STUDI ini mengeksplorasi tren kualitatif dalam dinamika pasokan beras nasional, mengevaluasi dampak fluktuasi cuaca dan kenaikan biaya terhadap produksi dan penetapan harga, serta merekomendasikan kebijakan untuk mendorong stabilitas. Dengan menggunakan metodologi deskriptif-analitis kualitatif, penelitian ini mensintesis data sekunder tentang tren produksi beras, pola iklim, dan struktur biaya dari laporan pertanian resmi dan catatan iklim.
Temuan menunjukkan fluktuasi produksi yang signifikan yang berasal dari cuaca yang tidak menentu, termasuk kekeringan berkepanjangan yang terkait dengan peristiwa El Niño, yang mengurangi hasil panen di wilayah utama seperti Jawa dan Sumatera, memperparah kekurangan pasokan dan ketergantungan pada impor.
Kenaikan biaya, terutama untuk pupuk dan tenaga kerja, membebani petani, meningkatkan harga di tingkat petani, memperlebar kesenjangan penawaran dan permintaan, dan meningkatkan volatilitas harga yang merusak keseimbangan pasar. Dinamika ini mengikis pendapatan petani, meningkatkan pengeluaran konsumen, dan mengekspos kerentanan sektor ini terhadap guncangan eksternal.
Kesimpulannya, langkah-langkah kebijakan komprehensif seperti subsidi untuk benih tahan iklim, inisiatif pengurangan biaya, dan cadangan beras strategis sangat penting untuk membangun ketahanan produksi, mengekang impor, menstabilkan harga, dan mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.
PENDAHULUAN
Beras merupakan komoditas pangan strategis di Indonesia yang memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Sebagai makanan pokok mayoritas penduduk di Indonesia, stabilitas ketersediaan dan harga beras menjadi perhatian utama pemerintah dan masyarakat. Ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan beras dapat memicu gejolak ekonomi, seperti inflasi dan penurunan daya beli masyarakat, sehingga pengelolaan sektor perberasan menjadi sangat penting dalam perekonomian nasional (Mankiw; Sukirno).
Dalam ekonomi mikro, penawaran beras dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain tingkat produksi, biaya produksi, teknologi pertanian, serta kondisi alam. Menurut N. Gregory Mankiw, penawaran suatu barang ditentukan oleh harga input, teknologi, dan kondisi eksternal lainnya. Salah satu faktor yang semakin mendapat perhatian adalah perubahan cuaca akibat fenomena perubahan iklim.
Perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, serta kejadian cuaca ekstrem seperti kekeringan dan banjir telah memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas pertanian, khususnya tanaman padi (Prosiding STIS, 2025). Kondisi ini berpotensi menurunkan hasil panen dan pada akhirnya mengurangi jumlah penawaran beras di pasar.
Selain faktor cuaca, biaya produksi juga menjadi determinan penting dalam menentukan tingkat penawaran beras. Kenaikan harga input produksi seperti pupuk, benih, dan tenaga kerja dapat menekan keuntungan petani, sehingga berpengaruh terhadap keputusan produksi.
Menurut Sadono Sukirno pada Mikroekonomi Teori Pengantar, peningkatan biaya produksi akan menyebabkan penurunan jumlah barang yang ditawarkan pada setiap tingkat harga. Apabila biaya produksi meningkat tanpa diimbangi dengan kenaikan harga jual yang memadai, petani cenderung mengurangi luas tanam atau intensitas produksi, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan penawaran beras. Perubahan pada sisi penawaran, baik akibat faktor cuaca maupun biaya produksi, akan memengaruhi keseimbangan pasar beras.
Dalam mekanisme pasar, pergeseran kurva penawaran dapat menyebabkan perubahan harga dan kuantitas keseimbangan. Menurut Boediono, Ekonomi Mikro, keseimbangan pasar tercapai ketika jumlah yang ditawarkan sama dengan jumlah yang diminta. Ketika penawaran menurun sementara permintaan relatif tetap, harga beras cenderung meningkat, yang dapat membebani konsumen. Sebaliknya, peningkatan penawaran dapat menekan harga, namun berpotensi merugikan petani apabila tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat.
