TANGSELXPRESS- Ribuan warga Badui Luar dan Badui Dalam “turun gunung” merayakan tradisi Seba di Pendopo Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Jumat, (28/4). Kegiatan ini merupakan ungkapan syukur selama setahun mengelola usaha pertanian ladang.
“Kami sebagai warga Badui Luar tentu merasa senang bisa merayakan Seba atau kunjungan untuk silaturahmi bersama kepala daerah (bupati dan gubernur) dan aparat hukum,” kata Sangsang (45), seorang warga Badui, saat ditemui di Pendopo Pemkab Lebak, dilansir dari Antara, Jumat (28/4).
Perayaan Seba bagi warga Badui merupakan upacara sakral yang harus dilaksanakan masyarakat adat dengan membawa hasil pertanian untuk diserahkan kepada kepala daerah, sebagai ungkapan syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Komoditas pertanian ladang itu, antara lain beras huma, pisang, gula aren, kue laksa, dan petai.
“Kami wajib melaksanakan perayaan Seba setahun sekali dan jika tidak dilaksanakan dikhawatirkan terkena musibah,” kata dia.
Sangsang mengaku sudah 10 tahun mengikuti upacara perayaan Seba di Pemerintahan Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten.
Tetua Adat Badui yang juga Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija, mengatakan masyarakat Badui yang tahun ini merayakan upacara adat Seba berjumlah 1.200 orang, terdiri atas Badui Dalam dengan kekhasan berpakaian putih, celana putih, dan lomar atau kain penutup kepala yang juga berwarna putih.
Masyarakat Badui Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik hingga saat ini masih kuat menghidupi adat setempat. Mereka berpergian ke manapun berjalan kaki dan dilarang naik kendaraan.
Masyarakat Badui Luar dengan kekhasan pakaian hitam, celana hitam, dan lomar berwarna biru menerima modernisasi, antara lain boleh menggunakan kemajuan sarana digital dan internet melalui telepon pintar sehingga bisa berkomunikasi melalui media sosial. Warga Badui Luar ke manapun berpergian dibolehkan menggunakan angkutan, mobil, dan sepeda motor.
“Kami tahun ini menggelar Seba Gede atau kunjungan besar hingga 1.200 orang dan berharap berjalan lancar dan sukses,” katanya.
Dia mengatakan perayaan tradisi Seba puncak dari rangkaian adat masyarakat Badui setelah menjalani tradisi Kawalu, berupa puasa selama tiga bulan.
“Dengan Seba Badui itu tentu dapat memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa juga nilai-nilai toleransi, di mana bangsa ini memiliki keberagaman suku, budaya, sosial, dan agama,” katanya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin mengatakan pihaknya menargetkan 30 ribu wisatawan domestik dan mancanegara pada perayaan Seba selama 27-30 April 2023 di Pendopo Lebak dan Alun-Alun Utara Multatuli Rangkasbitung.
Selain itu, para wisatawan dapat melihat pameran produk UMKM masyarakat Badui.
“Kami menggelar gerai pameran itu bagian promosi produk-produk masyarakat Badui, sehingga dapat meningkatkan omzet pendapatan ekonomi mereka,” katanya.







