Pernikahan di usia muda masih menjadi isu yang kerap memantik perdebatan di tingkat nasional. Di satu sisi, menikah muda sering dipandang sebagai keputusan tergesa-gesa yang berisiko menimbulkan berbagai persoalan rumah tangga. Di sisi lain, realitas sosial menunjukkan bahwa persoalan pernikahan tidak semata ditentukan oleh usia, melainkan oleh kesiapan individu dalam menjalani tanggung jawab yang menyertainya.
Menurut saya, menikah muda bukanlah persoalan selama dilandasi kesiapan finansial dan mental yang matang. Dua aspek ini merupakan pondasi utama dalam membangun rumah tangga yang kuat dan berkelanjutan. Tanpa kesiapan ekonomi dan kematangan mental, pernikahan—baik di usia muda maupun dewasa—akan rentan menghadapi konflik yang berujung pada keretakan hubungan.
Kesiapan finansial menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas keluarga. Pemenuhan kebutuhan dasar, perencanaan masa depan, serta pengelolaan keuangan yang bijak sangat menentukan keharmonisan rumah tangga. Ketika aspek ekonomi diabaikan, tekanan hidup dapat memicu konflik yang sulit dihindari.
Selain itu, kesiapan mental juga memegang peranan krusial. Pernikahan menuntut kedewasaan dalam bersikap, kemampuan mengendalikan emosi, serta kesanggupan menghadapi perbedaan dan masalah secara dewasa. Tanpa kematangan mental, persoalan kecil berpotensi berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Tingginya angka perceraian di Indonesia menjadi cerminan rapuhnya ketahanan banyak rumah tangga. Data nasional menunjukkan bahwa setiap tahunnya, kasus perceraian masih berada pada kisaran ratusan ribu. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kegagalan pernikahan lebih sering dipicu oleh kurangnya kesiapan dalam menjalani kehidupan berumah tangga, bukan semata-mata oleh usia saat menikah.
Oleh karena itu, menikah muda tidak seharusnya dinilai secara hitam-putih. Fokus utama seharusnya diarahkan pada kesiapan pasangan dalam membangun rumah tangga yang bertanggung jawab. Dengan kesiapan finansial dan mental yang kuat, pernikahan di usia muda dapat menjadi awal kehidupan keluarga yang harmonis, stabil, dan berkelanjutan.
Penulis:
Naila Varadina Zahra
Program Studi Akuntansi S1
Universitas Pamulang