Bedasarkan data Badan Pangan Nasional, Indonesia menetapkan target pengadaan gabah atau setara beras untuk penguatan stok Cadangan beras pemerintah dari tahun 2026-2029. Dimana setiap harga pembeliaan pemerintah gabah kering panen ditetapkan di harga Rp. 6.500 per kilogram dengan kualitas yang telah memasuki usia panen di Tingkat petani.
Untuk memastikan harga gabah petani yang terjaga Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan rata-rata harga pembelian gabah sepanjang tahun 2025, tidak pernah yang mengalami harga di bawah Rp 6.500 per kg. BPS mencatat harga paling rendah terjadi di April 2025 dengan rerata Rp 6.712 per kg. Sementara itu rata-rata harga pembelian gabah selama setahun di 2025 berada di level Rp 7.081 per kg. Data ini merupakan hasil Survei Harga Produsen Beras di Penggilingan 2025 yang dilaksanakan BPS secara kontinyu.
Namun dengan isu fenomena saat ini produksi beras Indonesua terancam turun dan berpotensi harga naik yang disebabkan oleh perubahan cuaca EL Nino. Dimana perubahana cuaca ini sangat mempengaruhi pada hasil produksi dan kualitas dari gabah. Dengan imbasnya dari El Nino ini Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras sepanjang Januari–Mei 2026 diperkirakan mencapai 16,57 juta ton, turun sekitar 0,38 juta ton atau 2,22% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Koreksi ini terjadi meskipun pada awal tahun sempat terlihat adanya peningkatan produksi.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam laporan perkembangan iklim terbarunya memperkirakan peluang berkembangnya fenomena El Niño pada semester kedua tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua 2026.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penawaran beras nasional serta mengkaji dampak perubahan cuaca dan biaya produksi terhadap keseimbangan pasar. Dengan memahami hubungan antara faktor-faktor tersebut, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang komprehensif sebagai dasar dalam perumusan kebijakan yang efektif guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras di Indonesia.
TINJAUAN TEORI
Dalam (supply) diartikan ilmu ekonomi kesediaan penawaran penjual untuk menjual/menyerahkan berbagai jumlah barang pada berbagai tingkat harga dalam waktu tertentu dan keadaan tertentu. Menurut Sadono Sukirno pada Mikroekonomi Teori Pengantar, peningkatan biaya produksi akan menyebabkan penurunan jumlah barang yang ditawarkan pada setiap tingkat harga.
Penawaran dapat dipengaruhi, mencakup harga barang itu sendiri, harga barang lain, biaya produksi, teknologi, tujuan perusahaan, dan kebijakan pemerintah. Faktor utama adalah harga, di mana kenaikan harga mendorong produsen meningkatkan jumlah barang yang ditawarkan oleh beberapa faktor yaitu biaya produksi dan teknologi yang digunakan.
Menurut A. Prasetyo, 2023, Penawaran dapat berdampak terhadap perubahan harga di pasar. Harga cenderung bergerak menuju titik keseimbangan pasar, yaitu saat harga yang diharapkan oleh pembeli sejalan dengan harga yang ditetapkan oleh penjual, melalui interaksi antara permintaan dan penawaran inilah yang membentuk keseimbangan pasar. Pada titik ini, pasar berada dalam kondisi yang stabil, di mana tidak terjadi kelebihan atau kekurangan barang secara signifikan.
Menurut Boediono, Ekonomi Mikro, keseimbangan pasar tercapai ketika jumlah yang ditawarkan sama dengan jumlah yang diminta. Ketika penawaran menurun sementara permintaan relatif tetap, harga beras cenderung meningkat, yang dapat membebani konsumen. Sebaliknya, peningkatan penawaran dapat menekan harga, namun berpotensi merugikan petani apabila tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analitik. Dalam penelitian ini sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder diperoleh dari sumber-sumber yang sudah ada, seperti publikasi resmi dari pemerintah, Lembaga penelitian dan media massa. Data yang digunakan meliputi harga beras dan harga gabah, kebijakan pemerintah terhadap penawaran harga serta informasi yang relevan lainnya.
Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan dekriptif analitik dipilih sebagai metode yang sesuai dengan judu penelitian yang diambil yaitu “Analisis Penawaran Beras Nasional dan Dampak Perubahan Cuaca dan Biaya Produksi Terhadap Keseimbangan Pasar”. Melalui pendekatan ini, peneliti diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam ranah akademis maupun praktis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil analisis menunjukkan bahwa penawaran beras nasional di Indonesia bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh kondisi produksi, iklim, serta biaya produksi. Pada tahun 2025, produksi beras nasional tercatat sekitar 34,69 juta ton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 30,62 juta ton. Peningkatan ini didukung oleh produksi padi sebesar 60,21 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dengan luas panen sekitar 11,32 juta hektare. Secara teoritis, peningkatan produksi ini mencerminkan bertambahnya penawaran di pasar yang seharusnya mampu menjaga stabilitas harga beras.
Namun, kondisi produksi tersebut tidak sepenuhnya stabil karena sangat dipengaruhi oleh faktor iklim. Berdasarkan kondisi tahun 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam fase ENSO netral, yang berarti tidak terjadi El Niño atau La Niña yang kuat. Meskipun demikian, terdapat ketidakmerataan distribusi curah hujan antarwilayah, di mana sebagian wilayah mengalami keterlambatan musim hujan, sementara wilayah lainnya menghadapi kekeringan lokal. Kondisi ini menyebabkan ketidakpastian dalam aktivitas pertanian, khususnya dalam menentukan waktu tanam dan pengelolaan lahan.
Dampak kondisi iklim tahun 2025 terhadap produksi padi dapat dirinci sebagai berikut:
- Keterlambatan musim tanam, sehingga siklus produksi menjadi tidak optimal.
- Penurunan produktivitas lahan, terutama di daerah yang mengalami kekeringan
- Risiko gagal panen parsial, akibat kekurangan air pada fase pertumbuhan tanaman.
- Ketimpangan produksi antarwilayah, yang menyebabkan distribusi pasokan tidak merata.
Ketidakseimbangan produksi tersebut berdampak langsung pada penawaran beras di pasar. Ketika produksi menurun di beberapa wilayah, jumlah beras yang tersedia menjadi berkurang. Dalam konsep ekonomi, kondisi ini menyebabkan penawaran menurun, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga apabila permintaan tetap. Dengan demikian, meskipun produksi nasional meningkat, gangguan di tingkat regional tetap dapat memengaruhi stabilitas harga beras secara keseluruhan.
Selain faktor iklim, biaya produksi juga menjadi faktor penting yang memengaruhi penawaran. Kenaikan harga input seperti pupuk, benih, tenaga kerja, dan biaya distribusi menyebabkan meningkatnya biaya produksi yang harus ditanggung petani. Kondisi ini menurunkan tingkat keuntungan sehingga petani cenderung mengurangi produksi. Dampak dari kenaikan biaya produksi dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Pengurangan penggunaan input pertanian, yang menurunkan hasil panen
- Penurunan luas lahan tanam, akibat keterbatasan modal
- Menurunnya insentif produksi, karena keuntungan yang semakin kecil
- Berkurangnya jumlah beras yang ditawarkan di pasar
Sehingga dampak yang lebih besar terjadi ketika faktor iklim dan biaya produksi meningkat secara bersamaan. Dalam kondisi kekeringan, petani tidak hanya mengalami penurunan hasil panen, tetapi juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk irigasi. Kombinasi ini menimbulkan tekanan ganda terhadap produksi dan penawaran. Adapun dampak gabungan tersebut meliputi:
- Penurunan produksi secara signifikan
- Peningkatan biaya produksi per unit
- Penurunan penawaran beras secara tajam
- Kenaikan harga beras yang lebih tinggi di pasar
Dalam menghadapi kondisi tersebut, pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasar melalui penguatan cadangan beras nasional. Melalui kebijakan yang dikelola oleh Badan Pangan Nasional, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai sekitar 4,9 juta ton. Cadangan ini berfungsi sebagai alat intervensi ketika terjadi kekurangan pasokan di pasar. Dengan menambah jumlah beras yang tersedia, pemerintah dapat menekan kenaikan harga dan menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan.
