• ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber
tangselxpress.com
Jumat, 23 Oktober, 2026
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING
No Result
View All Result
tangselxpress.com
No Result
View All Result
Home DUNIA KAMPUS

Bersuara atau Sekadar Berisik? Mengukur Keberhasilan Public Speaking di Era Digital

Redaksi Tangselxpress by Redaksi Tangselxpress
Oktober 14, 2026
in DUNIA KAMPUS
Reading Time: 7min read
Bersuara atau Sekadar Berisik? Mengukur Keberhasilan Public Speaking di Era Digital
236
SHARES
2.5k
VIEWS

Public Speaking yang Berubah di Era Digital

Public speaking sekarang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Jika dahulu kegiatan ini lebih sering dikaitkan dengan pidato, presentasi, seminar, atau berbicara di depan kelas, sekarang seseorang bisa menyampaikan gagasan kepada banyak orang hanya melalui telepon genggam. Video yang dibuat dari rumah dapat ditonton oleh orang yang bahkan tidak dikenal oleh pembuatnya. Media sosial, podcast, konferensi video, dan live streaming membuat kesempatan untuk berbicara di depan publik menjadi semakin terbuka.

Perubahan ini memberikan banyak peluang. Mahasiswa dapat membagikan pengalaman kuliah, pelaku usaha bisa menjelaskan produknya melalui siaran langsung, dan orang yang mempunyai keahlian tertentu dapat memberikan edukasi lewat video. Siapa pun bisa mulai berbicara tanpa harus menunggu undangan ke acara formal atau mempunyai peralatan yang mahal.

Namun, semakin mudah orang berbicara, semakin banyak pula informasi yang diterima masyarakat. Saat membuka media sosial, kita dapat menemukan opini, promosi, komentar, hiburan, dan berbagai informasi dalam waktu yang bersamaan. Banyak orang berusaha mendapatkan perhatian, tetapi tidak semuanya memikirkan apakah pesan yang disampaikan benar-benar bermanfaat. Dari sini muncul pertanyaan: apakah banyaknya orang yang mendengar berarti seseorang sudah berhasil melakukan public speaking?

Menurut saya, belum tentu. Banyaknya penonton menunjukkan bahwa konten mendapat perhatian, tetapi perhatian tidak selalu sama dengan pemahaman. Seseorang mungkin membuka video karena judulnya menarik, lalu meninggalkannya beberapa detik kemudian. Sebaliknya, konten yang jumlah penontonnya tidak terlalu besar bisa saja membantu audiens memahami suatu hal. Karena itu, public speaking perlu dinilai bukan hanya dari seberapa ramai respons yang diterima, tetapi juga dari kualitas pesan dan dampaknya.

Orang, Tempat, dan Budaya Komunikasi Digital

Teknologi mengubah siapa yang dapat berbicara, tempat berbicara, dan kebiasaan audiens dalam menerima informasi. Dari sisi orang, pembicara tidak harus selalu presenter profesional atau tokoh terkenal. Mahasiswa, karyawan, guru, pedagang, pelaku UMKM, dan pengguna media sosial biasa dapat menyampaikan pendapatnya. Kesempatan untuk bersuara menjadi lebih luas.

Dari sisi tempat, kegiatan public speaking tidak lagi terbatas pada aula, ruang kelas, kantor, atau panggung. Kamar dan ruang kerja pun dapat menjadi tempat membuat konten selama perangkat dan koneksi mendukung. Pembicara dan audiens bahkan dapat berada di lokasi yang berbeda serta mengakses pesan pada waktu yang tidak sama.

Budaya menerima informasi juga berubah. Pengguna media sosial terbiasa melihat video pendek, gambar, tulisan singkat, dan informasi yang bergerak cepat. Pembicara perlu menyesuaikan cara penyampaiannya agar mudah diikuti. Meski begitu, menyesuaikan diri dengan budaya digital bukan berarti semua hal harus dibuat sensasional. Judul yang menarik memang dapat membuat orang berhenti menggulir layar, tetapi isi yang tidak sesuai dengan judul justru dapat mengecewakan audiens.

Audiens digital juga lebih aktif. Mereka dapat memberikan komentar, mengajukan pertanyaan, menyampaikan kritik, atau membagikan konten kepada orang lain. Respons ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi pembicara. Jika banyak orang menanyakan bagian yang sama, mungkin penjelasannya belum cukup jelas. Oleh karena itu, public speaking digital sebaiknya dipandang sebagai komunikasi dua arah, bukan sekadar aktivitas berbicara agar didengar.

