• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 21 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home OPINI

DISWAY: Doa Sritex

Hadi Ismanto by Hadi Ismanto
Maret 2, 2025
in NEWS, OPINI
Reading Time: 4min read
sritex

Foto: CNN Indonesia

95
SHARES
211
VIEWS

Oleh: DAHLAN ISKAN
Sang Begawan Media

 

YANG harus dibacakan doa kubur ternyata yang di Solo. Sritex resmi meninggal dunia. Kemarin. Persis bersamaan dengan hari pertama bulan Ramadan: 1 Maret 2025. Bisa langsung masuk surga.

Hari itu kurator menetapkan Sritex harus dikubur. Sejak dinyatakan pailit oleh pengadilan Semarang, empat bulan lalu, Sritex memang sudah disuntik mati. Sudah dimatikan batang otaknya.

Saat meninggal kemarin umurnya 59 tahun. Persis 10 tahun setelah meninggalnya sang pendiri: Haji Lukminto (Ie Djie Shien).

Setidaknya Sritex sudah pernah membuat sejarah dalam hidupnya: menjadi pabrik tekstil terbesar di Indonesia.

Pernah menjadi kebanggaan Indonesia: bisa ekspor pakaian tentara ke banyak negara.

Tidak hanya pakaian. Termasuk segala keperluan tentara yang terkait dengan produk tekstil: tenda, ransel, tempat tidur lipat…

Lukminto lahir di Kertosono, Nganjuk, 1 Juni 1946. Ia meninggal di usia 67 tahun. Bintangnya sangat baik. Ia satu kampung dengan tokoh wartawan yang kemudian menjadi menteri lima periode: Harmoko. Yang juga jadi Ketua Umum Golkar di akhir zaman Presiden Suharto. Lalu jadi ketua DPR/MPR yang secara resmi mencabut mandat Pak Harto sebagai presiden.

Harmoko pula yang mengajak Lukminto masuk Islam. Jadi mualaf. Naik haji. Usahanya maju pesat. Harmoko memiliki saham di Sritex sekitar 20 persen. Belakangan, setelah reformasi, saham itu sudah dijual semua.

Sepeninggal Lukminto Sritex diteruskan oleh dua anaknya: Iwan Kurniawan dan Iwan Setiawan. Nama depannya sama. Agar tetap membawa nama leluhur: marga Ie.

Iwan yang satu jadi komisaris utama, Iwan satunya jadi direktur utama.

Sebenarnya Lukminto punya lima anak. Tapi yang tiga perempuan: Vonny, Lanny, dan Margareth. Anda sudah tahu: di keluarga Tionghoa anak lelakilah yang mewarisi harta orang tua.

BACA JUGA :  Gunungan Sampah Longsor Picu Banjir, Pemkot Tangsel Gerak Cepat Tangani TPA Cipeucang

Di tangan anaknya ini Sritex terus berkembang. Luar biasa. Ke hulu. Ke hilir. Ke mana saja. Bahkan ke luar pagar.

Investasi terbarunya adalah: pabrik rayon –bahan baku benang tiruan. Rayon terbuat dari serat kayu yang sudah dijadikan pulp. Bisa sebagai pengganti kapas.

Investasi pabrik rayon ini sampai Rp 7 triliun. Termasuk untuk membangun pembangkit listrik. Pembangkitnya dua macam sekaligus: batu bara dan diesel.

Iwan tidak mau hanya mengandalkan listrik PLN. Rupanya Iwan tidak tahu kalau sejak kapan itu listrik PLN sudah sangat andal. Dan murah.

Bahkan ada pabrik tekstil yang menyesal membangun pembangkit sendiri: telanjur tidak percaya pada PLN. Sritex mengulangi penyesalan pengusaha tekstil yang menyesal itu.

Pabrik rayon Sritex itu dibangun di Wonogiri. Bayangkan bagaimana penyediaan batubaranya. Tiap hari harus angkut batubara pakai ratusan truk dari pelabuhan Semarang ke Wonogiri. Betapa mahalnya.

