TANGSELXPRESS– Musim kemarau yang berkepanjangan memaksa petani di Kebasiran, Kelurahan Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Banten, mengubah pola tanam. Lahan persawahan yang biasanya ditanami padi kini dimanfaatkan untuk membudidayakan tanaman hortikultura, seperti mentimun (bonteng), tomat, dan berbagai jenis sayuran.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mempertahankan produktivitas lahan sekaligus menjaga sumber penghasilan keluarga di tengah krisis air yang semakin parah.
Salah seorang warga, Suriah, memanfaatkan sawah yang telah lama mengering dengan menanam bibit mentimun. Meski lahan tersebut bukan miliknya, ia mendapat izin dari pemilik sawah untuk mengelolanya agar tidak terbengkalai.
Menurut Suriah, sawah tersebut sudah lama tidak dapat ditanami padi karena pasokan air dari saluran irigasi terhenti. Daripada dibiarkan kosong, ia memilih menanam mentimun dengan harapan hasil panennya dapat membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
“Sawah ini sudah lama tidak ditanami padi karena airnya tidak ada. Daripada dibiarkan kosong, saya minta izin kepada pemiliknya untuk menanam bonteng. Mudah-mudahan hasilnya bagus dan bisa membantu kebutuhan sehari-hari,” ujar Suriah, Sabtu (1/8/2026) dilansir dari Beritasatu.com.
Ia berharap tanaman mentimun yang baru ditanam dapat tumbuh dengan baik meski pasokan air sangat terbatas. Jika panen berhasil, hasilnya akan dijual kepada pengepul maupun pedagang di pasar sebagai tambahan penghasilan keluarga.
Debit Irigasi Menyusut, Sawah Tak Lagi Bisa Ditanami Padi
Kekeringan di kawasan persawahan Kebasiran dipicu oleh menyusutnya debit air di saluran irigasi yang selama ini menjadi sumber utama pengairan. Akibatnya, aliran air tidak lagi mampu menjangkau lahan pertanian.
Menurut Suriah, kondisi tersebut diperkirakan akan semakin memburuk apabila hujan tidak segera turun. Warga bahkan memperkirakan saluran irigasi akan benar-benar mengering dalam waktu sekitar satu bulan ke depan.
“Biasanya sawah ini dapat air dari sungai atau irigasi, tetapi sekarang air sungainya sudah menyusut, jadi enggak bisa mengalir ke sawah,” tambahnya.
Krisis Air Bersih Meluas di Banten
Kemarau di wilayah Banten telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Di Kebasiran, dampak kekeringan mulai dirasakan sejak sekitar tiga bulan lalu.
Tidak hanya mengganggu sektor pertanian, kekeringan juga menyebabkan warga kesulitan memperoleh air bersih. Saat ini masyarakat mengandalkan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan pendataan hingga akhir Juli 2026, dampak kekeringan di Banten terus meluas. Di Kota Serang, sedikitnya lima lingkungan di Kecamatan Kasemen mengalami krisis air bersih akibat menyusutnya debit Sungai Cibanten dan saluran irigasi.
Sementara itu, di Kabupaten Serang, kekeringan juga melanda sejumlah kecamatan, yakni Cikande, Kopo, Jawilan, Binuang, Carenang, Tirtayasa, Pontang, dan Tanara.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta Perumda Tirta Al Bantani terus menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak. Selain itu, berbagai langkah antisipasi juga disiapkan untuk menghadapi musim kemarau yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Para petani berharap hujan segera turun agar lahan persawahan kembali mendapat pasokan air dan dapat ditanami padi seperti biasanya. Hingga saat itu tiba, mereka memilih beradaptasi dengan menanam komoditas hortikultura agar lahan tetap produktif dan roda perekonomian keluarga terus berjalan.