Dengan ini dapat disimpulkan bahwa keseimbangan pasar beras nasional sangat dipengaruhi oleh faktor penawaran, khususnya produksi, kondisi iklim, dan biaya produksi. Meskipun kondisi iklim tahun 2025 relatif normal, ketidakmerataan curah hujan dan potensi kekeringan tetap menjadi faktor risiko yang dapat mengganggu produksi. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang terintegrasi untuk meningkatkan ketahanan produksi, mengendalikan biaya, serta memperkuat kebijakan cadangan pangan guna menjaga stabilitas pasar beras di Indonesia.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa penawaran beras nasional di Indonesia sangat dipengaruhi oleh faktor produksi, kondisi iklim, dan biaya produksi yang saling berinteraksi. Pada tahun 2025 produksi beras nasional menunjukkan peningkatan, stabilitas penawaran tidak sepenuhnya terjamin karena adanya ketidakmerataan kondisi iklim antarwilayah. Dengan curah hujan, seperti keterlambatan musim hujan dan potensi kekeringan lokal, menyebabkan ketidakpastian dalam pola tanam dan berdampak pada produktivitas padi di beberapa daerah.
Penurunan produksi di tingkat regional terbukti memiliki dampak langsung terhadap penawaran beras di pasar. Dalam kondisi permintaan yang relatif stabil, berkurangnya pasokan menyebabkan kenaikan harga beras. Selain itu, kenaikan biaya produksi seperti harga pupuk, tenaga kerja, dan distribusi turut memperburuk kondisi penawaran karena menurunkan insentif petani untuk meningkatkan produksi. Interaksi antara gangguan iklim dan peningkatan biaya produksi menciptakan tekanan ganda yang dapat menyebabkan penurunan penawaran secara signifikan. Dengan hal ini kebijakan pemerintah sangat penting dalam menjaga kestabilan pasar dan Cadangan beras nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pangan Nasional. (2026) Pemerintah Rilis Inpres Nomor 4 Tahun 2026, Perkokoh Baluwarti Cadangan Beras Pemerintah. https://badanpangan.go.id/blog/post/pemerintah-rilis-inpres-nomor-4-tahun-2026-perkokoh-baluwarti-cadangan-beras-pemerintah
Badan Pusat Statistik (BPS). (2026). Luas panen padi pada tahun 2025 mencapai sekitar 11,32 juta hektare dengan produksi padi sebanyak 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG). https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/02/02/2545/luas-panen-padi-pada-tahun-2025-mencapai-sekitar-11-32-juta-hektare-dengan-produksi-padi-sebanyak-60-21-juta-ton-gabah-kering-giling–gkg-.html
Boediono. (2014). Ekonomi Mikro. BPFE.
Jurnal Mimbar Agribisnis. (2026). Faktor-faktor yang memengaruhi harga beras.
https://jurnal.unigal.ac.id/mimbaragribisnis/article/download/21765/pdf
Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2026). BPS Rilis Angka Tetap Produksi Beras 2025 Capai 34,69 Juta Ton, Naik 13,29 Persen. https://www.pertanian.go.id/?show=news&act=view&id=7517
Mankiw, N. G. (2021). Principles of Economics. Cengage Learning.
Prosiding STIS. (2025). Dampak Perubahan Iklim terhadap Produksi Padi.
https://prosiding.stis.ac.id/index.php/semnasoffstat/article/download/1994/564
Rika Anggraeni. Bisnis.com. Produksi Beras RI Terancam Turun, Harga Berpotensi Naik Imbas El Nino https://ekonomi.bisnis.com/read/20260407/12/1964453/produksi-beras-ri-terancam-turun-harga-berpotensi-naik-imbas-el-nino#goog_rewarded
Sukirno, S. (2016). Mikroekonomi Teori Pengantar. Rajawali Pers.
Usep Sudrajat, SE., MM., & Suwaji, SE., MM. (2017). Buku Ajar Ekonomi Manajerial. Yogyakarta: Deepublish.
Penulis:
Ainun Niswati
Alfin Safila
Siti Khairunnisa
Mahasiswa Program Studi Manajemen Keuangan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univesitas Pamulang, Kota Tangerang Selatan