Dua tahun lalu pabrik rayon itu berhenti beroperasi. Tidak sampai berumur dua tahun sudah mati. Mati bayi. Investasi Rp 7 triliun sia-sia.

Seandainya pun hanya pakai listrik PLN –dengan minta layanan khusus, dilayani tiga gardu induk– belum tentu masih kompetitif. Penyebabnya: pabrik rayon lain punya bahan baku sendiri. Punya pabrik pulp sendiri. Bahkan punya hutan sendiri –yang bisa ditebang untuk dibuat pulp.

Sritex tidak punya pabrik pulp. Apalagi hutan tanaman industri. Pulpnya dibeli dari perusahaan India di Purwakarta: Indo Bharat.

Sritex memang sudah bergerak ke hulu tapi masih ada hulu-hulu lanjutan yang belum ia masuki.

Sebenarnya pengadilan pernah memberi perpanjangan umur Sritex. Tapi tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kala itu para kreditor mempailitkan Sritex. Utangnya senilai sekitar Rp 16 triliun macet. Baik kepada berbagai bank maupun ke para pemasok bahan baku, termasuk Indo Bharat.

BACA JUGA :  DISWAY: Suami Batak

Pengadilan memutuskan: homologasi. Perdamaian. Diaturlah perpanjangan pembayaran. Agar beban Sritex lebih ringan. Sritex bisa menyicil utang itu. Ada jadwal penyicilan yang disepakati.

Pembayaran cicilan itu pun berlangsung lancar. Sudah empat bulan. Tiba-tiba Sritex mendapat info: tagihan salah satu pemasoknya sudah dibayar lunas oleh perusahaan asuransi. Berarti Sritex tidak perlu menyicil lagi ke salah satu kreditornya itu: PT Indo Bharat.

Indo Bharat keberatan. Bahwa ia dibayar asuransi itu urusannya sendiri. Tidak ada hubungan dengan Sritex. Ia memang mengasuransikan tagihannya ke Sritex. Ketika Sritex tidak bisa membayar perusahaan asuransilah yang membayar.

Sritex menggugat Indo Bharat. Indo Bharat marah. Ia ajukan gugatan pailit ke pengadilan. Menang, dalam perjanjian kesepakatan homologasi tertulis: begitu cicilan tidak dibayar Sritex langsung pailit. Pailit final.

Sayang sekali. Padahal cicilan ke Indo Bharat termasuk kecil dibanding ke yang lain. Utang ke Indo Bharat juga tergolong kecil: sekitar Rp 80 miliar –dari total utang Ro 16 triliun.

Pengadilan pun dengan mudah memutuskan: Sritex pailit. Sritex nyata-nyata gagal bayar cicilan, apa pun penyebabnya.

Tapi upaya untuk berkelit dari pailit terus diupayakan. Termasuk secara politik. Jumlah buruh Sritex yang mencapai lebih 30.000 menjadi “kartu As”.

Gagal.

Maka tanggal 1 Ramadan kemarin resmi Sritex pailit. Pabrik ditutup. Hak-hak karyawan jelas: PHK. Lalu akan menerima pesangon sesuai dengan hukum perburuhan yang berlaku.

Semoga perusahaan masih punya uang di kasnya untuk pembayaran pesangon ini. Kalau tidak, harus menunggu Sritex laku dijual. Hasil penjualan perusahaan ini akan diprioritaskan untuk membayar pajak-pajak dan pesangon karyawan. Selebihnya dibagi secara proporsional kepada para kreditor.

Maka setelah ini akan ada lelang. Bisa terbuka. Bisa tertutup. Terserah kurator. Bisa dilelang parsial atau global. Terserah kurator. Bisa tanahnya dijual sendiri, pabriknya dijual sebagai besi tua, terserah kurator. Atau dijual ke pabrik tekstil lain yang ingin ekspansi. Terserah kurator.

BACA JUGA :  DISWAY: Faisal Basri

Maka pabrik-pabrik tekstil besar kini berlomba mengincar mayat Sritex. Tidak hanya pabrik di dalam negeri. Juga pabrik tekstil dari luar negeri. Anda sudah bisa mengira: hanya perusahaan tekstil dari Tiongkok yang mampu membeli mayat begitu mahalnya.

