JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mempercepat rencana perpanjangan layanan kereta rel listrik (KRL) dari Cikarang menuju Cikampek. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas angkutan penumpang, mempercepat waktu perjalanan, sekaligus memenuhi tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat di kawasan Jabodetabek.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Allan Tandiono, mengatakan proses percepatan proyek elektrifikasi lintas Cikarang-Cikampek telah dibahas bersama PT Kereta Api Indonesia (KAI).
“Mengenai perpanjangan KRL Jabodetabek Cikarang menuju Cikampek, elektrifikasi ini kami sudah diskusi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI),” kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Allan Tandiono, dikutip Sabtu 28 Juni.
Menurut Allan, pemerintah kini tengah memperkuat koordinasi dengan PT KAI, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), serta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara) agar proyek tersebut dapat segera direalisasikan.
“Dan kita akan percepat segala sesuatu,” ucap Allan.
Ia menjelaskan, percepatan pembangunan dilakukan sebagai respons atas tingginya permintaan masyarakat yang menginginkan layanan KRL dengan akses langsung ke Jakarta, lebih nyaman, dan memiliki waktu tempuh yang lebih singkat.
Saat ini, operasional KRL Jabodetabek masih berakhir di Stasiun Cikarang. Penyebabnya, jalur Cikarang-Karawang hingga Karawang-Cikampek belum dilengkapi jaringan elektrifikasi yang menjadi syarat utama pengoperasian KRL.
Apabila pembangunan elektrifikasi rampung, masyarakat di wilayah Cikampek nantinya dapat menggunakan KRL langsung menuju Jakarta tanpa harus berganti moda transportasi, sehingga perjalanan menjadi lebih efisien.
“Kita akan dorong karena memang banyak masyarakat sekitar yang meminta pelayanan ini, karena diharapkan dengan adanya elektrifikasi dengan kereta rel listrik waktu tempuh dari rumah di sekitaran sana menuju tengah Kota Jakarta akan lebih cepat,” ucap Allan.
Selain proyek perpanjangan KRL menuju Cikampek, Kemenhub juga mempercepat peningkatan sistem elektrifikasi Green Line Tanah Abang-Rangkasbitung. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kepadatan penumpang yang terus meningkat, terutama pada jam sibuk.
“Seperti yang disampaikan oleh KAI, jam sibuk itu bahkan kapasitasnya (yang terisi) sampai 161 persen. Jadi ini memang isu yang perlu segera kita carikan solusinya,” kata dia.
Peningkatan sistem traksi listrik di lintas Green Line akan memungkinkan pengoperasian rangkaian KRL dengan formasi yang lebih panjang sehingga kapasitas angkut penumpang dapat bertambah secara signifikan.
Di sisi lain, pemerintah juga mempercepat pembangunan jalur double-double track (DDT) untuk memisahkan lintasan kereta jarak jauh dan KRL. Dengan pemisahan tersebut, operasional kedua layanan kereta diharapkan menjadi lebih lancar, aman, serta tepat waktu.
Keberadaan jalur terpisah juga diyakini mampu meningkatkan keandalan sistem perkeretaapian nasional sekaligus mendukung rencana pengembangan layanan KRL hingga Cikampek tanpa mengganggu perjalanan kereta antarkota yang menggunakan lintasan yang sama.







