TANGSELXPRESS – Aktor senior Indonesia, Ray Sahetapy meninggal dunia hari Selasa, 1 April 2025, pukul 21.04 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, di usia 68 tahun, setelah berjuang melawan penyakit stroke sejak 2023 silam.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi dunia perfilman Indonesia, mengingat kontribusinya yang luar biasa dalam industri hiburan tanah air.
Kepergian Ray pertama kali disampaikan oleh sang anak Surya Sahetapy melalui akun Instagram miliknya @Suryasahetapy.
“Selamat jalan, Ayah! @Raysahetapy. We always cherish the memories of our time with you. Titip salam kangen dan cinta ke kak Gisca!,” ujar @Suryasahetapy.
Ray Sahetapy dikenal sebagai aktor yang sangat berdedikasi terhadap profesinya. Dengan gaya akting mendalam dan karakter yang kuat, dia selalu mampu menghidupkan peran yang dimainkannya dengan sangat apik.
Lalu, bagaimana sosok Ray Sahetapy? Berikut sedikit penggalan profilnya dalam In Memoriam.
Lahir dengan nama lengkap Ferenc Raymond Sahetapy pada 1 Januari 1957 di Donggala, Sulawesi Tengah, Ray menikah dengan penyanyi dan aktris Dewi Yull pada 1981 kemudian bercerai pada 2004. Tidak lama setelahnya, Ray menikah dengan Sri Respatini Kusumastuti.
Dari pernikahan dengan Dewi Yull, mereka dikaruniai empat orang anak bernama Gisca Sahetapy, Rama Sahetapy, Surya Sahetapy, dan Raya Sahetapy.
Salah satu anaknya, Surya Sahetapy dikenal sebagai seorang aktivis tuli yang aktif memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di Indonesia.
Pada 2023, Ray mulai mengalami gangguan kesehatan akibat penyakit stroke yang menyerangnya. Meski sempat mendapatkan perawatan medis intensif, kondisinya semakin memburuk dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, di balik itu, Ray tumbuh menjadi seorang pria yang memiliki minat besar terhadap dunia seni peran. Sejak muda, dia sudah menunjukkan bakatnya dalam dunia akting dan mulai menapaki kariernya di industri film pada awal 1980-an.
Perjalanan Ray di dunia hiburan dimulai ketika dia membintangi film “Gadis” tahun 1980. Sejak itu, namanya mulai dikenal dan semakin diperhitungkan dalam dunia perfilman Indonesia.
Ia kemudian membintangi berbagai film legendaris, termasuk “Ponirah Terpidana” (1983), “Tatkala Mimpi Berakhir” (1987), dan “Jangan Bilang Siapa-Siapa” (1990).
Berkat aktingnya yang menawan dan penuh karakter, Ray menjadi salah satu aktor papan atas yang sering tampil dalam berbagai film dan sinetron.
Selain itu, Ray juga pernah dinominasikan untuk Piala Citra di Festival Film Indonesia sebanyak tujuh kali, enam di antaranya untuk Aktor Terbaik, dan memegang rekor nominasi terbanyak dalam kategori tersebut tanpa kemenangan.
Namun, dia tidak hanya berperan dalam film drama, tetapi juga sering tampil dalam film laga, horor, dan thriller, yang menunjukkan fleksibilitasnya sebagai aktor.
Adapun pencapapaian terbesarnya selama menjadi aktor dan terjun ke dunia film, saat Ray Sahetapy diminta berperan dalam film Captain America: Civil War, The Raid. Ia berperan sebagai auctioneer atau seorang pemimpin lelang. Hal ini juga membuktikan kerja kerasnya di kancah perfilman Tanah Air.