Sebelum menyampaikan pesan, pembicara perlu memikirkan dua hal: apa yang ingin disampaikan dan siapa yang akan menerimanya. Pesan yang bagus belum tentu berhasil jika tidak sesuai dengan kebutuhan audiens. Sebaliknya, penjelasan sederhana bisa sangat bermanfaat jika menjawab masalah yang sedang dihadapi pendengar.

BACA JUGA :  Ketika Rupiah Menyentuh Rp18.000: Ujian bagi Keuangan Indonesia

Besarnya Ruang Digital dan Peluang untuk Berbicara

Data penggunaan internet memperlihatkan bahwa ruang komunikasi digital di Indonesia sangat besar. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa jumlah pengguna internet Indonesia pada 2024 mencapai 221.563.479 orang, dengan tingkat penetrasi 79,5 persen. Sementara itu, Badan Pusat Statistik dalam Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024 mencatat bahwa 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. BPS juga mencatat bahwa 68,65 persen penduduk memiliki telepon seluler pada tahun yang sama.

DataReportal dalam Digital 2025: Indonesia memperkirakan terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2025 dan sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial pada periode yang sama. Angka dari lembaga-lembaga tersebut tidak selalu sama karena sumber dan metode pengukurannya berbeda. Identitas pengguna media sosial juga tidak selalu berarti jumlah individu unik. Karena itu, angka tersebut perlu dibaca sesuai konteksnya, bukan dibandingkan secara sembarangan.

Walaupun pengukurannya berbeda, data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mempunyai aktivitas digital yang besar. Bagi public speaker, kondisi ini membuka peluang untuk menjangkau audiens tanpa harus hadir secara langsung. Seseorang bisa membuat konten edukasi, membahas pengalaman kerja, melakukan ulasan produk, atau memberikan informasi tentang suatu bidang.

Namun, peluang yang besar juga diikuti persaingan untuk mendapatkan perhatian. Setiap hari ada banyak konten baru yang muncul. Pembicara tidak hanya bersaing dengan orang yang membahas topik serupa, tetapi juga dengan berbagai hal lain yang menarik perhatian audiens. Karena itu, pembicara perlu memiliki pesan yang jelas dan menentukan sasaran yang tepat.

Misalnya, konten public speaking untuk mahasiswa dapat membahas cara membuka presentasi, menjawab pertanyaan dosen, atau mengurangi rasa gugup ketika maju di depan kelas. Topik yang dekat dengan kehidupan audiens biasanya lebih mudah dipahami daripada pembahasan yang terlalu umum. Data digital dapat membantu melihat topik yang mendapat respons, tetapi respons yang rendah tidak otomatis berarti topiknya buruk. Bisa saja cara penyampaian atau sasaran audiensnya perlu diperbaiki.

Viral Belum Tentu Berarti Berhasil

Di media sosial, konten viral sering dianggap sebagai tanda keberhasilan. Video dengan ratusan ribu penayangan dapat membuat pembuatnya terlihat sukses menarik perhatian. Padahal, viral dan berhasil menyampaikan pesan merupakan dua hal yang berbeda. Jumlah views tidak langsung menunjukkan bahwa penonton memahami isi pembicaraan.

Bayangkan ada dua video edukasi. Video pertama mendapat 500.000 views, tetapi sebagian besar penonton hanya bertahan sebentar. Video kedua mendapat 10.000 views, tetapi banyak orang menonton sampai selesai dan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi. Jika tujuan kedua video adalah memberikan edukasi, jumlah views saja belum cukup untuk menentukan mana yang lebih berhasil.

Pembicara perlu melihat indikator lain, seperti durasi tontonan, komentar, jumlah konten dibagikan, dan respons yang sesuai dengan isi. Durasi tontonan dapat memberi gambaran tentang seberapa lama audiens bertahan. Komentar dapat menunjukkan reaksi atau pertanyaan, sedangkan share bisa menandakan bahwa seseorang menganggap konten tersebut layak dibagikan. Walaupun demikian, setiap indikator tetap perlu dibaca sesuai konteks.

