• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home OPINI

DISWAY: Ganbai Ganbai

Hadi Ismanto by Hadi Ismanto
Mei 20, 2025
in NEWS, OPINI
Reading Time: 3min read
disway ganbai

Foto: Disway

78
SHARES
2.1k
VIEWS

Oleh: DAHLAN ISKAN
Sang Begawan Media

 

Teman makan malam saya itu terus saja minum Motai –minuman keras termahal di Tiongkok. Padahal ia yang tadi mengemudikan mobil ke restoran ini.

Padahal aturan di Tiongkok keras: yang baru minum alkohol dilarang setir mobil. Lantas siapa yang akan menyetir mobil pulangnya nanti.

Saya sempat khawatir: jangan-jangan kami nanti distop polisi di tengah jalan. Ternyata ada cara baru di Tiongkok: App telah menyelamatkan para peminum alkohol.

Panggil sopir aplikasi.

Di Tiongkok kita bisa panggil sopir aplikasi setiap saat. Tidak sampai lima menit sopir aplikasi itu tiba. Ia datang naik sepeda lipat listrik.

Maka selesai makan, teman saya itu buka aplikasi. Saat kami tiba di parkiran, sopir aplikasi tiba. Hampir bersamaan. Ia tahu harus menuju tempat parkir nomor berapa. Mobilnya merek apa. Warna apa.

Sepeda lipatnya lantas ditaruh di bagasi. Kami pun aman di perjalanan pulang. App telah membuka lapangan kerja baru. Sopir aplikasi sudah tahu di resto mana yang banyak memerlukan jasanya.

Pencipta App itu tahu orang Tiongkok sulit meninggalkan minuman keras. Ada saja jalan untuk tetap bisa menikmatinya.

Di setiap makan seperti itu pihak pengundang yang menyediakan minuman kerasnya. Bukan beli dari restoran. Membawa sendiri dari rumah.

Seperti Minggu malam lalu. Teman saya itu membawa sendiri dua botol Motai dari rumahnya.

Kami 10 orang makan malam. Mejanya besar. Bundar. Di tiap depan kursi sudah ditata rapi: piring besar, piring kecil, bangkok, sumpit hitam, sumpit gading, sendok, beberapa saus bebek panggang, gelas besar, gelas sedang, teko kecil dari kaca dan gelas sangat kecil.

BACA JUGA :  Warga Bukit Tinggi Diimbau Tidak Konsumsi Indomie Ayam Spesial

Bagian tengah mejanya berputar. Di situlah makanan ditaruh –18 jenis masakan.

Sumpit warna gading dan hitam beda fungsi. Yang gading untuk mengambil makanan dari atas meja dipindah ke piring sendiri. Sumpit hitam untuk kita makan.

Aturan dua jenis sumpit itu berlaku sejak ada wabah SARS di Tiongkok. Lalu kian membudaya setelah ada Covid-19.

Setiap ikut makan besar seperti itu saya menaruh hormat pada mereka: tidak ada menu daging babi di atas meja. Padahal saya sudah sampaikan: silakan sediakan daging babi, asal saya diberi tahu yang mana yang daging babi.

Mereka tetap tidak mau. Masih banyak daging lain yang bisa disajikan: sapi, domba, kelinci, ayam, bebek, angsa. Tapi untuk minuman keras mereka tidak punya pilihan lain: harus minum. Harus banyak. Harus bertambah-tambah.

Gelas paling kecil tadi –seukuran jempol bayi– adalah gelas untuk minum 白酒. Minuman dari botol Motai dituang dulu ke gelas kaca berbentuk teko. Isinya kira-kira 150 cc. Dari situ baru dituangkan ke gelas kecil. Siap bersulang.

Yang pertama mengajak bersulang haruslah yang duduk di ”kursi ketua”. Meski bentuk kursinya sama, dan mejanya bundar, kami sudah tahu yang mana yang disebut ”kursi ketua”. Yakni yang –agak sulit menjelaskannya.

BACA JUGA :  DISWAY: Fikri Jufri

Sabtu malam itu saya diminta duduk di kursi ketua. Saya menolak. Dipaksa. Untung tamu lain segera datang: mantan duta besar Tiongkok di Indonesia. Saya pun selamat.

Tapi hari berikutnya, Minggu malam kemarin, saya dipaksa lagi. Juga menolak. Saya bukan siapa-siapa lagi, kata saya. Tapi tetap saja dipaksa.

Saya mencoba ganti memaksa tamu lain. Dia lebih pantas dari saya. Dia adalah ketua tim dokter yang merawat saya usai operasi ganti hati 18 tahun lalu. Saya harus menghormati dia.

Dia tidak mau. Saling tolak. Akhirnya voting informal. Saya kalah.

Berarti sayalah yang harus pertama berdiri mengajak semua tamu bersulang. Saya harus mengawalinya dengan ”pidato” kecil mengapa kita harus bersulang. Agar persahabatan abadi. Agar semuanya sehat. Agar semuanya dikaruniai kebahagiaan. Agar hidup kian makmur. Agar… Ucapkan apa saja yang penting untuk kebaikan bersama.

