TANGSELXPRESS – Ini sebuah cerita mistis yang baru saja dialami penulis yang juga jurnalis Tangselxpress.com. Sebuah cerita yang sangat sulit dipahami dengan akal sehat. Bertemu dengan makhluk kasat mata, di alam nyata dan alam mimpi. Berikut penuturannya…
Saya benar-benar tak pernah menyangka jika akan mengalami peristiwa horor yang cukup membingungkan saya.
Cerita ini bermula Ketika saya bersama tiga rekan saya bertemu dengan Nawi, seorang sahabat di sebuah hotel di Bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (6/8) lalu.
Selain saya, saat itu ada Etty Said Alkadrie. Dia adalah Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Tangselxpress.com,
sebuah media online yang kami bangun di Kota Tangerang Selatan.
Sedangkan dua kawan lainnya adalah Yusuf Asyari dan Imam. Mereka berdua juga seorang jurnalis, tapi beda media dengan kami.
Kami bertemu dengan Nawi, sedianya untuk menimba ilmu tentang bisnis kelautan dan perikanan. Ceritanya, saat itu kami ingin mentransformasi diri kami menjadi pengusaha kelautan.
Obrolan sore hari di meja restoran hotel tentang rencana bisnis seolah membawa kami lupa akan waktu. Yusuf yang jebolan Pondok Pesantren dari Majalengka, Jawa Barat itu ternyata lebih dulu sadar akan waktu Salat Maghrib.
Pria kalem itu beranjak dari tempat duduk paling awal untuk pergi ke musala.
Setelah beberapa saat kemudian, Imam menyusul untuk menjalankan Salat Maghrib.
Saat Yusuf kembali ke meja makan, saya sempat melihat arloji saya. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 18.45 WIB. Waktu Salat Maghrib sudah hampir habis.
“Mas enggak Salat Maghrib?,” ingat Etty kepada saya.
“Mas Musala di mana,” tanya saya kepada Yusuf yang kebetulan duduk di dekat saya. “Lantai dua Mas, di pojok,” jawab Yusuf.
Saya pun segera beranjak menuju lantai dua. Saya memilih naik tangga dibandingkan naik lift. Pikir saya, itung-itung olahraga, cari keringat dan memperkuat otot kaki.
Perasaan saya menjadi kurang nyaman saat kaki saya menginjak lantai dua hotel itu. Sepi, tak ada satupun orang berada di lantai itu. Baunya juga rada apek, bau yang tak wajar untuk ukuran hotel sekeren itu.
Biasanya, setiap lantai hotel berbintang selalu harum dan bersih. Tapi ini beda banget, sepi dan agak gimana gitu.
Mata saya sempat menyapu semua sudut lantai dua untuk mencari lokasi musala. Ternyata, musalanya berada di ujung lorong sebelah kiri hotel.
Saya pun menuju kesana. Jujur, perasaan saya waktu itu sudah mulai gak enak.
Hati saya agak lega saat tiba di ujung lorong. Saya menemukan ada sepatu Adidas warna hitam yang tergeletak di lantai. Saya tahu, itu sepatunya Imam.
Saya kemudian melepas sepatu di situ juga. Dan meletakkan sepatu Bocorocco saya tak jauh dari sepatu milik Imam.
Saya kemudian mengambil wudu, dan sempat bingung karena tak melihat musala di sana. Ternyata, untuk menuju musala itu, harus melewati tempat wudu.
Setibanya di musala, kondisinya juga sama. Sepi, dengan lampu yang kurang begitu terang.
Di sana, saya hanya melihat Imam dan seorang pria sepuh yang sedang mengaji di depan mimbar. Saat itu, Imam baru saja menyelesaikan Salat Maghrib nya dan kemudian beranjak pergi untuk bergabung dengan Etty, Yusuf dan Nawi di restoran hotel lantai bawah.
Saya pun mengucapkan niat Salat Maghrib. Saya sempat terkejut saat merasa pundak kanan saya ditepuk seseorang yang ingin makmum kepada saya. Namun , saya tahu tak ada seseorang di belakang saya.
