TANGERANG SELATAN – Bagi banyak orang, khususnya penderita diabetes maupun pradiabetes, mengurangi asupan gula tidak selalu berarti harus sepenuhnya meninggalkan rasa manis. Kini tersedia berbagai pemanis alami yang diklaim lebih ramah terhadap kadar gula darah, termasuk stevia dan agave yang kerap dibandingkan satu sama lain.
Pertanyaannya, mana yang lebih baik untuk membantu menjaga gula darah tetap stabil? Para ahli menyebut jawabannya bergantung pada kebutuhan tubuh, selera, serta tujuan kesehatan masing-masing individu.
Stevia merupakan pemanis alami tanpa kalori yang berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana. Karena tidak mengandung gula dan hampir tidak memengaruhi kadar glukosa darah, stevia banyak dipilih oleh penderita diabetes.
Sementara itu, agave atau nektar agave berasal dari tanaman agave dan memiliki rasa lebih manis dibandingkan gula pasir. Pemanis ini juga dikenal mempunyai indeks glikemik (GI) yang lebih rendah.
Ahli gizi terdaftar, Courtney Pelitera, menjelaskan agave dapat menjadi alternatif bagi orang yang ingin mengurangi lonjakan gula darah.
“Agave memiliki skor indeks glikemik yang sangat rendah, rata-rata sekitar 20, yang berarti dicerna lebih lambat dibandingkan gula pasir dan memiliki dampak lebih kecil terhadap gula darah,” ujar Courtney Pelitera, dikutip dari Prevention.
Sebagai perbandingan, gula pasir memiliki indeks glikemik sekitar 80 sehingga lebih cepat diproses tubuh dan lebih mudah memicu kenaikan kadar gula darah.
Salah satu alasan agave dianggap lebih bersahabat terhadap gula darah adalah kandungan fruktosanya yang tinggi. Agave diketahui mengandung sekitar 80 persen fruktosa dan 20 persen glukosa, sedangkan gula pasir umumnya terdiri dari 50 persen fruktosa dan 50 persen glukosa.
Dokter spesialis endokrinologi, Ankit Shah, menjelaskan kandungan fruktosa yang tinggi membuat respons gula darah tidak melonjak secepat gula biasa.
“Molekul fruktosa terlebih dahulu harus dimetabolisme di hati, yang membantu mengurangi lonjakan kadar glukosa darah,” jelas Ankit Shah.
Meski memiliki indeks glikemik rendah, bukan berarti agave bisa dikonsumsi tanpa batas. Fruktosa dalam jumlah berlebihan tetap berpotensi memberikan dampak buruk bagi metabolisme tubuh jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang.
Di sisi lain, stevia menawarkan keuntungan berbeda karena tidak mengandung kalori maupun gula sehingga praktis tidak meningkatkan kadar glukosa darah.
Courtney Pelitera juga merekomendasikan stevia sebagai pilihan bagi orang yang benar-benar ingin menghindari tambahan gula.
“Stevia adalah pemanis alami tanpa kalori yang telah dikaitkan dengan penurunan kadar glukosa darah pada penderita diabetes dan tekanan darah tinggi,” bebernya.
Meski demikian, stevia juga memiliki kekurangan yang mungkin tidak cocok untuk semua orang. Sebagian pengguna mengeluhkan rasa akhir yang sedikit pahit atau menyerupai herbal. Pada beberapa kasus, stevia juga dapat memicu gangguan pencernaan ringan.
Jika fokus utama adalah menjaga gula darah tetap stabil, stevia dinilai lebih unggul karena tidak mengandung gula maupun kalori serta hampir tidak memengaruhi kadar glukosa darah.
Namun, bagi orang yang menginginkan pemanis alami dengan rasa yang lebih mendekati gula biasa untuk campuran minuman atau bahan kue, agave bisa menjadi alternatif selama digunakan dalam jumlah terbatas.
Ankit Shah menegaskan tidak ada satu jenis pemanis yang otomatis paling sehat dibandingkan lainnya.
“Yang terbaik adalah membatasi jumlah gula tambahan jika seseorang menderita diabetes atau pradiabetes,” imbuhnya.
“Pada akhirnya, pilihan sebaiknya disesuaikan dengan selera pribadi dan bagaimana seseorang menggunakannya dalam jumlah yang tidak berlebihan,” lanjut Ankit Shah.







