TANGERANG SELATAN – Isu yang menyebut operasi modifikasi cuaca (OMC) berbahaya kembali ramai beredar di media sosial. Sejumlah unggahan menuding OMC sebagai pemicu cuaca tak stabil, munculnya fenomena cold pool, hingga disebut-sebut berpotensi menimbulkan bencana di masa depan.
Menanggapi kabar tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar dan tidak memiliki dasar ilmiah. BMKG menyatakan, modifikasi cuaca justru dilakukan sebagai upaya mitigasi untuk menekan risiko bencana akibat cuaca ekstrem.
BMKG menjelaskan, operasi modifikasi cuaca dilakukan ketika dua kondisi terjadi secara bersamaan. Pertama, kemampuan lingkungan dalam menyerap air semakin menurun. Kedua, frekuensi hujan ekstrem meningkat sebagai dampak perubahan iklim. Dalam situasi ini, modifikasi cuaca digunakan sebagai alat bantu untuk mengurangi risiko bencana, bukan sebagai penyebab gangguan cuaca.
“OMC digunakan untuk mengurangi potensi bencana, bukan menciptakan cuaca buruk,” jelas BMKG dalam keterangan resminya, Selasa, 3 Februari 2026.
BMKG juga meluruskan kesalahpahaman terkait fenomena cold pool atau kolam udara dingin. Fenomena ini merupakan proses meteorologi alami yang terjadi saat hujan deras. Udara dingin terbentuk akibat penguapan air hujan di bawah awan badai yang menyebabkan pendinginan massa udara di sekitarnya.
Udara yang lebih padat tersebut kemudian turun ke permukaan dan menyebar. Proses ini dapat terjadi pada setiap hujan lebat, baik dengan maupun tanpa campur tangan manusia, sehingga tidak berkaitan langsung dengan operasi modifikasi cuaca.
Selain itu, BMKG membantah anggapan bahwa modifikasi cuaca memindahkan hujan ke wilayah lain. Dalam praktiknya, penyemaian awan dilakukan sebelum awan memasuki daratan agar hujan turun di wilayah perairan. Sementara awan yang tumbuh di daratan disemai lebih awal untuk menurunkan intensitas hujan.
BMKG menegaskan bahwa penataan lingkungan tetap menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Berkurangnya situ dan daerah resapan air, khususnya di kawasan Jabodetabek, menyebabkan daya tampung air menurun dan meningkatkan potensi banjir.
Karena itu, modifikasi cuaca diposisikan sebagai langkah pendukung, bukan solusi utama. BMKG memastikan operasi modifikasi cuaca tidak bertujuan menciptakan cuaca ekstrem, melainkan membantu meminimalkan risiko bencana di tengah dampak perubahan iklim yang semakin nyata.







