JAKARTA– Semangat gotong royong dan kolaborasi lintas generasi dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru bertajuk Regeneration yang diluncurkan oleh perusahaan komunikasi global Burson.
Laporan tersebut menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk menciptakan solusi yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan bagi masa depan bangsa.
“Indonesia kini berada di titik penting dalam perjalanan sejarahnya. Melalui laporan Regeneration, kami menghadirkan pandangan berbasis riset dan teknologi AI untuk membantu bangsa ini mempercepat kemajuan dan memperkuat reputasi di dunia internasional,” ujar Marianne Admardatine, CEO Burson Indonesia sekaligus Head of Innovation & Creative Transformation Burson Asia-Pacific, saat peluncuran laporan di Jakarta.
Empat Pilar Masa Depan Indonesia
Laporan Regeneration disusun berdasarkan empat pilar utama yang membentuk masa depan Indonesia, yaitu lingkungan, ekonomi, teknologi, dan kepemimpinan. Setiap pilar mencerminkan tantangan dan peluang yang saling berkaitan.
Ketahanan Lingkungan
Masyarakat Indonesia lintas generasi menilai bahwa faktor-faktor nyata seperti udara dan air bersih serta kesehatan masyarakat menjadi indikator utama kualitas lingkungan hidup. Mereka juga percaya bahwa kepemimpinan dan semangat gotong royong sangat penting untuk menjaga lingkungan.
Sebanyak 80 persen responden menilai faktor yang nyata lebih memengaruhi kesadaran terhadap kualitas lingkungan dibandingkan komitmen perubahan iklim yang sering dianggap abstrak. Selain itu, 91 persen responden setuju bahwa pemimpin memegang peran krusial dalam menggerakkan aksi lingkungan, sementara 75 persen menekankan pentingnya keterampilan kepemimpinan untuk menghadapi tantangan lingkungan dan sosial.
Ekonomi Masa Depan
Dalam aspek ekonomi, banyak responden menegaskan bahwa pelaku usaha memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian nasional. Namun, persepsi publik terhadap korporasi di Indonesia masih cenderung negatif. Untuk mengubah pandangan tersebut, perusahaan perlu menunjukkan inisiatif yang transparan dan terukur, terutama di bidang keberlanjutan lingkungan.
Sebanyak 89 persen responden berlatar belakang akademik menyatakan bahwa bumi harus dipandang sebagai pemangku kepentingan utama dalam pengambilan keputusan perusahaan. Lebih dari 50 persen responden juga berpendapat bahwa korporasi perlu menerapkan praktik produksi berkelanjutan, menciptakan produk daur ulang, dan meminimalkan limbah.
Peran Penting Teknologi
Bagi masyarakat Indonesia, kemajuan teknologi harus diintegrasikan dalam proses pembelajaran untuk membentuk tenaga kerja yang kompeten di era ekonomi digital. Sebanyak 68 persen responden menyatakan bahwa teknologi berpotensi mengurangi ketimpangan ekonomi dan sosial, sementara 62 persen menilai generasi Milenial memiliki kreativitas, daya adaptasi, dan keterampilan digital yang diperlukan untuk menghadapi tantangan teknologi.
Transformasi Mindset untuk Masa Depan
Laporan Regeneration menekankan pentingnya growth mindset, yaitu pola pikir yang berfokus pada pembelajaran dan peningkatan berkelanjutan. Untuk mengadopsinya, masyarakat perlu meninggalkan cara pandang lama dan membuka diri terhadap perspektif baru.
Generasi Z diharapkan dipandang sebagai generasi visioner yang berani menantang stigma, bukan generasi yang hanya menuntut. Kecerdasan buatan (AI) juga dipandang bukan sebagai ancaman, melainkan pemicu kreativitas dan inovasi.
Selain itu, 55 persen responden, terutama dari kalangan Gen Z, menunjukkan kepedulian kuat terhadap keadilan sosial. Hal ini mencerminkan tanggung jawab kolektif seluruh masyarakat dalam membangun masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Membentuk Pemimpin Masa Depan
Di tengah perkembangan teknologi dan kompleksitas tantangan global, Indonesia membutuhkan generasi pemimpin baru yang adaptif, visioner, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Temuan Burson menunjukkan bahwa Milenial dinilai paling siap mengambil peran kepemimpinan dan mendorong inovasi, khususnya pada isu lingkungan (39 persen) dan teknologi (48 persen). Lebih dari 40 persen responden juga menyatakan bahwa Gen Z akan menjadi generasi pemimpin berikutnya berkat komitmen mereka terhadap keberlanjutan.
Untuk mengoptimalkan potensi kepemimpinan, generasi muda perlu menajamkan keterampilan penting seperti kecerdasan emosional, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kompetensi lintas budaya, dan ketangguhan mental. Pemimpin masa depan juga harus mengutamakan keberlanjutan, etika, keberagaman dan inklusi, serta memiliki wawasan global untuk menciptakan dunia yang lebih baik.
Peran generasi sebelumnya, seperti Gen X dan Baby Boomers, tetap krusial dalam membentuk generasi penerus. Dengan menumbuhkan inklusi, dialog terbuka, rasa saling menghormati, dan semangat belajar, generasi senior dapat membantu mencetak calon pemimpin yang lebih matang dan berwawasan luas.
Investasi pada Manusia Kunci Menuju Indonesia Emas
Hampir seluruh responden, yaitu 97 persen, sepakat bahwa investasi pada pertumbuhan dan pengembangan sumber daya manusia merupakan faktor kunci untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Burson menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi harus menjadi motor utama dalam menciptakan perubahan yang berdampak nyata di berbagai bidang — mulai dari pendidikan, ekonomi hijau, hingga transformasi digital.
“Laporan Regeneration ini menandai paradigma baru dalam membangun Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. Kami berkomitmen menghadirkan solusi strategis berbasis riset agar bisnis dan masyarakat bisa tumbuh bersama,” kata Harry Deje, Chief Operating Officer Burson Indonesia.







