TANGSELXPRESS – Peringatan Hari Ibu yang digelar oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Tangsel bekerjasama dengan Pemkot Tangsel tahun ini memberikan kado istimewa dan penghargaan kepada 14 ibu tangguh dan ibu disabilitas.
Acara peringatan Hari Ibu yang bertema “Ibu Sehat Bahagia dan Berdaya, Keluarga Sejahtera” diselenggarakan di Waroeng Lengkong, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Sabtu (24/12).
Berikut daftar nama dan sekilas biografi Ibu Tangguh Kota Tangsel 2022
1. Yohana
Wanita kelahiran 1 Januari 1956 ini menjadi single parent sejak suami meninggal dunia pada 2017 karena penyakit diabetes. Sejak itu, Ibu Yohana yang bekerja sebagai penjahit pakaian wanita tanpa lelah terus semangat menghidupi ketiga anaknya.
Selain itu, Ibu Yohana juga aktif sebagai kader Posbindu, mengajar jahit di Gerai Lengkong dan mengajar qosidah di lingkungan rumahnya di Pondok Kacang, Kecamatan Pondok Aren, Tangsel.
2. Monalita
Wanita berusia 42 tahun ini bekerja keras menghidupi keempat anaknya seorang diri. Sang suami tercinta wafat pada 19 Januari 2017 silam dalam keadaan mendadak.
Luluh lantak hati Ibu Monalita tak membuatnya berlama terpuruk dalam kesedihan. Dengan penuh semangat ia aktif menyibukkan diri dengan memproduksi berbagai macam makanan dan melayani katering.
3. Rokabah
Wanita 42 tahun ini merupakan wanita tangguh. Tanpa keluh, Rokabah menggantikan peran sang suami sebagai pencari nafkah, setelah sang suami Suripto yang berusia 50 tahun menderita lumpuh. Sang suami sakit, ketika Ibu Rokabah mengandung anak ketiga.
Sehari-hari Rokabah berjualan nasi kuning. Dalam menghidupi keluarga, Rokabah dibantu sang anak pertama bernama Yuniariska yang bekerja di mal SMS Gading Serpong.
4. Rostini
Wanita kelahiran 17 Juni 1982 ini ditinggal suami tercinta pada 2019 karena sakit abses paru-paru. Saat ditinggal, ketiga anak Rostini masih di kelas 11, kelas 7 dan yang bungsu berusia 3 tahun.
Rostini berjuang mencari nafkah dari upah menjahit. Alhamdulillah dengan gigih dan pantang semangat, rezeki Ibu Rostini terus mengalir dengan bertambahnya pelanggan jahitnya.
5. Sumiyati
Tak sempurna bukan berarti tak bisa bahagia. Wanita tangguh berusia 47 tahun ini menderita disabilitas polio sejak berusia 14 bulan. Pantang menyerah dan tanpa keluh, Sumiyati menjalani hidupnya bersama kedua anaknya dan sang suami.
Namun, takdir kembali menguji hidupnya. Sang suami, wafat pada Januari 2021 lalu. Sumiyati benar-benar kehilangan sandaran hidupnya. Tapi lagi-lagi tanpa lelah, ia terus menjalani hidupnya. Kini, aktivitas sehari-hari Ibu Sumiyati berjualan kue dan mengajar mengaji.
6. Etty Kadriwaty
Sendiri bukan berarti tak bahagia. Begitu yang ditanamkan dalam benak hati Etty Kadriwaty, seusai ditinggal wafat sang suami tercinta pada Oktober 2018 lalu. Kala itu, dunia Etty serasa runtuh. Sandaran hidup pergi untuk selama-lamanya.
Dunia Etty pun berubah. Yang semula hanya ibu rumah tangga dan sibuk sebagai komite di sekolah anak, terpaksa harus bekerja mencari nafkah.
Tak mau berlama-lama larut dalam kesedihan, Ibu dari tiga anak ini mengikuti jejak almarhum suami dengan mendirikan perusahaan media massa dan event organizer di Tangerang Selatan. Selain itu, dia juga aktif di berbagai komunitas perempuan.

7. Irma Husnul Khotimah
Ketangguhan Irma Husnul Khotimah diuji ketika sang suami wafat pada 2011 lalu. Wanita kelahiran 28 April 1975 ini sempat bingung apa yang harus diperbuat sepeninggal sang suami.
Bersyukur, Allah memberikan jalan rezeki kepadanya. Sempat bermodalkan 100 ribu rupiah, Irma mulai berjualan kue. Pada 2013, ia mulai menekuni usaha jual sagon. Jalan tak serta merta mulus.
Penuh perjuangan hingga akhirnya produk sagon bakarnya makin dikenal dan dijual di Gerai Lengkong sebagai oleh-oleh Khas Tangsel. Tidak ada kemenangan tanpa adanya perjuangan, begitu motto hidup Irma.
8. Farieda Rindayani
Sang suami tercinta wafat pada tahun lalu. Farieda Rindayani sempat larut dalam kesedihan, apalagi kala itu kedua anaknya sedang menginjak remaja. Tak hanya kedua anaknya, Farieda juga mengurus ibunda yang mengalami sakit katarak.
