TANGERANG SELATAN– Imlek atau Tahun Baru China merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Momen ini bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender lunar, tetapi juga simbol awal baru yang dipenuhi doa, harapan, dan kebersamaan keluarga.
Setiap perayaan Imlek selalu identik dengan tradisi turun-temurun, dominasi warna merah dalam dekorasi, serta hidangan khas yang sarat makna simbolis. Hampir setiap makanan yang disajikan melambangkan kemakmuran, kesehatan, keharmonisan, hingga panjang umur.
Sejarah dan Tradisi Tahun Baru Imlek
Tahun Baru Imlek dikenal juga sebagai Festival Musim Semi. Perayaan ini berlangsung selama 15 hari, dimulai pada bulan baru yang jatuh antara 21 Januari hingga 20 Februari dalam kalender Gregorian.
Imlek dirayakan tidak hanya di Tiongkok, tetapi juga oleh komunitas Tionghoa di berbagai negara di Asia, Eropa, hingga Amerika.
Salah satu legenda paling populer adalah kisah tentang makhluk buas bernama Nian. Konon, Nian muncul setiap awal tahun untuk mengganggu penduduk desa. Masyarakat kemudian menemukan bahwa Nian takut pada warna merah, suara keras, dan cahaya terang.
Sejak saat itu, penggunaan dekorasi merah, petasan, dan kembang api menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek sebagai simbol pengusir kesialan dan energi negatif.
Tradisi yang Dilakukan Saat Imlek
Beberapa tradisi penting dalam perayaan Imlek antara lain:
-
Membersihkan rumah sebelum tahun baru untuk menghilangkan nasib buruk
-
Mengenakan pakaian baru berwarna merah sebagai simbol keberuntungan
-
Memberikan angpau (amplop merah berisi uang) kepada anak-anak dan keluarga
-
Berkumpul dalam jamuan makan malam tahun baru
-
Menghormati leluhur sebagai bentuk bakti
Puncak perayaan ditandai dengan Festival Lampion pada hari ke-15, yang identik dengan lentera warna-warni serta pertunjukan barongsai atau tarian naga sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran.
7 Makanan Khas Imlek dan Makna Filosofisnya
Kuliner menjadi bagian penting dalam perayaan Tahun Baru China. Berikut makanan khas yang hampir selalu hadir di meja makan saat Imlek:
- 1. Ikan Utuh – Simbol Kelimpahan Rezeki
Dalam bahasa Mandarin, kata ikan (鱼 / yú) memiliki pelafalan mirip dengan kata surplus atau kelebihan. Ikan disajikan utuh lengkap dengan kepala dan ekor sebagai simbol awal dan akhir yang baik serta harapan rezeki berlimpah sepanjang tahun.
- 2. Jiaozi (Pangsit) – Lambang Kekayaan
Jiaozi berbentuk menyerupai batangan emas kuno, melambangkan kemakmuran. Tradisi membuat pangsit bersama keluarga juga mempererat kebersamaan.
- 3. Nian Gao – Simbol Kenaikan dan Kemajuan
Nian Gao adalah kue beras ketan manis. “Nian” berarti tahun dan “gao” berarti tinggi, melambangkan peningkatan dan kesuksesan dari tahun sebelumnya.
- 4. Tangyuan – Simbol Persatuan
Tangyuan berbentuk bulat sebagai lambang kesatuan dan keharmonisan keluarga. Biasanya dinikmati saat Festival Lampion.
- 5. Ayam Utuh – Lambang Keutuhan dan Keberuntungan
Dalam bahasa Mandarin, kata ayam (鸡 / jī) terdengar mirip dengan keberuntungan (吉 / jí). Ayam utuh melambangkan kesempurnaan dan kesejahteraan keluarga.
- 6. Chunjuan (Lumpia) – Simbol Awal Baru dan Kekayaan
Chunjuan atau lumpia dikenal sebagai “gulungan musim semi”. Warnanya yang keemasan setelah digoreng melambangkan emas dan kekayaan.
- 7. Jeruk Mandarin – Lambang Sukses dan Kemakmuran
Jeruk Mandarin identik dengan keberuntungan. Warna oranye cerah menyerupai emas sebagai simbol kekayaan dalam budaya Tionghoa.
Perayaan Imlek menyatukan sejarah, tradisi, dan kuliner dalam satu momen istimewa. Dari ikan utuh hingga jeruk mandarin, setiap hidangan membawa doa dan harapan agar tahun yang baru dipenuhi keberuntungan, kemakmuran, dan kebahagiaan bagi seluruh keluarga.







