PANTI Asuhan memiliki potensi besar dalam pemberdayaan ekonomi melalui penciptaan produk kreatif oleh anak-anak asuh. Namun,keterbatasan akses pasar dan minimnya pemahaman teknologi pemasaran menjadi hambatan utama dalam mengomersialkan produk tersebut.
Pengabdian dan pendampingan ini bertujuan untuk menerapkan strategi digital marketing sederhana guna meningkatkan volume penjualan produk karya anak panti asuhan. Metode yang digunakan adalah pendampingan partisipatif (Participatory Action Research) melalui tahapan standarisasi produk, pelatihan, pelatihan fotografi komersial berbasis ponsel, serta optimalisasi sociam commerce (WhatsApp Business dan Instagram). Keterampilan ini juga menjadi bekal kemandirian ekonomi bagi anak asuhan di masa depan.
PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi digital yang berlangsung secara eksponensial pada dekade terakhir telah mengubah lanskap pemasaran secara fundamental, baik di tingkat global maupun lokal. Laporan We Are Social dan Meltwater (2024) mencatat bahwa pengguna media sosial di Indonesia telah mencapai 167 juta orang atau setara 60,4% dari total populasi. Transformasi digital ini membawa konsekuensi ganda: di satu sisi membuka akses pasar yang lebih inklusif bagi pelaku usaha mikro, namun di sisi lain menciptakan tantangan bagi kelompok yang belum memiliki literasi digital memadai, khususnya lembaga sosial dan komunitas rentan. UNESCO dalam Education for All Global Monitoring Report (2023) menegaskan bahwa literasi digital merupakan kompetensi abad ke-21 yang wajib dimiliki setiap individu, setara dengan literasi membaca dan berhitung, guna memastikan keberlanjutan ekonomi dan kemandirian masyarakat.
Dalam konteks usaha produktif, UMKM dan lembaga sosial di Indonesia masih menunjukkan kesenjangan literasi digital yang signifikan. Data Kementerian Koperasi dan UKM (2023) menunjukkan bahwa baru 32,4% UMKM di Indonesia yang telah melakukan pemasaran secara digital, meskipun potensi pasar digital diproyeksikan mencapai Rp4.536 triliun pada tahun 2027. Kesenjangan ini semakin terlihat pada organisasi nirlaba seperti panti asuhan, yang umumnya memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan minimnya pendampingan teknis dalam memanfaatkan platform digital untuk pemasaran produk.
Yayasan Pembangunan Masyarakat Sejahtera yang berlokasi di Kedaung, Tangerang Selatan merupakan salah satu lembaga sosial yang aktif mengembangkan keterampilan anak asuh melalui produksi barang kreatif. Produk yang dihasilkan meliputi kerajinan kain perca, aksesoris rajut, lukisan, hiasan dinding, serta makanan ringan kemasan. Produk-produk tersebut memiliki nilai ekonomi dan nilai cerita yang tinggi, karena menjadi bagian dari proses pemberdayaan dan kemandirian anak. Namun, berdasarkan observasi awal tim pengabdi, pemasaran produk masih bersifat konvensional. Penjualan hanya mengandalkan bazar internal, titip jual di toko komunitas, dan relasi donatur tetap. Akibatnya, jangkauan pasar terbatas dan volume penjualan tidak stabil dari waktu ke waktu.
Rendahnya pemanfaatan digital marketing di kalangan panti asuhan juga dipengaruhi oleh minimnya pemahaman strategi konten dan pengelolaan media sosial. Penelitian Raharjo dkk. (2021) menemukan bahwa lembaga sosial mengalami kesulitan meningkatkan penjualan karena konten yang diunggah tidak konsisten, tidak memiliki narasi, dan belum memanfaatkan fitur komersial seperti Instagram Shop dan katalog WhatsApp Business. Padahal, konsumen digital saat ini cenderung mencari produk yang memiliki makna sosial. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2022 menunjukkan bahwa 89,7% pengguna internet berusia 13-18 tahun aktif menggunakan media sosial untuk mencari rekomendasi produk. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi produk kreatif anak panti untuk menembus pasar yang lebih luas.
Problematika penjualan produk kreatif anak panti asuhan menjadi perhatian khusus mengingat karakteristik produk yang memiliki nilai jual emosional dan sosial. Penelitian Kotler dan Armstrong (2018) menegaskan bahwa konsumen modern tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita dan nilai yang terkandung di dalamnya. Produk anak panti asuhan memenuhi kriteria tersebut, namun belum dikemas secara digital dengan baik. Tanpa pendampingan yang terstruktur, potensi tersebut tidak akan dapat dikonversi menjadi peningkatan volume penjualan.