Saya sendirian. Benar-benar salat sendirian.
Merasa ganjil, saya memutuskan untuk mempercepat salat tiga rakat saya. Setelah salam, saya pun segera beranjak pergi dari tempat itu. Saya masih sempat melihat bapak tua yang masih melanjutkan mengajinya sebelum meninggalkan musala.
Aneh terjadi saat saya akan mengenakan sepatu. Saat itulah, saya mendengar kran di tempat wudu menyala. Saya mendengar dengan jelas suara air keluar dari ujung kran.
Penasaran, saya sempat melongok ke tempat wudu. Tapi saya tak melihat siapapun manusia sedang berwudu di sana. “Tak ada siapa-siapa, duh gak bener ini,” batinku dan segera beranjak pergi dari tempat itu.
Jujur, saat itu pikiran saya langsung kacau. Ada rasa takut yang menyeruak dalam pikiran dan hati saya. “Jangan-jangan itu tadi hantu,” batin saya.
Sampai di meja makan, ternyata Etty tahu perubahan di wajah saya. “Mas ada apa, kok mukanya pucat begitu?,” tanya Etty heran.
Waktu itu, saya hanya menjawab. “Lantai dua horor”
Jawaban saya ini, ternyata juga memancing Yusuf dan Imam. Dua sahabat saya ini ternyata juga merasakan aura horor di lantai dua.
“Eh iya, saya juga ngerasa gitu, kayak horor,” kata Yusuf.
Namun , saat itu kami memilih untuk tidak membahas horor yang kami alami. Kami memilih melanjutkan pembicaraan tentang rencana bisnis kelautan dan perikanan.
Pukul 19.30 WIB, kami kemudian berpamitan kepada Nawi. Dan kami beranjak pulang.
Saya sendiri, sebenarnya sudah berusaha melupakan peristiwa horor di hotel itu. Saya memilih menyibukkan diri dengan tugas-tugas rutin saya sebagai Direktur Utama Tangselxpress.com.
Apalagi, kami dalam waktu dekat juga akan menggelar even besar bertajuk Tangselicious, bazar kuliner terbesar di Kota Tangsel yang akan digelar 25 hingga 27 Agustus nanti.
Namun, cerita horor itu tetap saja berlanjut. Saya benar-benar tidak habis pikir dengan kejadian yang saya alami ini.
Kamis (10/8) dinihari, dalam tidur saya.
Saya mengalami mimpi yang sangat aneh. Saya bermimpi berada di hotel itu kembali. Bersama Etty, Imam, dan Yusuf untuk menemui Nawi.
Di mimpi itu, saya mengalami hal yang sama persis dengan peristiwa horor di hari Minggu lalu. Tentang Yusuf yang salat duluan, kemudian disusul Imam. Kemudian saya yang pergi salat setelah diingatkan Etty Said Alkadrie.
Bahkan, cerita di lantai dua itu juga tergambar persis di dalam mimpi saya.
Yang membedakan adalah, saat saya memakai sepatu usai menjalani Salat Maghrib. Dalam peristiwa horor di hari Minggu, saya tak melihat siapapun di tempat wudu saat air kran menyala dengan sendirinya.
Namun di dalam mimpi saya.
Saya melihat seorang pemuda yang sedang mengambil air wudu. Dia kemudian menoleh dan menatap saya dengan tajam. Seolah memperkenalkan diri, “Ini lho saya yang sempat bikin kamu penasaran hari Minggu lalu”
Namun, wajahnya membuat saya takut setengah mati. Wajahnya terbalik, mulut di atas dan mata di bawah.
Dan saat itulah saya ketakutan dan terbangun dari mimpi. Mimpi itu benar-benar membuat saya takut, dada saya berdebar sangat keras.
Hingga cerita ini saya tulis, masih ada rasa takut di hati saya.
“Mas tuh diikutin sama jin penunggu toilet itu. Dia menampakkan diri di mimpi Mas, bukan saat Mas berada di sana,” kata Etty saat saya menceritakan peristiwa horor ini sama dia.
Duh seremnya………..







