• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Rabu, 29 April, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • SERBA SERBI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • SERBA SERBI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Harga Produk Itu Fair atau Settingan? Mengulik Strategi di Balik Angka!

Aenna Rahman by Aenna Rahman
April 29, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 3min read
Harga Produk Itu Fair atau Settingan? Mengulik Strategi di Balik Angka!
223
SHARES
2.7k
VIEWS

DALAM kehidupan sehari-hari, kita sering menemui harga produk yang berubah-ubah. Hari ini terasa mahal, besok tiba-tiba jadi murah karena diskon. Di satu sisi, ada produk yang harganya tinggi tapi tetap diminati, sementara di sisi lain ada juga produk murah yang justru kurang laku. Kondisi ini sering menimbulkan pertanyaan sederhana: sebenarnya harga itu benar-benar “adil”, atau hanya hasil dari strategi perusahaan?

Dalam dunia bisnis, harga bukan sekadar angka yang ditempelkan pada produk. Di baliknya, ada berbagai pertimbangan dan perhitungan yang dilakukan perusahaan. Salah satu cara paling umum adalah menentukan harga berdasarkan biaya produksi, lalu menambahkan keuntungan yang diinginkan. Secara logika, cara ini terlihat wajar karena perusahaan tentu ingin menutup biaya sekaligus mendapatkan laba.

Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Jika harga hanya ditentukan dari biaya, banyak produk seharusnya tidak akan laku di pasaran. Hal ini karena konsumen tidak hanya melihat harga dari sisi perusahaan, tetapi juga dari sisi mereka sendiri: apakah harga tersebut sebanding dengan manfaat yang didapat.

Di sinilah peran pasar menjadi penting. Harga sering kali dipengaruhi oleh kondisi permintaan dan penawaran. Ketika suatu produk sedang banyak dicari, harga cenderung naik. Sebaliknya, ketika minat konsumen menurun, perusahaan biasanya menurunkan harga agar tetap menarik. Artinya, harga bukan hanya soal biaya, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan membaca situasi pasar.

BACA JUGA :  Etika dalam Bisnis dan Profesi: Kasus Kontroversi Tes PCR di Indonesia

Selain itu, perusahaan juga mempertimbangkan faktor ketidakpastian. Tidak semua keputusan harga bisa dibuat dengan pasti, karena kondisi pasar bisa berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, banyak perusahaan menggunakan pendekatan yang fleksibel, yaitu dengan melihat kemungkinan keuntungan tambahan dari setiap perubahan harga. Dari sini terlihat bahwa harga sering kali merupakan hasil dari perkiraan, bukan angka yang benar-benar pasti.

Menariknya, harga juga sering digunakan sebagai “sinyal” kualitas. Banyak orang cenderung berpikir bahwa produk mahal pasti lebih baik. Padahal, belum tentu demikian. Persepsi ini sering dimanfaatkan perusahaan untuk membangun citra produk premium. Akibatnya, konsumen kadang membayar lebih bukan hanya untuk produk, tetapi juga untuk “image” yang melekat pada produk tersebut.

Tidak hanya itu, strategi harga juga bisa dibuat dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah menjual produk dalam paket atau bundling. Misalnya, membeli dua produk sekaligus dengan harga lebih murah dibandingkan membeli satuan. Ada juga strategi diskon atau promosi yang sering digunakan untuk menarik perhatian konsumen. Walaupun terlihat menguntungkan, strategi ini sebenarnya sudah diperhitungkan agar tetap memberikan keuntungan bagi perusahaan.

BACA JUGA :  Targetkan 156 Ribu Anak, Pemkot Tangsel Siap Gelar Pekan Imunisasi Nasional

Di sisi lain, perusahaan juga harus mempertimbangkan posisi harga dibandingkan dengan pesaing. Apakah produk ingin dipasarkan sebagai produk premium dengan harga tinggi, atau sebagai produk yang lebih terjangkau? Keputusan ini sangat berpengaruh terhadap bagaimana konsumen melihat produk tersebut.

Selain faktor perusahaan, perilaku konsumen juga memegang peran penting. Konsumen tidak selalu rasional dalam mengambil keputusan. Hal-hal seperti label “diskon besar”, harga yang terlihat lebih kecil (misalnya Rp9.999), atau promo terbatas sering kali memengaruhi keputusan pembelian. Ini menunjukkan bahwa harga bukan hanya alat ekonomi, tetapi juga alat untuk memengaruhi psikologi konsumen.

