PERKEMBANGAN teknologi telah mengubah cara anak-anak dan remaja menjalani keseharian. Gawai bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, layar menjadi teman setia yang sulit dilepaskan.
Kebiasaan hidup serba instan menjadi ciri yang paling menonjol. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, hiburan tersedia tanpa batas, dan interaksi sosial berpindah ke ruang digital. Di satu sisi, kondisi ini memberi kemudahan. Namun di sisi lain, muncul tantangan baru dalam membentuk karakter dan kebiasaan sosial anak zaman sekarang.
Salah satu dampak yang terasa adalah menurunnya daya tahan terhadap proses. Banyak anak terbiasa menginginkan hasil cepat tanpa melalui tahapan panjang. Ketika menghadapi kegagalan atau penolakan, tidak sedikit yang memilih menyerah atau menghindar. Ketangguhan mental yang dulu terbentuk lewat interaksi langsung dan pengalaman nyata kini semakin jarang diasah.
Kebiasaan berkomunikasi pun mengalami perubahan. Anak-anak lebih nyaman mengekspresikan diri lewat pesan singkat atau media sosial dibandingkan percakapan tatap muka. Akibatnya, kemampuan berempati dan membaca emosi orang lain berpotensi melemah. Kesalahpahaman dalam berkomunikasi menjadi lebih mudah terjadi.
Selain itu, budaya membandingkan diri juga semakin kuat. Media sosial menyuguhkan potongan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Tanpa disadari, anak-anak tumbuh dengan tekanan untuk selalu tampil ideal. Jika tidak disikapi dengan bijak, kondisi ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental.
Meski demikian, menyalahkan anak sepenuhnya tentu tidak adil. Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan mereka. Orang tua, keluarga, dan masyarakat perlu hadir sebagai pendamping, bukan sekadar pengamat. Anak-anak membutuhkan contoh nyata tentang keseimbangan hidup, bukan hanya larangan tanpa penjelasan.
Membangun kebiasaan sehat di era digital bukan berarti menjauhkan anak dari teknologi. Yang lebih penting adalah mengajarkan batasan, tanggung jawab, dan kesadaran diri. Anak perlu dikenalkan kembali pada proses, interaksi nyata, serta nilai kesabaran dalam mencapai sesuatu.
Anak zaman sekarang hidup di dunia yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Tantangannya pun berbeda. Dengan pendampingan yang tepat dan lingkungan yang mendukung, kebiasaan mereka tidak hanya menjadi cerminan zaman, tetapi juga fondasi bagi masa depan yang lebih matang dan berdaya.
Penulis:
Clara Setiani
Mahasiswi Universitas Pamulang Prodi Akuntansi