Berdasarkan uraian di atas, diperlukan intervensi berupa pendampingan digital marketing sederhana yang bersifat aplikatif dan berkelanjutan. Pendampingan difokuskan pada empat aspek utama yaitu: 1) pembentukan identitas digital melalui akun media sosial yang representatif; 2) produksi konten dengan kerangka 3 pilar: proses, produk, dan cerita; 3) pemanfaatan fitur gratis seperti katalog WhatsApp Business; dan 4) strategi kolaborasi dengan komunitas lokal dan influencer mikro. Program ini bertujuan untuk meningkatkan volume penjualan produk kreatif anak Panti Asuhan Yayasan Pembangunan Masyarakat Sejahtera di Kedaung, Tangerang Selatan melalui perluasan jangkauan pasar digital, sekaligus membangun kemandirian panti dalam mengelola pemasaran secara mandiri.
METODE PELAKSANAAN
Pendampingan ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan anak-anak asuh dan pengurus Panti Asuhan YPMS tidak hanya sebagai objek, melainkan sebagai mitra aktif yang ikut merancang strategi pemasaran. Kegiatan dilaksanakan secara tatap muka langsung (field visit) pada hari Minggu, 26 April 2026, mulai pukul 10.00 hingga 14.00 WIB bertempat di aula Yayasan Panti Asuhan YPMS Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan.
Intervensi program dijalankan melalui empat tahapan taktis yang sistematis:
- Fase Diagnostik (FGD): Mengindetifikasi hambatan internal mitra terkait kualitas perangkat gawai, kestabilan jaringan internet panti, serta melacak sejauh mana pemahaman awal mereka mengenai fitur-fitur bisnisn pada media sosial.
- Fase Standarisasi dan Produksi Kreatif: Pelatihan pembuatan produk kerajinan tangan (gelang manik-manik) sebagai objek komoditas utama yang akan dijadikan bahan praktik pemasaran digital.
- Fase Pelatihan Visual dan Konten: Edukasi mengenai dasar fotografi komersial menggunakan kamera ponsel (smartphone-based photography) dengan memanfaatkan teknik pencahayaan alami (natural lighting), serta pengenalan alami desain Canva untuk Menyusun infografis promosi dan takariri (caption) penjualan.
- Fase Simulasi Operasional Tarapan: Praktik pembuatan katalog di platform WhatsApp Business, pengelolaan profil Instagram Business, serta metode simulasi interaksi (roleplay) dalam merespons pertanyaan pelanggan dan penanganan complain secara daring (online).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pemetaan awal pada fase dignostik, ditemukan bahwa anak-anak panti asuhan sebenarnya sudah akrab dengan media sosial, namun penggunaannya masih terbatas untuk kebutuhan hiburan personal, bukan produktif. Kendala teknis seperti keterbatasan gawai dengan kamera standar dan koneksi internet yang fluktuatif juga menjadi factor penghambat operasional pemasaran digital mereka selama ini.
Untuk mengurai problematika tersebut, tim pengabdi menyalurkan stimulus bahan baku serta mengadakan kelas insentif guna menghasilkan produk yang siap bersaing. Evaluasi dari setiaap tahapan program dijabarkan sebagai berikut:
- Penguatan Keterampilan Produksi Standarisasi Visual
Melalui sesi lokakarya, peserta dilatih membuat gelang manik-manik dengan kombinasi warna yang estetik. Setelah produk selesai diproduksi, tim langsung mendampingi teknik pengambilan foto makro menggunakan gawai pintar memanfaatkan latar belakang minimalis yang ada di panti. Hari ini membuktikan bahwa keteerbatasan alat pencahayaan studio dapat disiasati secara kreatif demi menghasilkan foto katalog yang bersih dan menarik minat beli.
- Rincian Anggaran Stimulus Penguatan Kapasitas Produksi dan Logistik PEDATI
- Bahan Baku Manik Gelang 5 Paket @27.500 Rp. 138.000
- Perlengkapan Acara & Dooprize 5 Paket @46.600 Rp. 233.000
- Konsumsi (Nasi Box & Snack) 38/20 @13.000/7.000 Rp.634.000
- Media Aribut (Banner & Plakat) 1/1 @60.000/70.000 Rp. 130.000
- Logistic & Transportasi Operasi Rp. 655.000
- Rekaputulasi Realisasi Dana Rp.1.790.000
(Sumber: Laporan Keuangan Internal Kelompok 1, 2026)
Keberhasilan Program pendampingan ini diukur melalui lembar evaluasi performa (checklist indicator) yang diisi oleh tim pengabdian selama sesi simulasi berlangsung. Berdasarkan rekapitulasi data, terjadi peningkatan kecakapan digital (digital skills) sebesar 85% pada aspek pembuatan desain konten promosi dan operasionalisasi akun niaga digital dibandingkan dengan kondisi sebelum dilakukannya intervensi program.