Di era digital seperti sekarang, penentuan harga menjadi semakin kompleks. Konsumen dapat dengan mudah membandingkan harga melalui internet. Jika harga dianggap terlalu tinggi, mereka bisa langsung beralih ke produk lain. Bahkan, ulasan dari konsumen lain juga dapat memengaruhi persepsi terhadap harga suatu produk.

Melihat berbagai faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa harga sebenarnya adalah hasil dari strategi yang cukup kompleks. Perusahaan tidak hanya memikirkan biaya, tetapi juga mempertimbangkan pasar, pesaing, hingga perilaku konsumen. Oleh karena itu, harga tidak selalu sepenuhnya “netral”, melainkan bisa saja diatur untuk mencapai tujuan tertentu.

BACA JUGA :  Wisata Tangerang Selatan: Menelusuri Pesona Alam dan Keindahan

Lalu, apakah harga itu fair atau settingan?

Jawabannya tidak bisa hitam putih. Dari sisi perusahaan, harga yang ditetapkan bisa dianggap wajar karena sudah melalui berbagai perhitungan. Namun, dari sisi konsumen, harga tersebut bisa terasa “diatur” karena adanya strategi di baliknya.

Sebagai konsumen, kita perlu lebih kritis dalam melihat harga. Jangan hanya terpaku pada murah atau mahal, tetapi pahami juga nilai yang kita dapatkan. Sementara itu, bagi pelaku usaha, penting untuk menetapkan harga secara bijak agar tetap kompetitif tanpa kehilangan kepercayaan konsumen.

Pada akhirnya, harga bukan sekadar angka. Ia adalah hasil dari strategi, persepsi, dan interaksi antara perusahaan dan konsumen. Di balik setiap harga yang kita lihat, selalu ada alasan dan tujuan yang menyertainya.

Penulis:

Fathur Hakim

Miptah

Rizki Maulana

Mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Pamulang

Tags: Mengulik Strategi harga produk
Previous Post

Mahasiswa UNPAM Rancang Website Seleno Lelang sebagai Platform Lelang Digital Berbasis Web

Next Post

127 Ribu Orang Naik LRT Jabodebek dalam Sehari, Efek Gangguan KRL Bekasi

Related Posts

Rancang Bangun Sistem Dashboard Web Crawling Produk dan Jasa Berbasis Real-time Database pada PT Segara Lentera Teknologi
DUNIA KAMPUS

Rancang Bangun Sistem Dashboard Web Crawling Produk dan Jasa Berbasis Real-time Database pada PT Segara Lentera Teknologi

April 29, 2026
2.6k
Mahasiswa UNPAM Rancang Website Seleno Lelang sebagai Platform Lelang Digital Berbasis Web
DUNIA KAMPUS

Mahasiswa UNPAM Rancang Website Seleno Lelang sebagai Platform Lelang Digital Berbasis Web

April 29, 2026
2.4k
Naik Harga Dikira Untung, Eh Malah Sepi! Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Pelaku Usaha
DUNIA KAMPUS

Naik Harga Dikira Untung, Eh Malah Sepi! Ini Kesalahan yang Sering Dilakukan Pelaku Usaha

April 29, 2026
2.1k
Edukasi Pajak kepada Masyarakat dengan Program 2B2R
DUNIA KAMPUS

Pentingnya Memahami Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Sejak Perkuliahan

April 28, 2026
2.2k
Mengelola Risiko, Mengamankan Masa Depan Bisnis
DUNIA KAMPUS

Mengelola Risiko, Mengamankan Masa Depan Bisnis

April 27, 2026
2.2k
Sistem Pemungutan Pajak di Indonesia
DUNIA KAMPUS

Pajak Negara dan Pajak Daerah: Kunci Kemajuan Bangsa

April 27, 2026
2.8k
Next Post
127 Ribu Orang Naik LRT Jabodebek dalam Sehari, Efek Gangguan KRL Bekasi

127 Ribu Orang Naik LRT Jabodebek dalam Sehari, Efek Gangguan KRL Bekasi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • SERBA SERBI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com