TANGSELXPRESS – Tuntutan pekerjaan yang tinggi sering membuat seseorang lupa beristirahat. Pesan yang terus berdatangan, target yang belum selesai, hingga rapat yang silih berganti membuat banyak orang melewatkan waktu makan, peregangan, bahkan sekadar berdiri dari kursi.
Kebiasaan bekerja tanpa jeda memang kerap dianggap sebagai bentuk produktivitas. Namun, tubuh memiliki batas kemampuan. Jika dilakukan terus-menerus, dampak bekerja tanpa istirahat dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental secara perlahan.
Mengapa Tubuh Membutuhkan Waktu Istirahat?
Tubuh memerlukan jeda untuk memulihkan tenaga dan mengurangi beban pada otot, mata, serta otak. Duduk dalam posisi yang sama terlalu lama dapat membuat otot bekerja secara statis, sementara mata membutuhkan perubahan fokus agar tidak cepat lelah.
Istirahat singkat bukan berarti malas bekerja. Sebaliknya, jeda dapat membantu menjaga konsentrasi dan meningkatkan kualitas pekerjaan. Penelitian pada pekerja administrasi menunjukkan bahwa jeda aktif mampu mengurangi waktu duduk, rasa kantuk, stres, hingga keluhan nyeri.
1. Memicu Kelelahan Fisik dan Mental
Bekerja tanpa henti dapat menguras energi tubuh sekaligus pikiran. Akibatnya, konsentrasi menurun, respons menjadi lebih lambat, dan risiko melakukan kesalahan meningkat.
Meski seseorang tetap berada di depan komputer, hal itu tidak selalu berarti produktivitasnya terjaga. Kelelahan justru dapat menurunkan kemampuan mengambil keputusan dan mengurangi ketelitian dalam bekerja.
Risiko ini semakin besar pada profesi yang membutuhkan tingkat kewaspadaan tinggi, seperti pengemudi, tenaga kesehatan, maupun operator mesin.
2. Menyebabkan Nyeri Leher, Bahu, dan Punggung
Duduk terlalu lama membuat leher, bahu, dan punggung bekerja dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Kondisi ini dapat memicu rasa pegal hingga nyeri, terutama jika posisi duduk tidak ergonomis.
Layar komputer yang terlalu rendah membuat leher terus menunduk, sementara kursi yang tidak sesuai dapat meningkatkan tekanan pada punggung bawah.
Berbagai kajian menunjukkan adanya hubungan antara kebiasaan duduk terlalu lama saat bekerja dengan meningkatnya keluhan nyeri pada leher, bahu, dan punggung bawah. Mengurangi durasi duduk diketahui dapat membantu menurunkan keluhan tersebut.
3. Mata Cepat Lelah dan Sakit Kepala
Menatap layar dalam waktu lama dapat menyebabkan mata terasa kering, perih, berat, bahkan pandangan menjadi kabur. Sebagian orang juga mengalami sakit kepala akibat kelelahan mata.
Untuk mengurangi keluhan tersebut, istirahatkan mata secara berkala dengan melihat objek yang lebih jauh, berkedip lebih sering, serta mengatur pencahayaan agar layar tidak terlalu menyilaukan.
Apabila keluhan tidak kunjung membaik, sebaiknya lakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan karena gejala tersebut juga dapat berkaitan dengan gangguan penglihatan lainnya.
4. Meningkatkan Stres dan Gangguan Emosi
Dampak bekerja tanpa jeda tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental. Pekerjaan yang terus berlangsung tanpa batas membuat otak selalu berada dalam kondisi siaga.
Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah marah, kehilangan motivasi, mengalami kecemasan, hingga sulit melepaskan pikiran dari pekerjaan meski jam kerja telah berakhir.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa jam kerja yang terlalu panjang berkaitan dengan meningkatnya risiko stres, gangguan tidur, depresi, kelelahan, dan kecemasan.
5. Menurunkan Kualitas Tidur
Membawa pekerjaan hingga larut malam membuat waktu pemulihan tubuh semakin berkurang. Pikiran yang masih dipenuhi target pekerjaan juga membuat seseorang sulit tidur dengan nyenyak.
Kurang tidur akan menciptakan siklus yang merugikan. Konsentrasi menurun keesokan harinya, emosi menjadi tidak stabil, dan pekerjaan terasa semakin berat.
Beberapa penelitian menemukan bahwa pengurangan jam kerja dapat membantu memperbaiki kualitas tidur sekaligus mengurangi tingkat stres.
6. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung dan Stroke
Jam kerja yang sangat panjang juga berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Buruh Internasional (ILO) menggunakan batas bekerja minimal 55 jam per minggu sebagai indikator paparan yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung iskemik dan stroke.
Analisis global memperkirakan sekitar 745 ribu kematian pada 2016 berkaitan dengan paparan jam kerja yang sangat panjang. Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang lembur pasti mengalami penyakit tersebut. Namun, risikonya tetap perlu menjadi perhatian.
Cara Mengurangi Dampak Bekerja Tanpa Istirahat
Mengurangi dampak bekerja tanpa jeda dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Berdirilah setiap 30 hingga 60 menit, berjalan sebentar, atau lakukan peregangan ringan untuk mengurangi ketegangan otot.
Gunakan waktu makan sebagai momen beristirahat tanpa mengerjakan pekerjaan lain. Selain itu, tetapkan batas waktu bekerja dan hindari memeriksa notifikasi pekerjaan setelah jam kerja selesai.
Perusahaan dan pimpinan juga memiliki peran penting dengan menetapkan target yang realistis, mengatur beban kerja sesuai kapasitas, serta menciptakan budaya kerja yang mendukung karyawan mengambil waktu istirahat tanpa stigma.
Jika muncul keluhan seperti nyeri yang berkepanjangan atau kelelahan berat, jangan abaikan. Segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan agar penyebabnya dapat diketahui lebih dini.
Bekerja keras memang penting, tetapi menjaga kesehatan tidak kalah penting. Istirahat singkat di sela aktivitas dapat membantu menjaga konsentrasi, meningkatkan produktivitas, sekaligus melindungi kesehatan tubuh dalam jangka panjang.







