JAKARTA – Menteri Luar Negeri Sugiono mengaku pemerintah masih mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan tentara Israel saat mengikuti misi kemanusiaan internasional menuju Gaza, Palestina.
“Sejauh ini, informasi yang kita terima itu masih sulit karena komunikasi yang terbatas,” kata Sugiono kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 20 Mei.
Sugiono mengatakan pemerintah terus melakukan berbagai upaya koordinasi guna mengetahui kondisi para WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Freedom Flotilla tersebut. Pemerintah juga menjalin komunikasi melalui Kementerian Luar Negeri Jordania dan Turki.
Namun hingga kini, keberadaan sembilan WNI tersebut masih belum diketahui secara pasti.
“Kami juga terus melakukan upaya koordinasi karena kita tidak punya hubungan langsung,” katanya.
“Jadi kita minta tolong kepada teman-teman kita yang pertama mengalami nasib serupa juga dari warga negaranya, kemudian dari teman-teman yang ada di Yordania dan Turki,” imbuhnya.
Meski komunikasi masih terbatas, Sugiono berharap seluruh WNI yang ikut dalam misi kemanusiaan tersebut dapat segera dibebaskan dan kembali ke Indonesia dalam kondisi selamat.
“Kita doakan semoga mereka kondisinya baik-baik saja dan bisa segera kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat,” ujarnya.
Sebelumnya, militer Israel mencegat armada kemanusiaan yang sedang menuju Gaza di perairan internasional dekat Siprus pada Senin (18/5/2026). Dalam misi tersebut terdapat sembilan WNI yang ikut serta.
Lima WNI yang lebih dulu dikabarkan ditahan ialah Andi Angga Prasadewa dari GPCI-Rumah Zakat, Bambang Noroyono atau Abeng dari Republika, Thoudy Badai yang merupakan jurnalis foto Republika, Andre Prasetyo dari TV Tempo, serta jurnalis iNews Heru Rahendro.
Belakangan, empat WNI lainnya yang sebelumnya berada di kapal juga turut ditahan. Mereka adalah Asad Aras, Hendro Prasetyo, Herman Budianto, dan Ronggo Wirsanu.







