TANGERANG SELATAN – Warga RT 002/004, Gang Musollah, Kebon Manggis, Kelurahan Pondok Kacang Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, mengeluhkan pekerjaan galian saluran drainase yang terhenti selama sekitar tujuh hari tanpa adanya aktivitas lanjutan dari pelaksana proyek.
Pantauan di lokasi menunjukkan material bekas galian berupa tanah dan puing masih menumpuk di sepanjang badan jalan. Kondisi tersebut menyebabkan akses kendaraan menjadi lebih sempit, mengganggu aktivitas warga, serta dikhawatirkan membahayakan pengguna jalan, terutama pada malam hari maupun saat hujan.
Salah seorang warga, Andri, mengatakan sejak proses penggalian dilakukan pada akhir pekan lalu, tidak terlihat lagi adanya pekerja maupun alat yang beroperasi di lokasi.
“Hari Sabtu mereka sudah melakukan penggalian, tapi sampai hari Jumat ini baik itu tanah dan galian tidak sama sekali dikerjakan,” kata Andri kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, tanah hasil galian yang seharusnya segera diangkut justru dibiarkan menumpuk tanpa kejelasan. Ia mengaku khawatir kondisi tersebut dapat membahayakan anak-anak yang beraktivitas di lingkungan sekitar.
“Mau sampai kapan galian itu mangkrak, padahal katanya pekerjaan hanya 7 hari, ini sudah lebih. Kami kasihan warga kalau ada yang sakit atau butuh urgent untuk pakai kendaraan tidak bisa lewat,” tegasnya.
Warga berharap instansi terkait maupun kontraktor pelaksana segera melanjutkan pekerjaan hingga selesai. Selain percepatan pembangunan, warga juga meminta adanya pengamanan yang memadai di sekitar lokasi proyek, seperti pemasangan pagar pembatas dan rambu peringatan guna mengurangi risiko kecelakaan.
“Pengumuman ke warga tidak ada, papan informasi pekerjaan juga tidak ada, bahkan imbauan keselamatan dan gangguan juga tidak tersedia,” ujarnya.
Meski demikian, Andri menilai pembangunan saluran drainase merupakan program yang positif untuk mengurangi genangan air di kawasan tersebut. Namun, pelaksanaannya diharapkan dilakukan secara profesional dengan tetap memperhatikan keselamatan dan kenyamanan masyarakat.
“Kami mendukung program ini, tapi kalau pekerjaannya semaunya, kesannya hanya memperlambat pekerjaan sehingga anggaran yang harusnya untuk 5 sampai 7 hari bisa membengkak karena durasi pekerjaan yang molor,” tuturnya.
Sementara itu, salah seorang pekerja yang mengaku berasal dari Garut, Jawa Barat, enggan memberikan banyak komentar. Menurutnya, seluruh keputusan berada di tangan mandor proyek.
“Soal tanah, kami sampai sekarang tidak diberikan mobil untuk buang tanah dan puing. Ini belum dikerjain karena kami diminta mengerjakan yang di depan gang terlebih dahulu,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait mengenai penyebab terhentinya pekerjaan tersebut. Warga berharap pekerjaan dapat segera dilanjutkan agar aktivitas masyarakat kembali normal dan tidak menimbulkan risiko keselamatan.







