BANTEN – Gubernur Banten Andra Soni menegaskan bahwa aturan pembatasan penggunaan gadget di lingkungan pendidikan tidak bisa dijalankan secara setengah-setengah. Menurutnya, kebijakan ini hanya akan berhasil jika seluruh pihak, orangtua, siswa, guru, hingga lingkungan sekitar, bergerak serempak.
“Ini enggak bisa jalan sendiri. Harus ada konsensus nasional dan komitmen bersama antara orang tua, murid, pendidik, dan lingkungan,” ujar Andra Soni, dikutip Sabtu, 22 November 2025.
Ia melihat meningkatnya kasus perundungan belakangan ini sangat berkaitan dengan penggunaan gadget dan media sosial. Meski bullying bukan fenomena baru, dampaknya kini jauh lebih besar dan lebih cepat menyebar.
“Dulu waktu saya sekolah, bullying sudah ada, tapi tidak separah sekarang. Efeknya luar biasa. Untuk melindungi generasi muda, kita perlu kesadaran kolektif,” ucapnya.
Gubernur Banten itu juga menilai perlunya kebijakan pencegahan bullying yang berlaku di semua tingkat pendidikan, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa kasus perundungan tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di kampus.
Mengenai pembatasan gadget, Andra menekankan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari regulasi nasional yang harus didorong implementasinya oleh pemerintah daerah.
“Pembatasan gadget ini kebijakan nasional. Kita akan dorong,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan sejumlah negara maju seperti Finlandia yang lebih dulu menerapkan pembatasan penggunaan perangkat digital di sekolah sebagai bagian dari reformasi pendidikan. Indonesia, katanya, dapat belajar dari hal tersebut.
“Gadget punya banyak manfaat, tapi jika tidak dikelola dengan benar, dampak negatifnya bisa sangat besar,” tutup Andra.