BACA JUGA :  Di Balik Naik Turunnya Harga: Analisis Permintaan, Penawaran, dan Elastisitas

Banyak komentar juga belum tentu berarti komunikasi berhasil. Konten yang memicu perdebatan bisa mendapatkan banyak respons, tetapi belum tentu membuat audiens memahami materi. Sebaliknya, konten dengan sedikit komentar tetap dapat bermanfaat bagi orang yang menontonnya. Masalah muncul ketika angka menjadi satu-satunya tujuan sehingga pembicara lebih sibuk mengejar views daripada memikirkan isi pesan.

Hal yang sama berlaku pada presentasi di kelas. Presentasi yang ramai dan menghibur belum tentu berhasil jika teman-teman tidak memahami materinya. Presentasi yang sederhana dapat dikatakan berhasil apabila audiens mengerti dan mampu menjelaskan kembali inti pembahasan. Viral bukan sesuatu yang salah karena dapat memperluas jangkauan. Namun, perhatian yang diperoleh sebaiknya digunakan untuk menyampaikan pesan yang jelas dan bermanfaat.

Cara Berbicara, Kredibilitas, dan Kepercayaan

Isi yang bagus tetap dapat sulit dipahami jika cara penyampaiannya tidak tepat. Dalam public speaking, cara berbicara mencakup intonasi, ekspresi wajah, kecepatan bicara, bahasa tubuh, pemilihan kata, dan urutan pembahasan. Semua unsur tersebut membantu audiens mengikuti pesan.

Di media sosial, bagian awal video sering menentukan apakah audiens akan melanjutkan tontonan atau berpindah ke konten lain. Pembukaan yang baik tidak harus heboh atau berlebihan. Pertanyaan sederhana yang dekat dengan pengalaman audiens juga dapat digunakan. Contohnya, pembicara dapat membuka konten dengan pertanyaan, “Pernah nggak saat presentasi kita sebenarnya paham materinya, tetapi begitu berdiri di depan kelas malah lupa semuanya?” Pembukaan seperti ini langsung menghubungkan topik dengan pengalaman mahasiswa.

Bahasa juga perlu disesuaikan dengan audiens. Bahasa sederhana bukan berarti pembicara tidak menguasai materi. Justru, kemampuan menjelaskan hal rumit dengan kata-kata yang mudah dipahami merupakan bagian penting dari komunikasi. Pembicara juga perlu mengatur tempo agar tidak terlalu cepat atau terlalu lambat. Persiapan sebaiknya dilakukan dengan memahami poin-poin utama, bukan hanya menghafal setiap kalimat, supaya penyampaian terasa lebih alami.

Selain teknik berbicara, kepercayaan audiens juga penting. Pembicara yang terlihat percaya diri belum tentu menyampaikan informasi yang benar. Kredibilitas dibangun melalui ketepatan informasi, konsistensi, dan kesediaan mempertanggungjawabkan pesan. Sebelum menyampaikan data, pembicara perlu memeriksa sumbernya. Informasi yang belum pasti sebaiknya tidak disampaikan seolah-olah merupakan fakta.

Tanggung jawab ini semakin penting karena konten digital dapat direkam dan dibagikan kembali. Kesalahan yang awalnya didengar oleh beberapa orang dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas. Karena itu, public speaking yang baik bukan hanya tentang terlihat lancar atau sempurna, tetapi juga tentang menyampaikan informasi secara jujur, jelas, dan bertanggung jawab.

Mengukur Keberhasilan Public Speaking Digital

Keberhasilan public speaking digital sebaiknya dilihat dari beberapa ukuran, bukan satu angka saja. Pertama, kejelasan pesan: apakah audiens memahami inti yang disampaikan? Kedua, relevansi: apakah topik sesuai dengan kebutuhan audiens? Ketiga, keterlibatan: apakah audiens memberikan respons yang berhubungan dengan isi? Keempat, retensi: apakah audiens bertahan mengikuti pembahasan? Kelima, tindakan: apakah ada sesuatu yang dilakukan setelah pesan diterima?

Tindakan tersebut tidak harus berupa pembelian. Dalam konten edukasi, tindakan dapat berupa mencoba menerapkan informasi. Dalam presentasi mahasiswa, tindakan dapat berupa kemampuan menjawab pertanyaan atau menjelaskan kembali materi. Dalam konten sosial, dampaknya dapat berupa meningkatnya kesadaran terhadap suatu masalah.

