JAKARTA – NAMA Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU mulai menjadi pembicaraan luas ketika Universitas Indonesia (UI) memasuki fase baru kepemimpinan pada akhir 2024. Ia resmi dilantik sebagai Rektor UI periode 2024–2029 pada 4 Desember 2024 di Kampus UI Depok, melalui keputusan Majelis Wali Amanat (MWA) UI, menggantikan Prof. Ari Kuncoro.
Namun, kisah Heri Hermansyah bukan sekadar “rektor baru.” Ia merepresentasikan tipikal pemimpin kampus riset modern: akademisi teknik dengan rekam jejak ilmiah, pengalaman tata kelola, dan orientasi internasional yang sejak awal dirangkai untuk satu target besar—menempatkan UI makin kompetitif di arena global.
Akar akademik: teknik kimia, Jepang, dan tradisi riset
Heri Hermansyah lahir 18 Januari 1976 dan dikenal sebagai akademisi teknik yang bertumbuh dari kultur riset Fakultas Teknik UI. Dalam rilis resmi, UI menegaskan bahwa ia menjadi guru besar termuda di Fakultas Teknik UI pada 2013, di usia 37 tahun—sebuah penanda penting tentang akselerasi karier akademiknya.
Jejak internasionalnya menonjol dari jalur studi lanjut: S2 dan S3 di Department of Chemical Engineering, Tohoku University, Jepang (2003 dan 2006). Kombinasi latar teknik kimia dan tradisi riset Jepang ini kelak terasa dalam cara ia membaca kampus: berbasis data, mengejar produktivitas ilmiah, dan menekankan hilirisasi serta dampak.
Dari sisi produktivitas akademik, profil institusional UI (portal scholar UI) mencatat Heri sebagai peneliti Fakultas Teknik, Departemen Teknik Kimia, dengan research output sekitar 237 karya, h-index 21, dan sitasi lebih dari 1.600 (berdasarkan integrasi data publikasi di sistem Pure dan sitasi dari Scopus pada laman tersebut).
Sementara di SINTA, metriknya juga ditampilkan—termasuk Google Scholar h-index 25 serta indikator lain (WoS/Scopus) dalam halaman subjek terkait.
Angka-angka ini penting bukan untuk sekadar prestise personal, tetapi karena memperlihatkan “bahasa” yang ia kuasai: bahasa universitas riset—publikasi, sitasi, reputasi bidang, jejaring kolaborasi, dan ekosistem inovasi.
Sebelum menjadi rektor, Heri sudah lama berada di simpul pengelolaan riset dan program strategis UI. DetikEdu mencatat ia pernah menjadi Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UI (2016–2018), serta Program Director SMART CITY UI (2017–2020).
Posisi semacam ini biasanya menjadi “ruang mesin” universitas: mengurus produktivitas riset, pendanaan, kolaborasi, hilirisasi, dan koneksi kampus dengan kebutuhan publik.
Lalu, ia menjabat Dekan Fakultas Teknik UI sebelum akhirnya memimpin UI sebagai rektor. Dalam rilis Fakultas Teknik UI, disebutkan bahwa selama kepemimpinannya, FTUI meningkat posisinya dan diklaim menjadi kampus teknik terbaik di Indonesia dalam pemeringkatan Times Higher Education (THE) pada 2023 dan 2024, serta beberapa program studi teknik UI disebut sebagai yang terbaik di Indonesia versi QS WUR (pada bidang tertentu).
Klaim ini memperlihatkan dua hal: fokus pada ukuran kinerja yang diakui internasional, dan kemampuan mendorong unit akademik besar untuk bergerak serempak mengejar standar global.
Titik balik kepemimpinan: pelantikan 2024 dan arah strategis 2024–2029
Pada momen pelantikan, narasi yang dibangun UI sangat jelas: UI harus bersaing di level dunia, menghasilkan riset dan inovasi berdampak, serta melahirkan lulusan yang berdaya saing global. Dalam rilis resmi, Heri menegaskan ambisi menjadikan UI “universitas riset kelas dunia yang berjiwa entrepreneur” dan berorientasi high impact bagi pembangunan bangsa.
