JAKARTA – Pemerintah bergerak cepat merespons gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara. Penanganan dilakukan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga guna memastikan dampak bencana dapat segera diatasi.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, menegaskan bahwa seluruh jajaran pemerintah pusat dan daerah harus bergerak cepat sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Fokus utama diarahkan pada penyelamatan korban, percepatan evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran langsung pemerintah pusat di lokasi bencana. Kepala BNPB, Suharyanto, diminta segera menuju wilayah terdampak untuk memimpin penanganan darurat sekaligus memastikan distribusi dana siap pakai berjalan lancar.
“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama, sehingga proses evakuasi harus dilakukan secara cepat dengan pelayanan optimal bagi korban,” ujar Pratikno dalam keterangan tertulis, Kamis (2/4/2026) dikutip dari http://beritasatu.com.
Di lapangan, Kepala BNPB bersama pimpinan kementerian dan lembaga terkait langsung mengoordinasikan langkah teknis penanganan. Berdasarkan data BMKG, gempa tektonik ini berpusat di laut sekitar 132 kilometer barat laut Ternate dengan kedalaman 33 kilometer, dan diikuti sejumlah gempa susulan.
Guncangan paling kuat dirasakan di Ternate dengan skala V–VI MMI, serta di Kota Manado pada skala IV–V MMI. Dampaknya, sejumlah bangunan publik dan permukiman warga mengalami kerusakan cukup parah.
Dari laporan daerah, korban jiwa dan kerusakan infrastruktur mulai terdata. Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey, melaporkan satu orang meninggal dunia serta kerusakan berat pada Gedung Olahraga (GOR) KONI Sario di Manado.
Kerusakan juga terjadi pada fasilitas kesehatan. Komandan Resor Militer 131/Santiago menyebutkan salah satu rumah sakit di Manado mengalami kerusakan, mulai dari kaca ruang ICU yang pecah hingga runtuhnya bagian tembok. Sebanyak 40 pasien pun telah dievakuasi ke lokasi yang lebih aman karena trauma.
Sementara di Maluku Utara, BPBD mencatat kerusakan di Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate. Terdapat lima rumah rusak berat, 18 rumah rusak ringan, serta empat bangunan gereja yang terdampak dengan tingkat kerusakan berbeda.
Proses pencarian dan evakuasi korban masih terus berlangsung. Tim SAR gabungan dari Ternate, Manado, dan Gorontalo dikerahkan untuk mengevakuasi korban sekaligus melakukan pengecekan keamanan bangunan sebelum warga kembali ke rumah masing-masing.
Selain itu, BNPB telah menginstruksikan pendirian posko tanggap darurat. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi, seperti makanan, air bersih, dan pakaian, dapat terpenuhi dengan baik.







