Catatan Harian ASA
KEMARIN, setelah otot lelah dari perjalanan Trans Jawa Bali selama 2 minggu dan lanjut aktivitas ekspor selama 4 hari berturut-turut dalam kondisi kurang istirahat, tubuh mulai memberi tanda.
Awalnya hanya flu dan batuk biasa.
Tetapi saat tubuh benar-benar lelah, tiba-tiba saya batuk cukup keras… dan mendadak otot punggung belakang bawah langsung kejang.
Saat itu juga saya tak bisa duduk.
Tak bisa berdiri normal.
Tak bisa berjalan beberapa jam.
Kalaupun bergerak, hanya bisa merangkak pelan sambil menahan rasa sakit yang sangat.
Di momen seperti itu, manusia baru sadar…
bahwa tubuh yang selama ini dipakai bekerja tanpa henti ternyata punya batas.
Karena rasa sakitnya sudah sangat luar biasa, saya langsung ke dokter untuk diperiksa.
Setelah melihat kondisi tubuh dan keluhan yang saya alami, saya dirujuk ke dokter ortopedi, dr. Arman Bausat.
Beliau memeriksa kondisi tubuh secara menyeluruh.
Mulai dari posisi duduk, gerakan kaki, refleks saraf, hingga titik nyeri di bagian punggung bawah.
Lalu beliau menyarankan agar dilakukan MRI untuk melihat kondisi otot, saraf, dan tulang belakang secara lebih detail.
MRI sendiri adalah singkatan dari Magnetic Resonance Imaging.
Yaitu teknologi pemeriksaan tubuh menggunakan magnet berkekuatan tinggi dan gelombang radio untuk melihat bagian dalam tubuh secara detail, terutama saraf, otot, tulang belakang, dan organ dalam, tanpa radiasi seperti rontgen.
Dan, untuk pertama kalinya saya menjalani MRI.
Sebelum masuk ruangan, semua benda logam harus dilepas.
HP, jam tangan, dompet, bahkan celana yang ada resleting pun diminta dibuka dan diganti pakaian khusus.
Karena MRI bukan bekerja dengan radiasi seperti rontgen.
Ia bekerja dengan magnet yang sangat kuat.
Awalnya saya kira biasa saja.
Ternyata pengalaman berada di dalam mesin MRI itu cukup unik… dan sedikit mengguncang perasaan.
Kita diberi headphone dan ditanya ingin mendengar musik apa.
Mereka berusaha membuat pasien nyaman.
Tubuh diberi selimut.
Ruangan dingin karena AC.
Namun saat alat mulai bekerja, suasananya berubah.
Bunyi keras muncul bertubi-tubi.
Lebih keras dari musik yang diputar di telinga.
Kadang seperti suara klakson 5 truk besar.
Kadang seperti bunyi terompet besi yang dipukul dari dalam ruang sempit.
Tak… tak… tak…
Duuukk… duuukk…
Ngingggg…
Selama hampir 30 menit.
Tubuh mulai berkeringat walau ruangan dingin.
Bukan karena di dalam ruang sempit itu agak hangat sekitar 30 derajat.
Tetapi karena suasana yang aneh dan sangat sempit.
Mata hanya bisa melihat beberapa senti di depan wajah.
Tak banyak ruang bergerak.
Tak boleh banyak bergerak.
Dan di saat itulah, entah mengapa… muncul rasa seperti berada di dalam liang yang sunyi.
Serasa di kuburan.
Bukan karena takut mati.
Tetapi karena di ruang sempit itu, manusia tiba-tiba merasa sendirian bersama pikirannya sendiri.
Tak ada keluarga.
Tak ada jabatan.
Tak ada pujian.
Tak ada suara keramaian dunia.
Hanya suara keras mesin…
dan detak hati sendiri.
Sepi sendirian, di ruang super sempit.
Mungkin karena itu banyak orang tidak sadar, bahwa kesehatan adalah nikmat yang sering baru terasa saat kita mulai diperiksa oleh alat-alat rumah sakit.
MRI hari ini bukan hanya memeriksa tubuh.
Tetapi diam-diam juga mengingatkan kita tentang rapuhnya manusia dan suatu saat kita akan sendiri dalam ruang sempit tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa selain hanya diri kita dan amalan kita, serta diriNya dalam satu jiwa.
16 Mei 2026
Salam Hangat.
ASA | Asrul Sani Abu, S.E., M.M.
Penulis buku, pengurus APINDO dan ALFI Sulselbar







