TANGSELXPRESS- Pembangunan kepariwisataan di Indonesia mencakup empat pilar, yakni: destinasi; pemasaran; industri, dan kelembagaan.
Pengembangan harus dilihat dalam satu kesatuan upaya untuk memajukan pariwisata. Keempat pilar tak dapat berdiri sendiri-sendiri karena satu dan lainnya saling berpengaruh. Pengembangan destinasi dan industri tentu akan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pemasaran. Dan aspek kelembagaan dapat memengaruhi semua aspek lain.
Menurut Dr. Phil., Ir. Rino Wicaksono, ST, MArchUD, MURP, seorang akademisi yang juga pakar pembangunan wilayah, untuk mengembangkan destinasi ada enam aspek strategis yang harus diperhatikan. Yang pertama itu adalah atraksi, yang kedua adalah amenitas, ketiga ancillary, keempat adalah aksesibilitas, kelima adalah konektivitas dan keenam itu adalah komunitas.
Rino yang juga seorang dosen di Institut Teknologi Indonesia, Kota Tangerang Selatan, memaparkan secara detil enam aspek terkait pengembangan destinasi, diawali dengan atraksi.
“Atraksi itu terdiri dari tiga jenis bentuk atraksi. Pertama atraksi alam, objeknya bisa alam gunung, bisa danau, lautan, hutan atau sungai, kemudian kedua atraksi budaya, bisa tarian, nyanyian, upacara atau hal-hal lain yang berkaitan dengan seni. Yang ketiga adalah atraksi buatan. Atraksi buatan itu seperti ruang bermain anak untuk anak-anak dan kemudian juga boating, rafting, canoeing kemudian juga semacam Dunia Fantasi Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Universal studio, Disneyland atau Disney World, itu adalah atraksi buatan,” papar Rino, politisi NasDem yang tengah mencalonkan diri menjadi Anggota DPR RI Dapil Banten III Tangerang Raya (Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang) itu.
Selanjutnya, Rino bicara tentang amenitas yaitu fasilitas yang mendukung langsung kegiatan pariwisata. Antara lain cafe, restoran, toilet, TIC (Tourism Information Centers), hotel dan motel, yang semua ini masuk dalam bagian dari amenitas.
Hal berikutnya adalah ancillary, yang mendukung kegiatan pariwisata misalnya fasilitas keamanan, klinik dan rumah sakit.
Selanjutnya aksesibilitas. Menurut Rino, aksesibilitas ini berkaitan dengan transportasi baik darat, udara maupun lautan baik sarana maupun prasarananya. Contoh bus dengan bus stop-nya, kemudian ada kereta api dengan stasiun kereta apinya, lalu ada bandara dengan pesawatnya. Semua itu masuk dalam aksesibilitas.
“Nah untuk konektivitas itu bisa tidak transportasi tetapi misalnya satelit, hubungan satelit internet wifi itu mengkoneksikan, menghubungkan kita dengan yang lainnya dari satu titik ke titik yang lainnya,” ujar pria peraih dua beasiswa luar negeri yakni di Colorado, Amerika Serikat dan di Adelaide, Australia, itu.
Yang berikutnya, lanjut Rino, adalah komunitas-komunitas di dalam destinasi yang berkaitan langsung baik dengan pengelolaan wilayah ataupun dengan atraksinya.
Komunitas ini bisa yang menjadi pengelola atau pemerhati atau ahli. Komunitas yang berkaitan dengan atraksi dan fisik wilayah dari destinasi.
“Menurut saya, untuk mengembangkan satu destinasi, keenam hal itu harus dilakukan secara bersama-sama,” ujar ungkap pria yang tergabung dalam Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI) itu.







