KEGIATAN belajar di sekolah menengah kejuruan memiliki tantangan tersendiri bagi para siswa. Selain mempelajari teori di dalam kelas, siswa SMK juga dituntut untuk menguasai keterampilan praktik sesuai dengan kompetensi keahlian masing-masing.
Di SMK Negeri 1 Tangerang Selatan, tuntutan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari yang bertujuan untuk mempersiapkan siswa agar siap menghadapi dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, di balik tujuan tersebut, tekanan belajar sering kali tidak dapat dihindari.
Tekanan belajar muncul ketika siswa merasa bahwa tuntutan akademik yang dihadapi terlalu berat atau sulit untuk dipenuhi. Beban tugas yang banyak, jadwal pelajaran yang padat, ujian praktik, serta target pencapaian kompetensi dapat menimbulkan rasa tertekan. Dalam kondisi tertentu, tekanan ini dapat berkembang menjadi stres belajar apabila siswa tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelolanya dengan baik.
Stres belajar merupakan respons emosional dan psikologis yang muncul akibat tekanan akademik. Gejala stres belajar dapat berbeda-beda pada setiap siswa. Beberapa siswa mungkin mengalami kelelahan, sulit berkonsentrasi, mudah merasa cemas, atau kehilangan semangat belajar. Ada pula siswa yang menjadi lebih sensitif secara emosional, mudah marah, atau menarik diri dari lingkungan sosial di sekolah. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, stres belajar dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental, prestasi akademik, serta hubungan sosial siswa.

Di SMK Negeri 1 Tangerang Selatan, stres belajar juga dapat dipengaruhi oleh tuntutan praktik yang membutuhkan ketelitian dan kesiapan fisik. Siswa dituntut untuk menyelesaikan tugas praktik sesuai standar yang telah ditetapkan, sementara waktu yang tersedia terkadang terbatas. Kondisi tersebut membuat sebagian siswa merasa tertekan, terutama ketika harus menyeimbangkan antara tugas praktik, pelajaran teori, dan aktivitas pribadi di luar sekolah.
Oleh karena itu, manajemen stres menjadi hal yang sangat penting untuk diterapkan oleh siswa. Manajemen stres adalah kemampuan individu dalam mengenali sumber stres, mengendalikan emosi, serta mencari strategi yang tepat untuk mengurangi tekanan yang dirasakan. Dengan manajemen stres yang baik, siswa dapat menghadapi tuntutan belajar dengan lebih tenang, terarah, dan produktif.
Salah satu bentuk manajemen stres yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur waktu secara efektif. Perencanaan waktu yang baik membantu siswa menghindari kebiasaan menunda pekerjaan dan mengurangi tekanan akibat tugas yang menumpuk. Membuat jadwal belajar harian, menentukan prioritas tugas, serta menyisihkan waktu untuk istirahat dapat membantu menjaga keseimbangan antara kewajiban akademik dan kebutuhan pribadi.
Selain pengaturan waktu, menjaga kondisi fisik juga berperan penting dalam mengelola stres belajar. Tubuh yang sehat akan membantu siswa lebih fokus dan memiliki energi yang cukup untuk mengikuti kegiatan belajar. Istirahat yang cukup, pola makan yang teratur, serta aktivitas fisik ringan dapat membantu mengurangi kelelahan dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap stres.
Lingkungan sekolah turut memiliki peran besar dalam membantu siswa mengatasi tekanan belajar. Dukungan dari guru, wali kelas, dan teman sebaya dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi siswa. Guru yang memahami kondisi siswa dan bersikap terbuka terhadap kesulitan belajar dapat membantu mengurangi rasa cemas yang dialami siswa. Begitu pula dengan teman sebaya yang saling memberikan semangat dan dukungan emosional akan menciptakan suasana belajar yang lebih positif.
Di samping itu, siswa juga perlu membangun sikap mental yang sehat dalam menghadapi proses belajar. Tekanan akademik sebaiknya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai tantangan yang dapat mendorong perkembangan diri. Kesalahan dan kegagalan dalam belajar merupakan bagian dari proses yang wajar dan dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki diri di masa mendatang.
Dengan penerapan manajemen stres yang tepat, siswa di SMK Negeri 1 Tangerang Selatan diharapkan mampu menghadapi tekanan belajar dengan lebih baik. Stres yang dikelola secara positif tidak hanya membantu meningkatkan prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter siswa yang lebih tangguh, mandiri, dan siap menghadapi berbagai tantangan. Pada akhirnya, proses pendidikan di sekolah tidak hanya bertujuan untuk mentransfer ilmu, tetapi juga untuk membekali siswa dengan kemampuan mengelola diri dalam menghadapi tekanan kehidupan.
Penulis:
Kelompok 2
1. Achmad Fisabilillah (Jurusan Manajemen)
2. Shela Juni Rahmawati (Jurusan Manajemen)
3. Marshanda Anindhita Sulistianti (Jurusan Manajemen)
Mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







