WASHINGTON DC – Pascapenangkapan mengejutkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal tahun ini, perhatian publik kembali tertuju pada langkah kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di tengah maraknya meme yang menyindir Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio karena memegang berbagai jabatan sementara, Trump tampaknya ikut meramaikan polemik tersebut.
Pada Minggu malam (11/1/2026), Trump mengunggah sebuah gambar hasil rekayasa berupa tangkapan layar halaman Wikipedia melalui akun Truth Social miliknya.
Dalam gambar tersebut, Trump disebut sebagai “Presiden Sementara Venezuela” per Januari 2026. Unggahan itu langsung memicu kehebohan dan sontak viral, meski faktanya halaman Wikipedia Trump yang asli tidak memuat informasi tersebut.
Aksi tersebut menimbulkan spekulasi luas di media sosial dan kalangan pengamat politik internasional. Sebagian menilai unggahan itu hanya bentuk lelucon politik, sementara lainnya melihatnya sebagai sinyal sikap agresif Washington terhadap Caracas.
Dalam kenyataannya, posisi presiden sementara Venezuela saat ini dipegang oleh Delcy Rodríguez, yang dilantik pada 5 Januari 2026. Rodríguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden sekaligus menteri perminyakan di era Maduro, kini berada dalam posisi politik yang rumit.
Ia sempat mengecam penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, namun pada saat yang sama harus menghadapi tekanan dari Amerika Serikat.
Pemerintahan Trump memberikan dukungan bersyarat kepada Rodríguez, disertai ancaman bahwa Venezuela akan “membayar harga yang sangat mahal” apabila pemerintahan sementara tersebut tidak memenuhi tuntutan Washington.
Pascaoperasi militer Amerika Serikat, hubungan diplomatik kedua negara yang sempat terputus sejak 2019 mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pada Jumat, 9 Januari 2026 pemerintah Rodríguez menyatakan kesiapan untuk menjajaki kembali hubungan diplomatik dengan AS. Menyusul hal itu, Departemen Luar Negeri AS mengirim delegasi terbatas ke Caracas guna menilai kemungkinan pembukaan kembali Kedutaan Besar AS.
Isu energi menjadi fokus utama kerja sama kedua negara. Venezuela, yang memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, dipandang sebagai aset strategis bagi Trump. Presiden AS itu mengklaim negaranya akan memperoleh akses hingga 50 juta barel minyak di bawah kendali pemerintahan sementara Rodríguez.
Seiring meningkatnya kerja sama tersebut, Trump mengumumkan pembatalan rencana “gelombang serangan kedua” terhadap Venezuela. Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menyebut hubungan kedua negara berjalan positif, khususnya dalam upaya membangun kembali infrastruktur minyak dan gas Venezuela.
“Amerika Serikat dan Venezuela bekerja sama dengan sangat baik, terutama dalam membangun kembali infrastruktur minyak dan gas dalam skala yang jauh lebih besar, lebih baik, dan lebih modern,” tulis Trump.
Meski demikian, sikap Trump tetap menunjukkan ambiguitas. Dalam wawancara dengan The New York Times, ia mengakui pemerintahan sementara Venezuela telah memberikan berbagai konsesi penting.
Namun, Trump menegaskan bahwa keputusan Washington untuk menghentikan tuntutan pengawasan langsung atas Caracas masih akan ditentukan oleh perkembangan situasi ke depan.







