PT Unilever Indonesia Tbk, pemilik merek-merek legendaris seperti Pepsodent, Sunsilk, Rinso, dan Wall’s, selama ini dikenal sebagai salah satu pilar paling kokoh di pasar saham Indonesia. Namun di balik reputasi itu, periode 2021 hingga 2023 menghadirkan gambaran yang jauh lebih kompleks: kinerja yang terus merosot, target yang meleset, dan kebijakan dividen yang mempertahankan kemewahan di tengah tekanan fundamental yang nyata.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Pendekatan Behavioral Corporate Finance menawarkan jawaban yang tak kalah menariknya dari sekadar angka laporan keuangan.
Angka-Angka yang Tak Bisa Diabaikan
Dalam tiga tahun berturut-turut, seluruh indikator profitabilitas utama Unilever Indonesia bergerak ke satu arah: turun. Pendapatan bersih yang pada 2022 sempat menyentuh Rp 41,5 triliun, jatuh ke Rp 38,6 triliun pada 2023, sebuah kontraksi hampir 7% dalam satu tahun. Laba bersih pun mengikuti pola yang sama, menyusut dari Rp 5,76 triliun pada 2021 menjadi hanya Rp 4,53 triliun pada 2023.
Yang lebih mencengangkan adalah angka belanja modal (capital expenditure) yang terus dialokasikan dengan ambisius di tengah tren penurunan tersebut. Pada 2021, manajemen menggelontorkan Rp 1,22 triliun untuk modernisasi fasilitas manufaktur, sebuah keputusan yang diambil justru ketika penurunan pendapatan sudah mulai terlihat.
Angka capex memang turun bertahap menjadi Rp 897 miliar pada 2022 dan Rp 712 miliar pada 2023, namun yang jauh lebih mencolok adalah jarak antara ambisi dan kenyataan: pada 2021, manajemen menargetkan pertumbuhan penjualan 5-7% namun realisasinya hanya 0,7%. Pada 2022, target 6-8% terpenuhi sebagian dengan pertumbuhan 5%, tetapi pada 2023, target positif 4-6% justru berbalik menjadi kontraksi hampir 7%.
Kesenjangan yang semakin melebar setiap tahunnya bukan sekadar kesalahan proyeksi teknis; ini adalah penanda dari sesuatu yang lebih dalam, yaitu pola pikir yang secara sistematis terlalu optimistis.
Tiga Bias yang Bermain di Balik Layar
Behavioral Corporate Finance mengajarkan bahwa manajer bukanlah robot kalkulasi yang murni rasional. Mereka adalah manusia yang rentan terhadap bias kognitif yang dapat mendistorsi keputusan keuangan, bahkan tanpa mereka sadari. Setidaknya tiga bias utama teridentifikasi dalam kasus Unilever Indonesia selama periode ini.
Pertama, overconfidence bias. Manajemen secara konsisten menetapkan target pertumbuhan yang jauh melampaui kemampuan perusahaan untuk merealisasikannya. Dalam setiap surat kepada pemegang saham, frasa-frasa seperti ‘pemulihan yang menjanjikan’ dan ‘momentum pertumbuhan yang positif’ terus diulang, bahkan ketika realita pasar berbicara sebaliknya. Keputusan mempertahankan portofolio merek yang luas tanpa rasionalisasi signifikan, meskipun beberapa kategori produk mencatatkan pertumbuhan negatif, juga mencerminkan keyakinan berlebih bahwa situasi akan membaik dengan sendirinya.
Kedua, herding behavior dalam keputusan pendanaan. Sebagai anak perusahaan Unilever Global, PT Unilever Indonesia Tbk cenderung mengadopsi template struktur permodalan yang ditetapkan induk, yaitu pendekatan konservatif dengan ketergantungan minimal pada utang jangka panjang. Dalam teori, ini terlihat prudent. Namun dalam konteks spesifik pasar Indonesia, mengikuti ‘template global’ tanpa mempertimbangkan kebutuhan lokal yang berbeda bisa menjadi bentuk herding: meniru tanpa adaptasi, demi menjaga konsistensi dengan keputusan yang dianggap aman secara reputasional.