Lantas akan ke mana duo-Iwan putra Lukminto?

Bisakah ia jadi pemilik baru Sritex? Dengan cara ikut jadi pembeli dengan harga murah?

Tidak boleh. Teorinya. Tapi banyak terjadi: orang sepertinya bisa pakai nama orang lain.

Rasanya duo-Iwan tidak akan melakukan itu. Pertama, belum tentu dua bersaudara ini kompak. Kedua, mereka masih punya banyak perusahaan lain.

Iwan Kurniawan, dirut Sritex sepeninggal ayahnya, masih punya lima atau tujuh pabrik tekstil lain di luar Sritex. Iwan Setiawan tidak ikut di situ tapi juga masih punya usaha lain.

Sritex yang pailit hanya meliputi empat perusahaan. Jadi secara jumlah Iwan Kurniawan masih punya pabrik tekstil lebih banyak di luar Sritex. Di Boyolali. Di Semarang. Di Yogya. Hanya saja, secara nilai, mungkin gabungan empat perusahaan yang di Sritex lebih besar.

Maka doa kubur yang harus dibacakan hanya untuk yang empat itu. Disertai doa semoga cepat bisa lahir kembali dengan berganti bapak. Lalu buruh yang sudah terima pesangon bisa melamar kembali ke pabrik baru entah apa namanya nanti.

Begitu bertubi berita gelap belakangan ini di tengah upaya menyalakan lampu-lampu harapan baru. Coba Anda hitung mana yang lebih banyak: lampu yang mati atau lampu baru yang menyala lebih terang.(*)

 

Tulisan ini sudah tayang di Disway.id

Tags: dahlan iskandiswaylukmintoNganjukSemarangsritexSukoharjo
Previous Post

Hari Pertama Puasa, Warga Ciater Ramai-Ramai Berburu Takjil

Next Post

Polri-Kemendag Imbau Pedagang Jual Bahan Pokok dengan Harga Wajar

Related Posts

Usai Video Hadang Mahasiswa Viral, Ajudan Gubernur Kaltim Akhirnya Buka Suara
DAERAH

Usai Video Hadang Mahasiswa Viral, Ajudan Gubernur Kaltim Akhirnya Buka Suara

Oktober 21, 2026
2.4k
Berkat KUR BRI, Comring Sawargi Naik Kelas dan Buka Lapangan Kerja Bagi Warga Garut
ADVERTORIAL

Berkat KUR BRI, Comring Sawargi Naik Kelas dan Buka Lapangan Kerja Bagi Warga Garut

Oktober 21, 2026
2.5k
BMKG Gunakan Dry Ice untuk Urai Kabut Asap Karhutla di Sumatra dan Kalimantan
NASIONAL

BMKG Gunakan Dry Ice untuk Urai Kabut Asap Karhutla di Sumatra dan Kalimantan

Oktober 21, 2026
2.4k
cuaca panas
TANGERANG SELATAN

Prakiraan Cuaca Tangsel Hari Ini 21 Oktober 2026: Suhu Tembus 35 Derajat

Oktober 21, 2026
2.4k
Pengaruh Struktur Modal pada Nilai Perusahaan, Biaya Modal dan Harga Pasar
MOTIVASI & INSPIRASI

7 Cara Melunasi Utang Lebih Cepat Tanpa Mengorbankan Kebutuhan Sehari-hari

Oktober 20, 2026
2.4k
Agnez Mo Main Film Bareng Nicolas Cage, Syuting Dimulai November 2026
SELEBRITI

Agnez Mo Main Film Bareng Nicolas Cage, Syuting Dimulai November 2026

Oktober 20, 2026
2.4k
Next Post
Polri-Kemendag Imbau Pedagang Jual Bahan Pokok dengan Harga Wajar

Polri-Kemendag Imbau Pedagang Jual Bahan Pokok dengan Harga Wajar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com