Tentu saya bisa mengucapkan semua itu. Sudah sering menyaksikannya. Tinggal meniru. Tapi saya tidak bisa memegang gelas kecil –meskipun sebagai bentuk pura-pura.

Saya pun minta maaf karena tidak minum minuman keras. Sebenarnya itu tidak sopan tapi mereka memaklumi.

Maka saya angkat gelas berisi jus. Mengajak mereka bersulang. Ketua dokter di sebelah saya angkat gelas kecil berisi minuman keras. Pun beberapa dokter lainnya. Dua orang lagi angkat gelas jus –saya sempat meliriknya sesapuan.

BACA JUGA :  DISWAY: Hijrah Tigray

Setelah ”pidato kecil” saya pun berseru: “Ganbai!” pertanda saya mengajak mereka bersulang.

“Ganbai!!!,” sahut mereka. Lalu kami pun saling menabrakkan gelas: Ting! Ting! Ting! Barulah meneguk isinya.

Maksud kata ”ganbai”: minumlah sampai habis. Sampai gelasnya kosong. Masing-masing lantas menunjukkan gelas mereka sudah kosong.

Untuk diisi lagi.

Saya lirik gelas kecil ketua dokter di sebelah saya: masih sama. Isinya tidak berkurang. Berarti dia tadi tidak meminumnya. Hanya seperti minum. Agar terlihat kompak.

Dua orang yang minum jus ternyata beralasan pulangnya nanti mereka harus mengemudikan mobil. Dimaklumi.

Yang lain terus saja mengisi gelas kosong. Saling mengajak bersulang. Satu tamu mendatangi kursi tamu lain: mengajak bersulang. Nanti tamu yang diajak bersulang itu ganti mendatanginya untuk balas bersulang.

Tidak habis-habisnya. Dua botol Motai pun habis. Harganya Rp 30 juta.

Begitulah malam-malam saya di Beijing. Juga siang-siang saya. Dari ganbai ke ganbai.

Saya sudah belajar banyak bagaimana ber-ganbai yang sopan dan merendah: waktu saya membenturkan ke gelas teman selalu posisi bibir gelas saya jangan sampai di atas bibir gelas teman itu. Ia juga tahu itu. Ia juga tidak mau bibir gelasnya lebih tinggi. Maka kadang kami saling menurunkan posisi gelas.

Senin pagi kemarin saya mulai terbebas dari semua itu. Saya sudah bisa di pesawat menuju New York. Tidak akan ada ganbai di perjalanan saya di Amerika.(*)

Tags: dahlan iskandiswayganbaiTiongkok
Previous Post

Gen Z dan Fear Of Missing Out (FOMO), Ketakutan Kehilangan Momen

Next Post

Prakiraan Cuaca Kota Tangsel Hari Ini: Hujan Merata

Related Posts

Songsong 131 Tahun, BRI Usung Semangat Tumbuh Berkelanjutan, Memajukan Negeri
ADVERTORIAL

Songsong 131 Tahun, BRI Usung Semangat Tumbuh Berkelanjutan, Memajukan Negeri

Oktober 21, 2026
2.7k
RUPS Pengelola RSIA Family Pluit Disoal, Tiga Putusan MA dan Sinar Mas jadi Sorotan
HUKUM

RUPS Pengelola RSIA Family Pluit Disoal, Tiga Putusan MA dan Sinar Mas jadi Sorotan

Oktober 21, 2026
2.4k
Rekonstruksi Jembatan Merpati Raya Tangsel Ditunda, Penutupan Jalan 22 Oktober Batal
TANGERANG SELATAN

Rekonstruksi Jembatan Merpati Raya Tangsel Ditunda, Penutupan Jalan 22 Oktober Batal

Oktober 21, 2026
2.6k
KUR BRI Buka Jalan Rezeki Lintas Generasi melalui Sepiring Ketoprak di Bengkulu Selatan
ADVERTORIAL

KUR BRI Buka Jalan Rezeki Lintas Generasi melalui Sepiring Ketoprak di Bengkulu Selatan

Oktober 21, 2026
2.4k
BRI dan Pemerintah Gerakkan Investasi Global dan Berdayakan Ekonomi Lokal dari Level Korporasi hingga UMKM
ADVERTORIAL

BRI dan Pemerintah Gerakkan Investasi Global dan Berdayakan Ekonomi Lokal dari Level Korporasi hingga UMKM

Oktober 21, 2026
2.4k
Film Hamka Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November 2026, Vino G. Bastian Kembali Jadi Buya Hamka
FILM & MUSIK

Film Hamka Awal Mula Vol. 3 Tayang 19 November 2026, Vino G. Bastian Kembali Jadi Buya Hamka

Oktober 21, 2026
2.4k
Next Post

Prakiraan Cuaca Kota Tangsel Hari Ini: Hujan Merata

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com