BAHASA merupakan salah satu aspek fundamental dalam kehidupan manusia yang berperan sebagai alat komunikasi, identitas budaya, serta media penyampaian ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, literasi bahasa Indonesia yang mencakup keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan baik dan benar menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah membawa perubahan signifikan terhadap penggunaan dan pemahaman bahasa tersebut.
Era digital yang ditandai dengan berkembangnya internet serta media sosial memang memungkinkan akses informasi secara cepat dan luas, tetapi hal ini juga memberikan dampak besar yang memicu berbagai tantangan baru.
Munculnya fenomena digital ini dibarengi dengan menurunnya kebiasaan membaca teks panjang dan maraknya informasi hoaks di tengah masyarakat. Penggunaan bahasa dalam berkomunikasi pun kini cenderung menjadi informal dan sering kali tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Tantangan tersebut semakin diperberat oleh rendahnya minat baca di kalangan generasi muda yang lebih banyak mengonsumsi konten visual dibandingkan teks, serta lemahnya literasi kritis yang membuat pengguna internet kesulitan membedakan informasi valid dari informasi yang menyesatkan. Di sisi lain, arus globalisasi dan dominasi konten berbahasa asing di dunia digital menyebabkan meningkatnya penggunaan kata serapan serta istilah asing dalam komunikasi sehari-hari. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini berpotensi menggeser penggunaan kosakata asli bahasa Indonesia dan memengaruhi struktur bahasa secara keseluruhan.
Menurut pandangan saya, teknologi memberikan peluang besar melalui kemudahan akses informasi, pembelajaran berbasis AI yang interaktif, serta media sosial sebagai sarana promosi identitas nasional yang kreatif. Namun, di sisi lain, terdapat ancaman nyata berupa melemahnya daya kritis terhadap hoaks, maraknya penggunaan bahasa informal yang mengabaikan kaidah baku, serta dominasi istilah asing yang berisiko mengikis kosakata asli nasional. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan kemajuan digital secara bijak demi menjaga integritas dan standar kualitas literasi bahasa Indonesia.
Menurut saya, kunci utama bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan digital adalah dengan memperkuat literasi digital yang kritis. Kita harus disiplin dalam menyaring informasi agar tidak terjebak hoaks, sekaligus memiliki kesadaran tinggi untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam interaksi di media sosial. Selain itu, kita perlu mengambil peran aktif sebagai kreator konten edukatif.
Dengan mengemas penggunaan bahasa baku ke dalam format yang menarik seperti video atau infografis, kita dapat memopulerkan identitas bangsa secara kreatif. Dengan cara ini, kita tidak hanya menjaga integritas bahasa nasional, tetapi juga mampu mengubah arus globalisasi menjadi peluang untuk menunjukkan jati diri bangsa di ranah digital secara konsisten dan bermartabat.
Contoh fenomena nyata nya terdapat Fenomena “Bahasa Anak Jaksel” dan campur kode (Code-Mixing). Tren mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris (seperti penggunaan kata literally, which is, basically) merupakan bentuk adaptasi identitas sosial di era global. Meskipun kreatif, fenomena ini menunjukkan tantangan dalam menjaga kemurnian struktur bahasa di situasi formal. Rendahnya literasi digital dan kerentanan terhadap hoaks. Berdasarkan data dari Institute for Management Development (IMD) dan pernyataan resmi pemerintah, Riset menunjukkan bahwa masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial namun sering kali bingung membedakan antara konten hoaks dan fakta.
Penulis:







