TANGSELXPRESS – Isu penerima beasiswa dari negara Indonesia yang tak mau kembali ke Indonesia kembali menghangat saat Calon Presiden Nomor 1 Anies Baswedan menyinggungnya di hadapan ribuan peserta Resolusi Indonesia di Jakarta, Jumat (5/1) kemarin.
Anies Baswedan berharap, meski tak mau pulang, para penerima beasiswa tetap memberikan kontribusi ke negara. Misalnya, mereka bisa menjadi “Duta Indonesia” yang bisa mempromosikan kompetensi orang Indonesia di perusahaan-perusahaan luar negeri.
Salah satu pakar di dunia pendidikan, Dr. Phil., Ir. Rino Wicaksono, ST, MArchUD, MURP terpanggil untuk memberikan tanggapan tentang banyaknya penerima beasiswa luar negeri yang tidak mau pulang ke Indonesia.
Rino yang juga pernah mengecap beasiswa di luar negeri, dari Amerika Serikat dan Australia itu menjelaskan, bahwa beasiswa luar negeri sumbernya sangat banyak dan bervariasi.
“Ada beasiswa yang berasal dari negara Indonesia, negara lain, institusi dalam negeri, institusi di luar negeri, kampus di luar negeri atau dana penelitian professor atau dosen di luar negeri,” kata Caleg DPR RI Partai nomor 5 NasDem dari Dapil Banten III (Kota Tangsel, Kota Tangerang dan Tangerang Kabupaten) dengan nomor urut 4 itu.
Menurutnya, jika para scholarship recipients atau para penerima beasiswa tersebut mendapatkan beasiswa dari luar negeri, mereka memiliki kecenderungan lebih besar untuk tinggal di negara pemberi beasiswa setelah masa kuliah selesai.
Karena, kata Rino Wicaksono, bisa saja mereka memiliki kontrak kerja dengan pihak pemberi beasiswa.
Terkait banyaknya penerima beasiswa yang tak mau pulang ini, tak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk memaksa mereka pulang. Ini karena pemerintah tidak boleh melarang warga negaranya mencari ilmu dan mencari nafkah di luar negeri.
“Kalau pemerintah ingin warganya yang berpendidikan luar negeri kembali ke Indonesia, pemerintah harus bisa menghargai ilmu pengetahuan yang didapatkan dari luar negeri. Kemudian menciptakan banyak lapangan kerja, dan menciptakan suasana kerja yang nyaman, termasuk remunerasi, honor dan gaji yang kompetitif dengan dunia internasional,” kata pakar pembangunan wilayah dan tata kota itu.
Rino Wicaksono berpendapat, para penerima beasiswa luar negeri ini seharusnya pulang ke Tanah Air jika beasiswa yang mereka terima berasal dari pemerintah Indonesia.
Setelah selesai menempuh pendidikan, seharusnya mereka kembali dan mengabdi di Indonesia dalam kurun waktu tertentu.
“Sekali lagi, kalau tidak ada komitmen yang dilanggar, maka mereka bebas memilih untuk kerja di mana saja. Dan saya kira mereka tetap nasionalis, karena pasti ada uang mereka yang mengalir ke Indonesia,” kata Rino Wicaksono.
Soal proses pemilihan penerima beasiswa luar negeri saat ini, Rino Wicaksono berharap pemerintah harus lebih banyak lagi mengalokasikan dana untuk beasiswa dengan kegiatan yang lebih bervariasi.
Misalnya dana beasiswa untuk short course, practical training, technical training, D1, D2, D3, D4, S1, Specialists, S2, S3, post doctorates, business fellowship dan research fellowship.
“Baik untuk orang normal maupun orang berkebutuhan khusus,” kata Rino Wicaksono yang pernah mendapatkan beasiswa The Ship for South East Asian and Japan Youth Program (SSEAYP), American Field Service (AFS), Science Technology And Industrial Development Program (STAID-P) dan Australian Agency for International Development (AusAID) itu.







