TANGERANG SELATAN– Sejumlah mahasiswa rantau yang tinggal di Tangerang Selatan dan berkuliah di Jakarta mengungkap tantangan yang mereka hadapi sejak awal masuk kuliah pada tahun 2002. Lalu, di balik semangat mereka untuk menuntut ilmu, masih terselip rasa rindu, tekanan, yang kerap datang diam-diam.
I Wayan Aril, mahasiswa asal Gorontalo, dan Putu Ayu Dika Septiani dari Bengkulu, saat ini tinggal di Tangerang Selatan. Keduanya merupakan mahasiswa aktif Sekolah Tinggi Agama Hindu Dharma Nusantara Jakarta (STAH DNJ) sejak tahun 2022.
Selama dua tahun menjalani kuliah di Jakarta, Aril mengaku hari-hari pertamanya tidak semulus yang dibayangkan. Dia pun sempat merasa tersesat, bukan secara fisik, tetapi secara emosional.
“Saya orangnya pendiam. Di sini semua terasa asing. Sering merasa sendirian, walau di tengah keramaian,” ujar Aril.
Hal serupa juga dialami Ayu. Ia pernah menangis diam-diam di kos karena bingung harus bercerita ke siapa.
“Ada momen ketika tugas menumpuk, uang menipis, teman-teman jauh. Rasanya seperti terjebak di ruang hampa,” kenangnya.
Hidup sebagai anak rantau, tidak hanya belajar teori di ruang kelas, tetapi juga dari pengalaman hidup sehari-hari. Kos kecil, warteg langganan, halte bus, stasiun kereta, dan teman kampus menjadi bagian dari perjuangan mereka menyembuhkan diri hari demi hari.
Titik balik terjadi saat keduanya menyadari bahwa mereka tidak harus selalu kuat. Menerima rasa lelah dan sedih sebagai hal yang wajar, membuat mereka mulai menemukan ritme hidup yang lebih sehat.
“Kalau pikiran kacau, semuanya ikut berantakan,” ujar Aril.
“Dan kalau kita tidak merawat diri kita, siapa lagi?” tambah Ayu.
Dari pengalaman pribadi mereka. Berikut lima cara menjaga kesehatan mental yang bisa diterapkan anak rantau.
1. Kuatkan Diri Sendiri
Tanyakan kembali tujuan merantau dan masa depan yang ingin dicapai. Hal ini bisa membantu menenangkan hati dan memperkuat tekad.
2. Menulis Jurnal Malam Hari
Tuliskan perasaan dan pikiran setiap malam. Menurut Aril, kertas bisa menjadi tempat pelampiasan emosi ketika tak ada orang yang bisa diajak bicara.
3. Rutin Video Call dengan Keluarga
Ayu menjadwalkan panggilan video dengan ibunya setiap minggu. Meski hanya obrolan ringan, hal itu membuat hatinya lebih tenang.
4. Cari Teman Seperjuangan
Punya satu atau dua teman dekat yang bisa dipercaya lebih penting daripada banyak kenalan yang hanya sebatas basa-basi.
5. Berani Rehat
Saat merasa lelah, mereka tak segan mengambil waktu istirahat. Salah satunya dengan menonton film inspiratif tentang anak rantau yang sukses membantu keluarganya. Dari situ, semangat mereka kembali tumbuh. Film itu bisa mendorong semangat untuk kembali berjuang.
Kini, Aril dan Ayu mulai menikmati peran sebagai anak rantau. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga belajar mengenal diri sendiri dan menjadi dewasa.
Kisah Aril dan Ayu menjadi cerminan bahwa kekuatan mental anak rantau bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam diri sendiri.(Erlin/Mg)







