Ini adalah sebuah kisah nyata. Nama dan tempat sengaja kami samarkan.
TANGSELXPRESS – Kami sangat bersyukur karena pada akhirnya kami terbebas dari kutukan rumah yang puluhan tahun kami tempati. Ini setelah kami memutuskan untuk pindah ke tempat tinggal yang baru, yang jaraknya cukup jauh dari rumah lama.
Sejak menempati rumah itu, beragam ujian berat kami terima. Mulai anggota keluarga yang keluar masuk rumah sakit, kehancuran ekonomi, hingga pertengkaran yang terjadi di antara anggota keluarga.
Dari sekian banyak penasihat spiritual yang kami temui, semuanya mengatakan, sumber malapetaka itu adalah makhluk astral yang menghuni rumah itu. Tidak hanya satu makhluk, tapi ada puluhan.
“Mereka semua menganggu kebahagiaan keluarga ibu. Sedangkan untuk mengusir mereka, sangat sulit karena mereka sudah ratusan tahun tinggal di sini,” kata Pak Karno, salah satu tokoh spiritual di kota kami.
Cerita horor di rumah itu sudah tak terhitung banyaknya. Anak kami yang paling kecil, sebut saja namanya Yuda, pernah mendapat pengalaman yang cukup mengerikan. Suatu sore, dia sedang tidur di kamar belakang sendirian. Tiba-tiba, ranjang tempat tidur berguncang hebat. Seperti ada yang menggoyang-goyang.
Di saat yang bersamaan, Yuda melihat sosok pria tua berjenggot putih. Rambutnya panjang, juga berwarna putih. Matanya merah seperti sedang marah.
Yuda ketakutan setengah mati. Dan dia pun lari minta tolong.
Beberapa hari kemudian, Yuda jatuh sakit. Tubuhnya panas, dan sempat kejang-kejang. Bayangan iblis berjenggot putih masih menghantuinya.
Teror yang menimpa Yuda baru berhenti setelah kami meminta tolong kepada seorang tokoh supranatural.
“Dia gak bisa kita usir, paling cuma bisa kita minta untuk tidak mengganggu,” kata Pak Karno.
Teror hantu ini tak berhenti sampai di sini. Kamar depan, ternyata juga terdeteksi dihuni iblis wanita yang cukup menakutkan.
Cerita itu bermula ketika adik kami bersama suaminya menginap di rumah itu. Saat itulah, iblis wanita itu menampakkan diri. Iblis itu menunjukkan sikap tidak suka kepada adik kami dan suaminya.Iblis berbaju merah itu menggedor-gedor pintu dan berteriak hingga memekakkan telinga.
Dia meminta adik saya dan suaminya keluar kamar. Keberadaan mereka di kamar itu dianggapnya mengganggu ketenangan dia.
Adik saya dan suami kontan ketakutan. Yang aneh, semua anggota keluarga kami tak ada yang mendengar jika di dalam ada iblis yang sedang mengamuk. Padahal, iblis wanita itu berteriak sangat keras sambil menggedor-gedor pintu.
Cerita lainnya, anak saya yang nomor dua, sebut saja namanya Faisal. Pernah bertemu dengan makhluk hitam berbulu di kamar mandi.
Itu terjadi sore hari jelang maghrib. Saat itu, Faisal berniat mandi sore. Namun, dia mendengar seseorang sedang mandi. Sambil mengeluarkan suara berdehem. Faisal tahu, suara itu bukanlah suara anggota keluarganya.
Rasa penasaran membuatnya untuk mengintip siapa gerangan yang mandi di dalam kecil. Matanya terbelalak saat dia melihat sosok makhluk berbulu hitam lebat sedang mandi. Itulah sosok genderuwo penghuni kamar mandi rumah kami.
Teror para iblis itu tidak hanya dalam wujud atau penampakan. Mereka juga mengganggu kehidupan keluarga kami.
Suami saya, yang sebelumnya kalem, sabar dan tenang, tiba-tiba saja berubah watak. Mas Imam menjadi sosok yang beringas, senang main judi, mabuk dan sering melakukan KDRT kepada saya.
Kata Pak Karno, Mas Imam telah dipengaruhi sihir para iblis penghuni rumah kami. Hampir setiap hari, saya dan Mas Imam selalu bertengkar. Kadang, kami bertengkar karena hal-hal sepele yang tidak jelas ujung pangkalnya. Hal inilah yang kemudian mempengaruhi mental anak-anak kami.
Erny, anak sulung kami memilih ngekos meski sekolahnya sebenarnya tak jauh dari rumah. Sementara Faisal sering kabur dari rumah karena tak tahan melihat saya dan Mas Imam selalu bertengkar. Sedangkan Yuda, yang masih terlalu kecil, sering jatuh sakit dan kesurupan.
Pun demikian dengan Mas Imam. Dia sering keluar masuk rumah sakit karena beragam penyakit. Mulai ginjal, liver dan penyakit lainnya.
Tak hanya Mas Imam, saya pun juga sering masuk ruang perawatan rumah sakit karena penyakit yang misterius.
Hingga pada akhirnya, ekonomi keluarga kami runtuh. Kami harus meninggalkan rumah itu dan pindah ke rumah yang jauh lebih kecil.
Mungkin ini sudah suratan takdir, di rumah baru kehidupan kami jauh lebih baik. Mas Imam telah kembali seperti Mas Imam sebelumnya. Yang sabar, penyayang dan pekerja keras.
Lambat laun, ekonomi keluarga kami kembali pulih. Dan kami bisa membeli beberapa rumah di samping kanan dan kiri tempat tinggal kami yang baru.
Sementara, kutukan rumah angker itu berlanjut kepada penghuni baru yang membeli rumah kami. (*)