Namun, berstatus single parent membuat Farieda semakin tangguh. Wanita kelahiran 11 September 1970 ini aktif sebagai Sekretaris RT, pendamping UMKM dan pengurus Komunitas Tangguh Berkibar.
Bergabung di komunitas Tangguh Berkibar memberikan Farieda banyak pelajaran bagaimana berbagi, toleransi dan menjadi maju.
9. Herliza JJ Habib
Pandemi Covid-19 meninggalkan luka mendalam bagi Herliza JJ Habib. Pada tahun lalu, sang suami terdeteksi Covid-19 dan dalam hitungan tiga hari, tepatnya pada 14 Juli 2021, sang suami meninggal dunia.
Sejak itu, Liza panggilannya, berganti peran menjadi tulang punggung keluarga menghidupi ketiga anaknya.
Selain menjadi konsultan di Smart Fingerprint, Liza juga membuka usaha franchise Ayam Bakar Irzah, restoran ayam kesukaan almarhum suami.
Meski kadang masih larut dalam kesedihan, Liza tetap bangkit terlebih ada tiga anak yang diamanahkan kepadanya. Anak-anak yang menjadi alasan Liza untuk terus hidup dan berjuang untuk bahagia.
10. Hikmah Almassawa
Hikmah Almassawa merupakan ibu tangguh yang menginspirasi. Ujian terus berdatangan, namun ia tetap kuat berdiri. Ujian pertama diawali ketika anak pertamanya bernama Ahmad Hilmy yang lahir pada Januari 1998 dinyatakan sebagai seorang tuna netra total.
Lalu, ujian kedua pada 2016 ketika sang suami meninggal dunia setelah berjuang melawan kanker hati.
Hikmah tak lantas terpuruk. Dia terus bangkit dan berusaha menjadikan anak-anaknya menjadi anak yang hebat. Saat ini ia aktif sebagai relawan tuna netra yang berjualan kerupuk di Pondok Cabe. Tak saja itu, ibu tiga anak ini juga aktif memberikan pelatihan kopi pada semua anak disabilitas.
11. Yati Maemunah
Yati Maemunah punya banyak kegiatan sosial yang ditekuni. Ini bukti ketangguhan dirinya apalagi ketika tahun 2019, sang suami pergi untuk selama-lamanya karena serangan jantung.
Sepeninggal sang suami, Yati menyibukkan diri di berbagai kegiatan sosial antara lain sebagai Ketua Posyandu, Sekretaris Ipemi Ciputat Timur, Ketua Pepi Emerald Ciputat Timur, Sekretaris Bela Negara FKBN Provinsi Banten dan Sekretaris FKPPI Ciputat Timur.
Untuk hidup sehari-hari, Yati membuka usaha sambal yang diberi merek Sambal Bu Erte. Usahanya makin naik kelas dengan bimbingan dari dinas dan komunitas. Kini, Yati hidup bahagia bersama ketiga anaknya.
12. Irma Poppy
Irma Poppy sudah sejak lama berjuang seorang diri menghidupi anak semata wayangnya. Sang suami wafat pada tahun 1992 kala usia pernikahan mereka baru berusia 5 tahun, dan anak mereka berusia 4 tahun.
Irma yang semula hanya ibu rumah tangga pun mengerahkan segala kemampuannya. Berawal mulai membuka salon, sanggar senam dan studio musik. Usaha-usaha tersebut tak selalu berjalan lancar. Jatuh bangun yang dirasakannya. Hingga akhirnya saat ini Irma sukses beralih ke bisnis kuliner. Irma juga merupakan penggiat sosial, dia aktif di berbagai organisasi sosial.
13. Wilda Afosma
Ujian yang dialami Ibu Wilda Afosma bertubi-tubi datang. Pada 2008, sang suami pergi untuk selamanya. Saat itu, belum kering airmatanya usai ditinggal sang anak yang wafat pada usia 14 tahun pada 2007.
Kekalutan menimpa hati dan pikiran Ibu Wilda saat itu. Ada dua anak yang masih kecil yang menjadi tanggungannya.
Bersyukur saat itu, Wilda masih siaran di TVRI dan mengajar di Interstudi selain mendapatkan pensiun suami yang seorang PNS.
Kini, Ibu Wilda menjadi pengajar MC dan Public Speaking di Tangerang juga aktif di seksi Pendidikan DPP FPPI dan pengurus Koperasi Syariah BKMT Tangsel.
14. Sri Handayani
Sri Handayani, wanita berusia 48 tahun ini menjadi single parent sejak sang suami meninggal pada Juli 2021. Kepergian suami tercinta terbilang mendadak. Serangan jantung mengakhiri hidup sang suami.
Kepergian suami, benar-benar membuat Sri terpukul. Terbayang dalam benaknya betap beratnya mengasuh tiga anak seorang diri.
Namun, Sri tak mau berputus asa. Dia memilih menyibukkan diri sebagai guru PAUD dan aktif sebagai kader Posyandu.