Ketiga, dan yang paling kuat buktinya, adalah status quo bias dalam kebijakan dividen. Meskipun laba bersih terus menyusut, manajemen mempertahankan dividend payout ratio yang luar biasa tinggi: 96,6% pada 2021, lalu naik ke 100% pada 2022 dan 2023. Artinya, seluruh keuntungan yang dihasilkan perusahaan didistribusikan habis kepada pemegang saham, tanpa sisa untuk reinvestasi.
Angka-angkanya berbicara sendiri. Pada 2021, dari laba bersih Rp 5,76 triliun, sebesar Rp 5,56 triliun dibagikan sebagai dividen, setara dengan payout ratio 96,6%. Pada 2022 dan 2023, rasio itu mencapai tepat 100%; seluruh laba habis didistribusikan, tanpa satu rupiah pun yang ditahan untuk pengembangan bisnis.
Dividen per saham memang turun bertahap dari Rp 144 pada 2021 menjadi Rp 113 pada 2023, namun porsi yang didistribusikan tidak beranjak. Dari perspektif behavioral, ini adalah kombinasi yang berisiko: status quo bias yang enggan mengubah kebijakan dividen yang sudah lama dijalankan berpadu dengan loss aversion, yakni ketakutan akan reaksi negatif pasar jika dividen dipotong lebih agresif, serta catering theory yang mendorong manajemen memenuhi selera investor akan dividen tunai tinggi, terlepas dari kelayakan fundamentalnya. Perusahaan sedang dalam tekanan bisnis yang nyata, namun bertindak seolah kondisi baik-baik saja.
Apa yang Bisa Dipetik?
Kasus Unilever Indonesia bukan soal perusahaan yang salah kelola secara kasar. Ini adalah cermin dari bagaimana bias-bias halus yang bahkan sulit dideteksi dari dalam organisasi itu sendiri, dapat secara kolektif menggeser kualitas pengambilan keputusan keuangan korporat ke arah yang tidak optimal.
Pandemi COVID-19 yang masih berlanjut di 2021, pergeseran perilaku konsumen menuju produk lokal yang lebih terjangkau, serta disrupsi e-commerce menciptakan lingkungan yang penuh ketidakpastian. Dan justru dalam kondisi inilah, sebagaimana diargumentasikan oleh Thaler dan Sunstein, bias kognitif cenderung semakin menguat. Ketika situasi tidak menentu, manusia, termasuk manajer korporat sekalipun, cenderung berpegangan pada yang sudah dikenal: melanjutkan investasi yang sedang berjalan, mempertahankan kebijakan dividen historis, dan mengulang narasi optimisme meskipun data berbicara lain.
Pelajarannya bukan berarti optimisme itu salah atau bahwa dividen tinggi selalu buruk. Tetapi ketika keyakinan manajerial tidak dikalibrasi dengan mekanisme pengecekan yang kuat (tim analis independen, pre-mortem analysis, dewan komisaris yang aktif), maka bias akan diam-diam mengambil alih kemudi. Dalam keuangan korporat, keputusan yang terlihat ‘aman’ di permukaan bisa menjadi pilihan yang paling berisiko dalam jangka panjang.
Behavioral Corporate Finance mengingatkan kita: angka dan psikologi selalu berjalan beriringan. Investor, regulator, maupun manajemen perusahaan yang memahami dinamika ini akan membuat keputusan yang lebih jernih dan lebih berkelanjutan.
Daftar Pustaka
PT Unilever Indonesia Tbk. (2021). Laporan Tahunan 2021. Jakarta: PT Unilever Indonesia Tbk.
PT Unilever Indonesia Tbk. (2022). Laporan Tahunan 2022. Jakarta: PT Unilever Indonesia Tbk.
PT Unilever Indonesia Tbk. (2023). Laporan Tahunan 2023. Jakarta: PT Unilever Indonesia Tbk.
Penulis:
Komaruddin
Elvrida Elisabeth
Kayla Nazwa Syabila
Siti Khairunnisa
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang







