TANGERANG SELATAN – Munculnya kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik memicu perhatian global setelah dilaporkan menyebabkan tiga kematian dan sedikitnya delapan orang jatuh sakit. Dugaan adanya penularan antarmanusia pun memunculkan kekhawatiran, bahkan dikaitkan dengan potensi pandemi seperti COVID-19.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa hantavirus memiliki karakteristik berbeda dibanding COVID-19 maupun influenza.
Direktur Kesiapsiagaan Epidemi dan Pandemi WHO, Maria Van Kerkhove, memastikan bahwa hantavirus bukan ancaman pandemi baru, meski tetap tergolong penyakit menular yang serius.
“Ini bukan COVID berikutnya, tetapi ini adalah penyakit menular yang serius. Kebanyakan orang tidak akan pernah terpapar dengan ini,” ujar Maria seperti dikutip dari Associated Press.
Maria menjelaskan, penularan hantavirus antarmanusia hanya bisa terjadi dalam kondisi kontak fisik yang sangat dekat, seperti berbagi kamar, berbagi kabin, atau saat memberikan perawatan medis secara langsung.
“Ketika kami menyebut ‘kontak dekat’ untuk penularan antarmanusia, yang kami maksud adalah kontak fisik yang sangat, sangat dekat,” jelasnya.
Ia menekankan pola penyebaran virus ini sangat berbeda dengan COVID-19 maupun influenza yang dapat menyebar lebih mudah melalui udara.
WHO juga menggarisbawahi bahwa kasus infeksi hantavirus secara global tergolong jarang. Namun, infeksi ini bisa berkembang cepat dan berpotensi mengancam nyawa apabila tidak segera ditangani.
Gejala awal infeksi Hantavirus umumnya meliputi demam, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, hingga gejala mirip flu. Kondisi ini biasanya muncul dalam rentang satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar tikus yang terinfeksi.
Dalam kondisi yang lebih parah, infeksi dapat menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru yang memicu sesak napas. Selain itu, hantavirus juga dapat memicu sindrom perdarahan hingga gagal ginjal yang berkembang dalam satu hingga dua minggu setelah paparan.







