TANGERANG SELATAN – Rasa cemas tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai keluhan fisik seperti nyeri dada, mual, hingga sensasi panas atau terbakar di area dada. Gejala tersebut kerap dikaitkan dengan meningkatnya asam lambung saat seseorang mengalami tekanan emosional.
Dalam dunia medis, kondisi naiknya asam lambung yang terjadi berulang dikenal sebagai Gastroesophageal Reflux Disease atau GERD. Para ahli menjelaskan bahwa hubungan antara kecemasan dan GERD bersifat timbal balik, sehingga keduanya dapat saling memengaruhi.
Ketika seseorang mengalami gejala asam lambung, kondisi tersebut dapat memicu rasa khawatir atau stres. Sebaliknya, kecemasan yang berlebihan juga berpotensi memperburuk gejala yang sudah ada.
“Jika Anda merasakan ketidaknyamanan di tubuh, hal itu bisa menimbulkan stres. Dan stres tersebut kemudian dapat memperburuk kondisi fisik yang sudah terjadi,” ujar Stephen Lupe seperti dikutip dari Everyday Health.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa stres dan kecemasan dapat memengaruhi fungsi otot di bagian bawah kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES). Ketika otot tersebut menjadi lebih rileks, asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi terbakar yang khas pada penderita GERD.
Meski demikian, tidak semua orang yang merasakan gejala serupa benar-benar mengalami GERD berdasarkan hasil pemeriksaan medis. Pada sebagian kasus, pasien tetap merasakan keluhan yang kuat meskipun hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi yang normal.
Ahli gastroenterologi Fernando Herbella menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat berkaitan dengan reflux hypersensitivity, yaitu keadaan ketika seseorang memiliki sensitivitas yang lebih tinggi terhadap sensasi nyeri atau ketidaknyamanan di saluran cerna.
“Pasien dengan kecemasan atau depresi menunjukkan sensitivitas yang lebih tinggi terhadap sensasi nyeri,” kata Fernando.
Karena itu, para ahli menilai penanganan GERD yang berkaitan dengan kecemasan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada gejala fisik, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental dan pengelolaan stres.
“Intervensi seperti terapi perilaku kognitif, meditasi mindfulness, dan teknik relaksasi dapat membantu mengurangi beban pada sistem saraf,” pungkasnya.
Pendekatan yang menggabungkan perawatan fisik dan psikologis dinilai dapat membantu mengurangi frekuensi kekambuhan gejala sekaligus meningkatkan kualitas hidup penderita.







