SERANG– Berkebun dari rumah ternyata tidak harus membutuhkan lahan luas maupun biaya besar. Dengan memanfaatkan botol dan galon bekas, kegiatan bercocok tanam dapat dilakukan secara praktis, hemat air, serta minim penggunaan listrik.
Cara ini dipraktikkan oleh Rinon Agus Wijanarko, seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Provinsi Banten. Melalui metode yang sederhana, ia berhasil menghasilkan berbagai sayuran segar langsung dari rumahnya sendiri.
Menurut Rinon, berkebun di rumah bukan hanya soal menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi sarana melepas penat di tengah rutinitas pekerjaan.
“Berkebun dari rumah menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi rasa lelah dan penat setelah aktivitas bekerja,” ujarnya.
Beragam jenis tanaman dapat dibudidayakan di pekarangan rumah, mulai dari sayuran, tanaman herbal, hingga tanaman hortikultura.
Untuk kelompok sayuran, jenis yang bisa ditanam antara lain pakcoy, sawi, selada air, bayam, dan kangkung.
Sementara tanaman herbal meliputi kemangi, kucai, jahe, kunyit, ketumbar, mint, hingga daun bawang. Sedangkan tanaman hortikultura yang dapat dibudidayakan antara lain stroberi, melon, timun, kacang panjang, tomat ceri, paprika, terong, dan cabai.
Semi Hidroponik Jadi Solusi Lahan Sempit
Rinon menggunakan metode semi hidroponik atau irigasi kapiler. Teknik ini memadukan media tanam berpori seperti tanah dan sekam dengan nutrisi cair yang diserap menggunakan sumbu kain flanel.
Metode tersebut dinilai cocok diterapkan bagi masyarakat yang memiliki lahan terbatas karena tidak membutuhkan instalasi rumit maupun penggunaan listrik dalam jumlah besar.
Dalam penerapannya, Rinon membagi proses berkebun ke dalam beberapa tahapan agar lebih terukur dan efisien.
Tahap pertama dimulai dengan menyiapkan media tanam menggunakan campuran tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang kambing dengan komposisi 1:1:1. Galon bekas yang digunakan juga diberi lubang pembuangan agar air tidak menggenang saat hujan.
Untuk nutrisi, ia memanfaatkan larutan AB Mix dengan takaran 5 mililiter untuk 500 mililiter air.
Selanjutnya, benih disemai dalam wadah bekas hingga berkecambah selama sekitar tiga hingga tujuh hari. Setelah tumbuh, bibit dipindahkan ke media utama dengan hati-hati agar akar tidak rusak.
Dalam proses perawatan, Rinon rutin memberikan pupuk cair, termasuk pupuk organik yang dibuat dari limbah dapur. Ia juga menggunakan pestisida alami berbahan air sabun atau bawang putih untuk mengendalikan hama tanpa bahan kimia.
Menurutnya, momen panen menjadi bagian paling memuaskan karena hasil sayuran dari kebun sendiri cenderung lebih segar, renyah, dan bebas pestisida kimia.
“Berkebun bukan hanya soal kebutuhan pangan, tetapi juga menyangkut kesehatan mental, kemandirian pangan, dan kepedulian terhadap lingkungan,” katanya.
Dengan memanfaatkan barang bekas di sekitar rumah, siapa pun dapat mulai berkebun dan ikut berkontribusi menjaga ketahanan pangan keluarga sekaligus menghijaukan lingkungan.







