JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Kementerian Perhubungan melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan kapasitas layanan Commuter Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Upaya ini dilakukan seiring melonjaknya jumlah pengguna KRL di koridor tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, mengatakan peningkatan kapasitas ditujukan untuk memberikan kenyamanan yang lebih baik sekaligus memperluas pilihan perjalanan bagi masyarakat.
“Peningkatan kapasitas agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan,” ujar Bobby dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (7/6).
Salah satu langkah yang dilakukan adalah meningkatkan kapasitas sistem listrik aliran atas (LAA) dari 3.000 volt menjadi 4.000 volt, setara dengan lintas Bogor dan Bekasi. Selama ini, keterbatasan daya listrik menjadi kendala dalam pengoperasian rangkaian KRL dengan formasi 12 kereta.
Untuk mendukung peningkatan tersebut, KAI akan membangun 11 gardu traksi baru. Penambahan infrastruktur ini diharapkan mampu menunjang operasional kereta dengan kapasitas lebih besar sehingga dapat mengakomodasi lonjakan penumpang, terutama pada jam sibuk.
Selain peningkatan daya listrik, modernisasi sistem persinyalan juga menjadi fokus utama. Saat ini lintas Rangkasbitung masih menggunakan sistem blok tertutup yang membatasi frekuensi perjalanan kereta. Akibatnya, jarak kedatangan antar-KRL atau headway masih berada di kisaran 10 menit, lebih lama dibandingkan lintas Bogor dan Bekasi yang sudah mencapai 3 hingga 4 menit.
Dengan pembaruan sistem persinyalan, frekuensi perjalanan kereta diharapkan meningkat sehingga waktu tunggu penumpang dapat dipersingkat.
Direktorat Jenderal Perkeretaapian menyebut proyek ini merupakan bentuk kolaborasi antara regulator dan operator untuk memperkuat layanan transportasi massal di kawasan Jabodetabek yang terus mengalami pertumbuhan kebutuhan mobilitas.
Data KAI menunjukkan jumlah pengguna Rangkasbitung Line meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022 tercatat sebanyak 43,3 juta pelanggan, lalu melonjak menjadi 77,5 juta pelanggan pada 2025. Sementara sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah pengguna telah menembus 33 juta orang.
Tingginya permintaan layanan juga tercermin dari tingkat okupansi pada jam sibuk yang mencapai sekitar 161 persen, tertinggi di antara seluruh lintas KRL Jabodetabek.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan peningkatan kapasitas ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berkembang di wilayah Jabodetabek.







