SAYA sudah beberapa kali mengikuti workshop dan pelatihan Public Speaking. Pernah belajar di benua terbawah bumi, mengikuti pelatihan di Wisma Kompas Gramedia Puncak bersama pimpinan perusahaan, hingga trainer senior dari Amerika Serikat, bahkan mengikuti berbagai kelas yang dibawakan oleh para praktisi public speaking dan tokoh daerah maupun nasional.
Setiap pelatihan memiliki keunggulannya masing-masing. Namun, ada satu pengalaman yang paling membekas dalam ingatan saya.
Sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas yaitu PEMBIS (Pengusaha Menulis Buku Indonesia), sebuah komunitas yang kebetulan saya diberi amanah sebagai salah satu pembinanya bersama prof Asdar dan bang Maman. Kegiatan ini mendapat dukungan dan sponsor dari salah satu partai politik terbesar di Indonesia sebagai bentuk komitmen dalam mendorong lahirnya generasi muda yang berani berbicara, mampu menyampaikan gagasan dengan baik, serta percaya diri tampil di ruang publik.
Bagi saya, kolaborasi seperti ini yang diketuai Heny Suhaeny patut diapresiasi. Ketika berbagai elemen masyarakat bersama-sama mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, manfaatnya akan dirasakan jauh lebih luas oleh bangsa.
Yang menarik, pelatihan yang dibawakan Mr. Aca yang merupakan bagian dari Anhar Foundation ini tidak menggunakan slide presentasi sama sekali. Tidak ada teori yang membuat peserta mengantuk. Yang ada justru tawa, interaksi, latihan, dan suasana belajar yang menyenangkan.
Pematerinya, Mr. Aca, adalah contoh nyata bahwa kemampuan berbicara di depan umum bukanlah bakat bawaan. Beliau bercerita bahwa dahulu dirinya pernah gemetar saat harus tampil di depan banyak orang. Kini, beliau mampu membuat seluruh peserta terpukau, tertawa, dan memahami materi dengan sangat mudah tanpa merasa sedang digurui.
Dari pelatihan itulah saya mengenal metode sederhana yang sangat mudah diingat, yaitu BEST.
Bukan sekadar berarti “terbaik”, tetapi juga merupakan singkatan dari unsur-unsur penting dalam Public Speaking.
3B – Body Language (Bahasa Tubuh)
Sebelum kata-kata kita didengar, bahasa tubuh kita sudah lebih dahulu berbicara.
Berdirilah dengan tegap, berikan senyum yang tulus, sampaikan salam, dan sapalah audiens dengan hangat. Tunjukkan antusiasme dan energi positif. Audiens akan lebih mudah menerima pesan dari pembicara yang terlihat percaya diri daripada yang terlihat ragu dan malu.
Bahasa. Gunakan bahasa sesuai karakter audiens. Berbicara kepada akademisi tentu berbeda dengan berbicara kepada masyarakat umum. Semakin sederhana bahasa yang digunakan, semakin mudah pesan dipahami.
Blocking. Posisi tubuh dan pergerakan harus mendukung komunikasi. Jangan membelakangi audiens, jangan terpaku di satu titik, dan bergeraklah secara alami agar terhubung dengan seluruh audiens.
E – Emosi
Berbicara bukan sekadar menyampaikan informasi.
Gunakan emosi secara alami sesuai isi materi. Ada saatnya serius, ada saatnya tersenyum, ada saatnya penuh semangat. Variasi emosi membuat penyampaian terasa hidup dan jauh dari kesan monoton. Jadilah manusia yang jujur apa adanya, tanpa topeng, tanpa manipulasi sesaat.
S – Suara
Suara. Volume harus sesuai dengan jumlah audiens dan ukuran ruangan. Artikulasi harus jelas, intonasi bervariasi, dan tempo berbicara nyaman didengar.
T – Time Management
Pembicara yang baik bukan hanya mampu berbicara dengan menarik, tetapi juga mampu menghargai waktu.
Sesuaikan durasi dengan susunan acara. Jangan terlalu singkat hingga pesan tidak tersampaikan, dan jangan terlalu panjang hingga audiens kehilangan fokus. Ketepatan waktu adalah bentuk penghormatan kepada penyelenggara dan peserta.
Penutup
Pada akhirnya, Public Speaking bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara.
Public Speaking adalah tentang bagaimana membuat orang lain memahami, merasakan, dan mampu mengingat dengan mudah apa yang kita sampaikan.
Metode BEST mengajarkan bahwa keberhasilan berbicara di depan umum tidak ditentukan oleh banyaknya teori, tetapi oleh kemampuan menghadirkan diri dengan bahasa tubuh yang positif, emosi yang tepat, penyampaian yang efektif, serta pengelolaan waktu yang baik.
Semoga semakin banyak anak-anak muda Indonesia yang berani menyampaikan gagasan, menginspirasi lingkungannya, dan menjadi pemimpin masa depan melalui kemampuan berbicara yang baik dan benar.
Karena pembicara terbaik bukanlah yang paling banyak berbicara, tetapi yang paling mampu meninggalkan makna di hati para pendengarnya.
ASA | Asrul Sani Abu, S.E., M.M
Penulis buku, pengurus APINDO dan ALFI Sulselbar







