TANGSELXPRESS– Influenza atau flu sering dianggap sebagai penyakit ringan. Namun, pada kelompok tertentu, infeksi influenza dapat menimbulkan komplikasi serius. Karena itu, vaksin influenza menjadi salah satu cara untuk mengurangi risiko terkena flu sekaligus menekan keparahan penyakit.
Vaksin influenza bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali virus influenza. Vaksinasi terutama penting bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan kondisi medis tertentu.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan vaksinasi influenza, terutama bagi tenaga kesehatan, orang lanjut usia, dan perempuan hamil untuk membantu mengurangi risiko komplikasi serius akibat influenza.
Apa manfaat vaksin influenza?
Manfaat utama vaksin influenza adalah menurunkan risiko infeksi influenza dan, bila seseorang tetap terinfeksi, membantu mengurangi risiko penyakit berat dan komplikasi.
Vaksinasi juga menjadi bagian dari upaya perlindungan masyarakat, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap komplikasi influenza.
Vaksin influenza dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lainnya dalam kondisi tertentu. Namun, jadwal dan jenis vaksin sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan sesuai usia dan kondisi penerima vaksin.
Jenis vaksin influenza
Vaksin influenza tersedia dalam beberapa jenis. Perbedaannya antara lain terletak pada cara pembuatan dan komposisi antigen yang digunakan.
1. Vaksin influenza inaktif (IIV)
Vaksin influenza inaktif mengandung virus influenza yang telah diinaktivasi sehingga tidak dapat menyebabkan infeksi influenza. Vaksin ini umumnya diberikan melalui suntikan dan digunakan pada berbagai kelompok usia sesuai jenis produknya.
2. Vaksin influenza hidup yang dilemahkan (LAIV)
LAIV menggunakan virus influenza hidup yang telah dilemahkan dan umumnya diberikan melalui semprotan hidung. Vaksin jenis ini hanya diperuntukkan bagi kelompok usia dan kondisi kesehatan tertentu.
3. Vaksin influenza rekombinan (RIV)
Vaksin rekombinan dibuat menggunakan teknologi rekayasa genetika dan tidak menggunakan virus influenza hidup dalam proses pembuatannya. Jenis vaksin ini tersedia untuk kelompok usia tertentu sesuai ketentuan produk dan rekomendasi kesehatan.
Vaksin influenza juga dapat dibedakan berdasarkan jumlah galur virus yang menjadi target perlindungannya, termasuk vaksin trivalen dan kuadrivalen.
Siapa yang perlu mendapatkan vaksin influenza?
Menurut rekomendasi imunisasi anak, vaksin influenza dapat diberikan mulai usia 6 bulan dan perlu diulang setiap tahun karena virus influenza terus mengalami perubahan.
Untuk anak usia 6 bulan hingga 8 tahun yang baru pertama kali mendapatkan vaksin influenza, pada kondisi tertentu diperlukan dua dosis dengan jarak minimal empat minggu. Anak yang sebelumnya sudah mendapatkan vaksin influenza dapat memiliki jadwal berbeda. Karena itu, jadwal pemberian sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Selain anak-anak, vaksin influenza juga penting dipertimbangkan bagi kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, antara lain:
- Orang lanjut usia.
- Perempuan yang sedang hamil.
- Orang dengan penyakit kronis, seperti penyakit paru, jantung, ginjal, hati, atau diabetes.
- Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
- Anak dan remaja tertentu yang mendapatkan terapi aspirin jangka panjang.
- Penghuni panti jompo atau fasilitas perawatan jangka panjang.
- Orang dengan obesitas berat.
- Tenaga kesehatan.
Kelompok usia dan kondisi medis yang menjadi sasaran vaksinasi dapat berbeda berdasarkan rekomendasi nasional dan jenis vaksin yang tersedia.
Siapa yang perlu menunda atau berkonsultasi sebelum vaksin?
Bayi berusia kurang dari 6 bulan belum menjadi kelompok yang menerima vaksin influenza secara rutin. Perlindungan bagi bayi pada usia tersebut antara lain dapat dilakukan melalui vaksinasi ibu selama kehamilan sesuai rekomendasi dokter.
Orang yang sedang mengalami sakit juga tidak selalu harus membatalkan vaksinasi. Pada penyakit ringan, vaksinasi umumnya tetap dapat dilakukan, sedangkan orang yang sedang mengalami penyakit akut sedang atau berat dapat disarankan menunda vaksinasi sampai kondisinya membaik.
Konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan juga diperlukan bagi orang yang pernah mengalami reaksi alergi berat setelah vaksinasi, memiliki alergi terhadap komponen vaksin, atau mempunyai riwayat Guillain-Barré Syndrome (GBS).
Apa efek samping vaksin influenza?
Sebagian penerima vaksin dapat mengalami efek samping ringan. Kondisi ini umumnya berlangsung singkat dan dapat berupa:
- Nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan.
- Sakit kepala.
- Nyeri otot.
- Demam ringan.
- Tubuh terasa lelah.
Vaksin influenza suntik menggunakan virus yang telah diinaktivasi sehingga tidak menyebabkan seseorang terkena influenza.
Meski jarang, reaksi alergi berat dapat terjadi setelah vaksinasi. Tanda yang perlu segera mendapatkan pertolongan medis antara lain kesulitan bernapas, pembengkakan pada wajah atau tenggorokan, biduran yang menyeluruh, jantung berdebar hebat, atau kondisi tubuh yang tiba-tiba memburuk.
Jika muncul gejala berat setelah vaksinasi, segera cari pertolongan medis atau datang ke fasilitas kesehatan terdekat.
Pada akhirnya, vaksin influenza merupakan salah satu langkah pencegahan untuk mengurangi risiko penyakit dan komplikasi akibat influenza. Pemilihan jenis serta jadwal vaksin perlu disesuaikan dengan usia, kondisi kesehatan, riwayat vaksinasi, dan rekomendasi tenaga kesehatan.