Peningkatan ini terlihat dari kemampuan mayoritas anak asuh yang awalnya canggung. Kini telah terampil mengunggah katalog produk orisinal buatan mereka ke etalase WhatsApp- Business secara mandiri.
Dampak positif dari program ini juga dialami langsung oleh pihak mitra panti asukan. Bapak Asma Albantani selaku Kepala Panti Aushan YPMS Kedang menyatakan “Kami sangat bersyukur dengan adanya pelatihan digital marketing PEDATI dari mahasiswa Universitas Pamulang Anak-anak panti tidak hanya diajarkan cara membuat kerajinan tangan gelang, tetapi juga dibekali ilmu berharga tentang cara mempromosikannya.”
- Optimalisasi Social Commerce dan Narasi Pemasaran
Peserta diarahkan untuk mengonversi akun Instagram biasa menjadi Intagram Business dan Menyusun fitur deskripsi took yang representative. Tim pengabdian menekankan strategi konten berbasis cerita (story-telling). Alih-alih hanya menggunggah foto produk dan harga, peserta diajarkan menyisipkan narasi mengenai proses pembuatan gelang oleh anak panti asuhan. Pendekatan ini selaras dengan teori Kotler dan Armstrong (2018) bahwa konsumen digital modern memiliki kecenderungan afeksi emosional yang tinggi terhadap produk-produk yang mengusung nilai sosial (social value).
- Simulasi Layanan Konsumen Berbasih Soft Skills
Pada tahap akhir, dilakukan simulasi interaksi langsung. Hasil pengamatan menunjukan adanya lonjakan kompetensi digital dan komunikasi personal (soft skills) dari para peserta. Mereka yang awalnya canggung kini lebih luwes dalam Menyusun kalimat sapaan digital formal, mengelola katalog etalase WhatsApp Business, serta menghitung estimasi biaya pengiriman barang secara cepat. Program ini tidak sekedar memberikan keahlian teknis sesaat, tetapi juga menginjeksi rasa percaya diri baru bagi anal-anak panti bahwa mereka mampu mandiri secara ekonomi kreativitas digital
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pelaksanaan program pendampingan “PEDATI” di Panti Asuhan YPMS Kedaung, Pamulang berhasil mencapai target yang diharapkan. Kegiatan ini mamou mengikis kesenjangan literasi digital pada anak asuh melalui penguasaan aplikasi desain canva, taktik fotografi komersial sederhana dengan ponsel, serta pemanfaatan fitur niaga pada platform Intagram dan WhatsApp Bisuness. Integrasi antara produk kreatif yang memiliki nilai emosional dengan pengemasan digital yang rapi terbukti efektif menjadi instrument awal dalam mendorong lemandirian ekonomi panti asuhan yang berklanjutan.
Saran
Guna menjaga keberlanjutan dampak program, disarankan bagi pengurus panti untuk melakukan pengawasan berkala terhadap konsistensi aktivitas unggahan konten di media sosial bisnis panti. Bagi akademis atau tim pengabdi selanjutnya, disarankan untuk memperluas jangkauan materi pada aspek manajemen keuangan digital (seperti penggunaan QRIS), teknik pembuatan konten video pendek (reels/TikTok), serta pengenalan ekosistem operasional di marketplace skala nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2022). Profil Internet Indonesia 2022. APJII.
Kotler, Philip, & Armstrong, Gary. (2018). Principles of Marketing (17th ed). Pearson.
Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia. (2023). Data UMKM Go Digital Tahun 2023. Kementerian Koperasi dan UKM RI.
Raharjo, dkk. (2021). Studi pemanfaatan digital marketing pada lembaga sosial.
UNESCO. (2023). Education for all global monitoring report 2023.
We Are Social, & Meltwater. (2024). Digital 2024: Indonesia.
Penulis:
Chika Nurbila Herawati
Siti Rahayu
Tera Febianti
Dosen Pembimbing Yusran Daeng Matta
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang







