DALAM dunia bisnis modern, perusahaan tidak hanya dituntut untuk menjual produk, tetapi juga memahami perilaku konsumen terhadap perubahan harga, pendapatan, dan kondisi pasar. Salah satu konsep penting yang digunakan adalah analisis sensitivitas atau elastisitas, yaitu ukuran untuk melihat seberapa besar perubahan permintaan atau penawaran akibat perubahan faktor ekonomi.
Industri kopi, khususnya kopi kekinian, merupakan contoh yang relevan karena persaingannya tinggi dan konsumen memiliki banyak pilihan. Salah satu perusahaan yang menarik untuk dikaji adalah Starbucks, yang dikenal sebagai brand kopi premium dengan harga relatif lebih tinggi dibandingkan pesaing lokal.
Dalam teori ekonomi, elastisitas permintaan digunakan untuk mengukur seberapa besar perubahan jumlah barang yang diminta akibat perubahan harga. Jika perubahan permintaan lebih besar dibandingkan perubahan harga, maka permintaan dikatakan elastis, sedangkan jika lebih kecil maka bersifat inelastis. Selain itu, terdapat pula elastisitas silang yang mengukur pengaruh harga barang lain terhadap permintaan suatu barang, serta elastisitas pendapatan yang melihat pengaruh perubahan pendapatan terhadap jumlah permintaan. Di sisi lain, elastisitas penawaran digunakan untuk mengukur kemampuan produsen dalam menyesuaikan jumlah barang yang ditawarkan akibat perubahan harga di pasar.
Kenaikan Harga pada Starbucks
Dalam praktik bisnisnya, Starbucks beberapa kali melakukan penyesuaian harga. Misalnya, harga minuman yang semula sekitar Rp 45.000 mengalami kenaikan menjadi Rp 50.000 atau lebih.
Kenaikan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
- Meningkatnya biaya bahan baku
- Biaya operasional
- Inflasi
Perubahan Permintaan Konsumen
Ketika harga naik dari Rp 45.000 menjadi Rp 50.000, jumlah pembelian harian dapat turun dari sekitar 200 cup menjadi 150 cup.
Jika dilihat secara sederhana, perubahan ini menunjukkan bahwa:
- Kenaikan harga diikuti penurunan permintaan yang cukup signifikan
- Respon konsumen terhadap harga cukup besar
Secara umum, kondisi ini mengarah pada permintaan yang bersifat elastis, di mana konsumen cukup sensitif terhadap perubahan harga.
Peran Voucher Digital (TikTok)
Menariknya, penurunan permintaan tidak selalu berlangsung lama. Dengan berkembangnya teknologi digital, konsumen memiliki alternatif untuk tetap membeli dengan harga lebih murah, salah satunya melalui platform TikTok.
Melalui promo atau voucher:
- Harga normal Rp 50.000 dapat turun menjadi Rp 35.000 s/d Rp 40.000
- Konsumen kembali tertarik untuk membeli
- Pembelian bisa meningkat saat promo berlangsung
Fenomena ini menunjukkan bahwa:
- Konsumen sangat responsif terhadap perubahan harga efektif (setelah diskon)
- Strategi promosi dapat mengubah kembali pola permintaan
Dengan kata lain, elastisitas permintaan tidak hanya dipengaruhi oleh harga nominal, tetapi juga oleh akses terhadap diskon dan teknologi digital.
Selain itu, dalam konteks elastisitas silang, ketika harga Starbucks meningkat, sebagian konsumen cenderung beralih ke produk lain yang lebih murah seperti kopi dari kedai lokal atau minuman instan. Hal ini menunjukkan adanya hubungan substitusi antar produk, di mana kenaikan harga suatu barang akan meningkatkan permintaan terhadap barang pengganti. Dari sisi elastisitas pendapatan, produk Starbucks termasuk dalam kategori barang normal yang cenderung dikonsumsi lebih banyak ketika pendapatan meningkat. Sebaliknya, ketika kondisi ekonomi menurun, konsumen akan mengurangi konsumsi karena produk ini bukan merupakan kebutuhan pokok, melainkan bagian dari gaya hidup.
Di sisi penawaran, Starbucks memiliki kemampuan untuk menyesuaikan jumlah produk yang ditawarkan, namun tetap terbatas oleh kapasitas operasional dan standar kualitas yang harus dijaga. Ketika permintaan meningkat, perusahaan dapat menambah produksi, tenaga kerja, serta distribusi bahan baku, tetapi penyesuaian tersebut tidak dapat dilakukan secara instan. Dapat dikatakan bahwa elastisitas penawaran cenderung moderat, di mana produsen dapat merespon perubahan harga, tetapi dalam batas tertentu.
Implikasi Bisnis
Dalam kasus ini, terdapat beberapa implikasi penting:
- Perusahaan harus berhati-hati dalam menaikkan harga
- Strategi promosi digital sangat efektif untuk menjaga permintaan
- Diferensiasi produk penting agar konsumen tidak mudah beralih
- Pemanfaatan platform digital menjadi kunci dalam persaingan modern
Berdasarkan analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa permintaan terhadap produk Starbucks cenderung bersifat elastis, di mana perubahan harga memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap jumlah pembelian. Namun, dalam era digital, faktor seperti promosi dan voucher melalui platform seperti TikTok mampu mengurangi dampak negatif dari kenaikan harga.
Dengan demikian, elastisitas tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi klasik, tetapi juga oleh perkembangan teknologi dan perubahan perilaku konsumen. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk mengombinasikan strategi harga dengan promosi digital, menjaga kualitas produk, serta memanfaatkan platform digital untuk mempertahankan loyalitas konsumen di tengah persaingan yang semakin ketat.
Penulis:
Desti Alifiani
Siti Muflihatul Jannah
Yayu Ila Haerani
Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







