TANGERANG SELATAN– Upaya pengurangan sampah dari hulu terus diperkuat di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Kali ini, Kecamatan Pondok Aren mendorong pemanfaatan Teba Komposter sebagai solusi pengelolaan sampah organik berbasis lingkungan di tingkat masyarakat.
Program ini menjadi bagian dari strategi pengendalian sampah dengan mengolah sisa makanan dan limbah organik langsung dari sumbernya. Dengan demikian, volume sampah yang harus diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat ditekan secara signifikan.
Camat Pondok Aren, Hendra, mengatakan sebagian besar sampah yang dihasilkan warga merupakan sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan. Karena itu, pengelolaan sampah sejak dari rumah menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah perkotaan.
“Jika sampah organik bisa dikelola di lingkungan masing-masing melalui Teba Komposter, maka jumlah sampah yang diangkut ke TPA akan jauh berkurang. Ini solusi sederhana, tetapi dampaknya besar,” ujar Hendra dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).
Teba berasal dari bahasa Bali yang berarti bagian bawah atau belakang rumah. Teba Komposter merupakan metode pengolahan sampah organik secara alami dengan memanfaatkan struktur tanah, baik melalui lubang khusus maupun wadah komposter, hingga sampah terurai menjadi kompos.
Secara teknis, Teba Komposter dibuat menyerupai sumur dengan kedalaman sekitar 2,5 meter. Jika berbentuk kotak, ukurannya sekitar 1×1 meter, sedangkan bentuk bulat memiliki diameter sekitar 80 sentimeter.
Satu unit teba dengan kedalaman 2,5 meter dapat menampung hingga 2,5 ton sampah organik. Selama proses penguraian, volume sampah dapat menyusut hingga 70 persen. Artinya, dari 1 ton sampah organik, hasil akhirnya sekitar 300 kilogram kompos dalam waktu penguraian sekitar 6–8 bulan, tergantung jenis sampah yang dimasukkan.
Metode ini dinilai efektif karena mampu mengurangi volume sampah organik secara signifikan, yang selama ini mendominasi timbulan sampah harian. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan, lebih dari 60 persen sampah rumah tangga merupakan sampah organik.
Hasil penguraian berupa kompos berkualitas dapat dimanfaatkan oleh penggiat lingkungan di Tangsel sebagai media tanam dan pupuk untuk program Tamsiruga (Tanaman Konsumsi Rumah Tangga), maupun digunakan untuk perawatan tanaman di taman lingkungan.
Pemerintah Kecamatan Pondok Aren juga mengajak seluruh kelurahan, RW, dan RT untuk menjadikan Teba Komposter sebagai bagian dari budaya pengelolaan sampah sehari-hari.
“Ini bukan program sesaat, melainkan gerakan jangka panjang. Kami ingin Pondok Aren menjadi wilayah yang mandiri dalam mengelola sampahnya,” tegas Hendra.
Ia menambahkan, keberhasilan penerapan Teba Komposter sangat bergantung pada partisipasi aktif warga, khususnya dalam memilah sampah dari rumah.
“Tidak cukup hanya menyediakan komposter. Yang terpenting adalah perubahan perilaku. Sampah harus dipilah sejak dari sumber agar sistem ini berjalan optimal,” katanya.
Dengan penguatan program Teba Komposter yang disinergikan dengan Bank Sampah, Kecamatan Pondok Aren diharapkan mampu berkontribusi signifikan dalam menekan volume sampah di Kota Tangerang Selatan, sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.