Yang menarik, desain kebijakannya tidak berhenti pada slogan. Rilis FTUI menyebut lima strategi besar yang ia bawa dan diturunkan menjadi program prioritas: entrepreneurship, akses dan mutu pendidikan, riset berdampak, daya saing global, serta tata kelola dan transformasi budaya.
Selaras dengan itu, yang menarik disoroti adalah soal masalah yang ia sampaikan: ketergantungan pendanaan pada UKT, kebutuhan modernisasi akses dan kualitas pendidikan, penguatan budaya inovasi–entrepreneur, dampak riset yang perlu dibuat berkelanjutan, serta perbaikan tata kelola internal.
Di sinilah “profil kepemimpinan” Heri menjadi relevan: ia memotret UI sebagai institusi global yang harus kuat di dua kaki sekaligus—kaki akademik (research excellence) dan kaki organisasi (governance & sustainability pendanaan).
“Membawa UI ke panggung global”: indikator yang bisa dilihat publik
Kalimat “membawa UI ke panggung global” idealnya ditopang indikator yang bisa diverifikasi publik—dan salah satu yang paling mudah dibaca adalah pemeringkatan internasional.
Data QS (TopUniversities) menunjukkan tren kenaikan peringkat UI di QS World University Rankings: dari sekitar #296 (2020), naik menjadi #237 (2024), lalu #206 (2025), dan #189 (QS WUR 2026).
UI sendiri, melalui laman “Reputation UI”, juga menampilkan posisi #189 di QS WUR 2026 dan menyebut capaian regionalnya, termasuk peringkat 10 Asia Tenggara pada QS Asia University Ranking 2025 (versi laman tersebut).
Penting dicatat: kenaikan ranking universitas umumnya merupakan hasil kerja multi-tahun dan multi-pemimpin. Dalam rilis pelantikan, UI bahkan menegaskan bahwa fondasi periode sebelumnya menjadi pijakan untuk akselerasi berikutnya, dan peringkat global yang membaik akan memudahkan kolaborasi internasional.
Dalam konteks ini, Heri hadir bukan memulai dari nol, melainkan mengambil “momentum” UI yang sedang naik—lalu berupaya mengunci kenaikan itu menjadi sistem: tata kelola, pendanaan, riset berdampak, internasionalisasi, dan reputasi.
Dari rangkaian pernyataannya, ada tiga benang merah yang konsisten:
UI sebagai universitas riset: fokus pada kualitas riset, inovasi, dan dampak yang terukur—bukan sekadar output administratif.
Entrepreneurial university: bukan berarti kampus menjadi korporasi, tetapi kampus membangun kemandirian pendanaan, budaya inovasi, hilirisasi, dan kemitraan strategis yang sehat.
Global competitiveness: internasionalisasi bukan aksesori; ia ditempatkan sebagai bagian dari program prioritas, termasuk kemitraan strategis internasional dan keterlibatan global.
Bila diringkas, Heri Hermansyah adalah tipe rektor yang membaca UI sebagai “organisme global”: reputasi internasional tidak hanya lahir dari promosi, tetapi dari ekosistem yang rapi—riset kuat, pendidikan adaptif, tata kelola kredibel, jejaring global aktif, dan pembiayaan yang makin beragam.
Menulis profil Heri Hermansyah berarti menulis seorang rektor yang sedang berada pada fase krusial: memimpin UI ketika indikator globalnya sedang membaik, sekaligus menghadapi pekerjaan besar untuk menjadikannya berkelanjutan.
Modal utamanya jelas: legitimasi akademik (guru besar, produktivitas riset), pengalaman birokrasi riset (DRPM), program strategis (Smart City UI), pengalaman memimpin fakultas teknik, dan agenda rektor yang eksplisit terhadap daya saing global.
Oleh: Solehudin Somad, Peneliti INPEC (Indonesian Politic and Economic Center). (*)







