TANGSELXPRESS – Agen Dinas Rahasia AS (Secret Service) kian memperketat pengamanan terhadap Donald Trump sejak beberapa minggu lalu. Seiring adanya wacana ancaman dari Negara Iran untuk membunuh mantan presiden AS tersebut.
Meski demikian, dikonfirmasi hal itu tidak ada kaitannya dengan percobaan pembunuhan terhadap Trump yang berlangsung pada Sabtu (13/7/2024) lalu, demikian dilaporkan media AS pada Selasa (16/7/2024). Dilansir dari VOA.
CNN melaporkan bahwa pihak berwenang AS menerima informasi intelijen dari seorang “sumber gelap” mengenai rencana Teheran untuk menargetkan sang mantan presiden Donald Trump, sehingga menyebabkan perlindungan bagi Trump diperketat. Media AS lainnya juga melaporkan hal serupa.
Akan tetapi, ancaman Iran itu tidak ada kaitannya dengan penembakan di acara kampanye Trump di Kota Butler, Pennsylvania, di mana pelaku penembakan, Thomas Matthew Crooks, melepaskan tembakan ke arah Trump dan menyebabkan capres dari Partai Republik itu terluka dan menewaskan seorang peserta kampanye.
Dewan Keamanan Nasional AS mengatakan pihaknya telah “melacak ancaman Iran terhadap para mantan pejabat pemerintahan Trump selama bertahun-tahun.
“Kami memperlakukan ini sebagai masalah keamanan nasional dan dalam negeri dengan prioritas tertinggi,” kata Juru Bicara Adrienne Watson dalam sebuah pernyataan.
“Penyelidikan penembakan Trump sendiri belum menemukan adanya hubungan antara pelaku penembakan dengan kaki tangan atau konspirator mana pun, baik asing maupun domestik,” tambahnya.
Watson merujuk pertanyaan mengenai “langkah tambahan yang sudah diterapkan selama beberapa minggu terakhir” ke Agen Dinas Rahasia dan Departemen Keamanan Dalam Negeri AS.
Juru Bicara Utama Dinas Rahasia AS, Anthony Guglielmi mengatakan, mereka dan lembaga-lembaga lain secara berkelanjutan menerima informasi mengenai potensi ancaman baru dan mengambil tindakan sesuai kebutuhan.
“Kami tidak dapat mengomentari ancaman spesifik apa pun selain menyatakan bahwa Dinas Rahasia menanggapi ancaman dengan serius dan merespons sepantasnya,” tambah Guglielmu dalam pernyataannya.
Hingga berita ini diturunkan, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS belum memberikan tanggapan apapun.







