikasi tidak resmi berpotensi meminta akses yang tidak relevan atau digunakan untuk mencuri informasi dari perangkat.
Untuk mengurangi risiko, unduh aplikasi melalui Google Play Store atau Apple App Store. Periksa nama pengembang dan pastikan aplikasi yang dipilih benar-benar berasal dari pihak resmi.
Hindari memasang berkas APK dari nomor tidak dikenal, terutama jika pesan yang menyertainya mendesak pengguna segera mendaftar atau mengklaim bantuan akan hangus jika tidak diakses.
Jangan memberikan izin akses yang tidak berkaitan dengan fungsi aplikasi.
5. Tampilan situs dipenuhi iklan dan tautan mencurigakan
Situs penipuan dapat meniru logo, warna, dan susunan halaman layanan pemerintah. Namun, beberapa situs menampilkan iklan berlebihan, tautan yang tidak relevan, atau arahan menuju halaman lain yang meminta informasi pribadi.
Tampilan yang terlihat profesional pun tidak menjamin keaslian suatu situs. Sebaliknya, keberadaan iklan saja juga tidak cukup untuk memastikan sebuah halaman merupakan penipuan.
Karena itu, periksa alamat situs dan pastikan halaman yang digunakan benar-benar merupakan layanan resmi Kemensos.
Hindari memasukkan NIK, nomor telepon, alamat email, atau informasi lainnya jika identitas pengelola situs belum dapat dipastikan.
6. Meminta data pribadi secara berlebihan
Formulir yang meminta banyak informasi pribadi sebelum menampilkan hasil pengecekan perlu diperiksa dengan cermat.
Situs resmi Cek Bansos menggunakan NIK 16 digit dan kode keamanan untuk mencari data penerima manfaat. Jika sebuah halaman meminta foto kartu identitas, data rekening, PIN, kata sandi, atau informasi lain yang tidak jelas kegunaannya, jangan langsung mengisi formulir tersebut.
Pelaku juga dapat menggunakan pesan mendesak, misalnya menyatakan bantuan sudah tersedia dan meminta pengguna segera melengkapi data. Tekanan semacam ini bisa membuat korban bertindak tanpa memeriksa keaslian layanan.
Sebelum menyerahkan informasi pribadi, pastikan tujuan pengumpulan data, identitas pengelola, serta kejelasan layanan yang ditawarkan.
Jangan memberikan data hanya karena halaman menggunakan logo atau nama instansi pemerintah.
7. Akun media sosial mengaku sebagai perwakilan Kemensos
Penipuan bansos juga dapat dilakukan melalui akun media sosial yang mengatasnamakan Kemensos atau petugas penyalur bantuan.
Pelaku biasanya menawarkan pendaftaran melalui pesan langsung, meminta data pribadi, atau membagikan tautan eksternal.
Periksa nama akun, alamat profil, riwayat unggahan, dan keterkaitannya dengan kanal resmi instansi. Tanda verifikasi dapat membantu pemeriksaan, tetapi masyarakat tetap perlu memastikan akun tersebut benar-benar milik lembaga yang dimaksud.
Jangan langsung memercayai pesan yang menjanjikan bantuan tertentu, meminta transfer uang, atau mendesak penerima mengirimkan data sensitif.
Jika ragu, cari informasi yang sama melalui situs dan akun resmi Kemensos.
Cara Melaporkan Dugaan Penipuan Bansos
Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah untuk mengurangi risiko menjadi korban penipuan bansos:
- Ketik langsung alamat https://cekbansos.kemensos.go.id/ pada peramban untuk memeriksa data penerima bantuan.
- Jangan sembarangan membuka tautan pendaftaran yang dikirim melalui pesan pribadi atau nomor tidak dikenal.
- Waspadai permintaan uang dengan alasan biaya pendaftaran, administrasi, verifikasi, atau pencairan bantuan.
- Jangan memberikan OTP, PIN ATM, kata sandi perbankan, maupun kode pemulihan akun kepada pihak lain.
- Periksa alamat situs dan identitas akun sebelum menyerahkan informasi pribadi.
- Konfirmasikan informasi yang meragukan melalui kanal resmi Kemensos sebelum mengikuti instruksi yang diberikan.
Untuk persoalan terkait bantuan sosial, masyarakat dapat menghubungi layanan Kemensos melalui nomor 171. Jika menemukan nomor telepon yang diduga digunakan untuk penipuan, masyarakat juga dapat memeriksa kanal pengaduan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), termasuk AduanNomor.id.
Sebelum melaporkan, simpan bukti yang relevan, seperti tangkapan layar pesan, alamat situs, nomor telepon, atau nama akun yang digunakan pelaku. Hindari menyebarkan data pribadi korban ketika membagikan bukti tersebut.
Masyarakat perlu lebih teliti menyaring informasi pencairan bansos. Jangan mudah tergiur janji bantuan cepat cair, jangan mentransfer uang kepada pihak yang tidak jelas, dan jangan menyerahkan data rahasia hanya karena sebuah situs atau akun menggunakan nama instansi pemerintah.







