BOYOLALI – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali, Suratno, mengingatkan warga Kecamatan Selo agar meningkatkan kewaspadaan menyusul meningkatnya aktivitas guguran lava Gunung Merapi. Masyarakat diminta untuk menghindari aktivitas di sepanjang alur sungai yang berhulu di Merapi, terutama ketika hujan turun, guna mengantisipasi potensi guguran lava dan lahar.
Imbauan tersebut disampaikan setelah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis laporan aktivitas terkini Gunung Merapi pada Rabu, 21 Januari. Dalam laporan tersebut, status Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Hasil pengamatan visual menunjukkan puncak Gunung Merapi tertutup kabut dengan intensitas 0–II hingga 0–III, sementara asap kawah tidak terpantau. Dari sisi aktivitas kegempaan, tercatat 22 kali gempa guguran, 17 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta satu kali gempa vulkanik dangkal.
BPPTKG juga melaporkan enam kali kejadian guguran lava yang mengarah ke sektor barat daya. Guguran tersebut meluncur melalui alur Kali Sat atau Putih, Kali Bebeng, serta Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai sekitar 1.800 meter.
Sehari sebelumnya, Selasa, 20 Januari 2026, aktivitas serupa juga tercatat dengan 21 kali guguran lava dan jarak luncur rata-rata hingga 1.900 meter. Kondisi ini menunjukkan aktivitas guguran lava Merapi masih bersifat fluktuatif dan berpotensi berlanjut.
Menurut BPPTKG, potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran di sektor selatan hingga barat daya. Daerah yang berisiko terdampak meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga sejauh 7 kilometer.
Sementara itu, di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup alur Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
“Pasokan magma masih berlangsung dan dapat memicu terjadinya awan panas guguran di kawasan rawan bahaya,” ungkap pihak BPPTKG.
Masyarakat diminta untuk tidak beraktivitas di wilayah rawan bencana serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar dan awan panas guguran, khususnya saat hujan. Selain itu, warga juga diimbau mewaspadai kemungkinan gangguan akibat abu vulkanik apabila terjadi erupsi secara tiba-tiba.
BPPTKG menegaskan akan melakukan evaluasi dan menyampaikan informasi resmi kepada publik apabila terjadi perubahan signifikan pada status aktivitas Gunung Merapi.







