TANGSEL – Tahun ajaran baru segera dimulai. Para orangtua tentunya akan mendaftarkan anak-anak mereka ke sekolah baru, baik itu TK, SD, SMP, atau SMA. Bagi anak-anak yang akan menginjakan kaki ke gerbang pendidikan formal dan lingkungan sekolah baru, apa saja yang harus dipersiapkan orangtua?
Psikolog klinis anak dan remaja lulusan Universitas Padjajaran Michelle Brigitta Shanny M.Psi mengatakan selain usia, banyak yang perlu diperhatikan orangtua untuk mempersiapkan anak masuk ke lingkungan sekolah.
Ia mengatakan membangun rutinitas yang konsisten mulai dari bangun tidur hingga kemandirian anak untuk mengurus dirinya sendiri harus menjadi perhatian orangtua ketika memasukkan anak ke lingkungan akademik.
“Apalagi kalau sudah mulai masuk SD yang di mana guru itu kan udah nggak cuma perhatian ke satu anak saja ya tapi banyak anak dalam satu kelas,” kata Michelle dikutip dari Klik Dokter.
Saat mulai masuk SD, ungkap Michelle, anak harus mulai dilatih mandiri misalnya dari segi makan, ketika butuh ke toilet harus berani ngomong sama gurunya, memakai sepatu sendiri , dan bisa merapikan tas atau barangnya sendiri,
Lebih lanjut, Michelle menyampaikan keterampilan sosial juga menjadi hal mendasar yang perlu diperhatikan orangtua. Apakah anak sudah bisa menjalin interaksi atau komunikasi dengan baik dengan teman sebayanya, misalnya saat menunggu giliran bermain serta apakah anak bisa mengatasi konflik-konflik sederhana saat bermain.
Interaksi anak ke guru juga perlu diperhatikan saat anak meminta bantuan dengan sopan atau cara menyapa teman sebaya. Selain itu, perkembangan emosionalnya juga penting diperhatikan untuk melihat bagaimana anak meregulasi emosinya ketika ada hal yang kurang nyaman di lingkungannya.
“Apakah dia langsung nangis, langsung marah besar atau langsung nyerang temennya secara agresif ketika ada hal yang nggak sesuai dengan keinginan dia, nah diharapkan dia udah bisa belajar menyampaikan perasaan, emosi, kebutuhan, keinginannya itu dengan kata-kata bukan lagi dengan agresivitas, misalnya juga dengan cari bantuan ke orang yang lebih dewasa,” jelasnya.
Kemampuan sosial, menurutnya, termasuk dengan melihat kemampuan memahami instruksi (reseptif) dan kemampuan untuk menyampaikan kebutuhan atau rasa ekspresif yang fungsional.
Hal ini penting, karena nantinya anak bisa bercerita dengan teman, guru, serta berkomunikasi sehari-hari dan menjawab pertanyaan guru atau teman.
Dengan kemampuan reseptif dan ekspresif, diharapkan anak juga bisa melakukan percakapan bergiliran dua arah, mendengarkan serta bisa meminta tolong secara verbal dengan baik.