BACA JUGA :  Analisis Studi Kasus Pajak Penghasilan pada PT Asian Agri Group 

Pembicara dapat menggunakan data platform untuk mengevaluasi konten, tetapi perlu melengkapinya dengan membaca komentar dan mendengarkan audiens. Jika banyak penonton mengatakan penjelasan membingungkan, berarti jangkauan yang tinggi belum tentu diikuti pemahaman. Jika audiens mengajukan pertanyaan yang relevan, hal itu dapat menjadi tanda bahwa mereka memperhatikan isi. Respons perlu dinilai dari kualitasnya, bukan hanya jumlahnya.

Data juga harus disampaikan dengan sumber yang jelas. Perbedaan angka APJII, BPS, dan DataReportal, misalnya, mengingatkan bahwa setiap data memiliki konteks serta metode pengukuran. Menyebutkan sumber membantu audiens menilai informasi dan membuat pembicara lebih dapat dipercaya.

Pada akhirnya, angka seperti views, likes, followers, dan komentar tetap berguna sebagai indikator pendukung. Namun, angka tersebut tidak dapat menggantikan penilaian terhadap pemahaman dan dampak pesan. Pembicara perlu mengetahui tujuan komunikasinya sejak awal agar dapat memilih ukuran keberhasilan yang sesuai.

Penutup

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat melakukan public speaking. Berbicara di depan publik tidak lagi harus dilakukan di panggung, ruang seminar, atau kelas. Media sosial, podcast, konferensi video, dan live streaming membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk menyampaikan gagasan. Besarnya penggunaan internet di Indonesia memperlihatkan bahwa ruang komunikasi digital memiliki jangkauan yang luas.

Namun, kemudahan untuk berbicara juga membuat ruang digital semakin ramai. Keberanian tampil dan kemampuan menarik perhatian memang penting, tetapi keduanya belum cukup. Jumlah views, likes, followers, dan komentar tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Pesan perlu jelas, sesuai dengan kebutuhan audiens, didukung informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta menghasilkan pemahaman atau dampak yang sesuai dengan tujuan.

Menurut saya, “bersuara” berarti memiliki sesuatu yang ingin disampaikan dan mampu membantu orang lain memahami pesan tersebut. Sementara itu, “sekadar berisik” menggambarkan keadaan ketika keramaian menjadi tujuan utama, sedangkan isi dan manfaat pesan diabaikan. Satu pembicaraan yang membuat seseorang memahami sesuatu bisa lebih berarti daripada ribuan views yang tidak menghasilkan pemahaman.

Era digital sudah memberikan ruang yang luas untuk berbicara. Tantangannya sekarang bukan sekadar bagaimana mendapatkan perhatian, melainkan bagaimana menggunakan perhatian tersebut dengan baik. Public speaking yang berhasil bukan selalu yang paling ramai, tetapi yang mampu menyampaikan gagasan secara jelas, memahami audiens, mendengarkan respons, dan bertanggung jawab terhadap pesan yang dibagikan.

Kesimpulannya, keberhasilan public speaking di era digital tidak cukup dinilai dari ramainya penonton atau banyaknya respons di media sosial. Pembicara juga perlu memastikan bahwa pesan disampaikan dengan jelas, sesuai kebutuhan audiens, serta didukung informasi yang benar dan dapat dipercaya. Dengan memperhatikan pemahaman, keterlibatan, dan dampak pesan, teknologi digital dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk mencari perhatian, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Sumber Data

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2024). Pengguna Internet di Indonesia Meningkat di 2024.

Badan Pusat Statistik. (2025). Statistik Telekomunikasi Indonesia 2024.

DataReportal. (2025). Digital 2025: Indonesia.

 

Penulis:

Selvia Najwanisyah
Mahasiswa Universitas Pamulang

Previous Post

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Daya Beli Masyarakat dan Stabilitas Keuangan Indonesia

Next Post

Kabar Duka, Martha Tilaar Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Related Posts

Public Speaking Kunci Meningkatkan Kepercayaan dan Kemampuan Berkomunikasi
DUNIA KAMPUS

Public Speaking Kunci Meningkatkan Kepercayaan dan Kemampuan Berkomunikasi

Oktober 22, 2026
2.4k
SDM Bukan NPC! Kenapa Orang-Orang di Balik Layar Justru Jadi Kunci Kesuksesan Perusahaan?
DUNIA KAMPUS

SDM Bukan NPC! Kenapa Orang-Orang di Balik Layar Justru Jadi Kunci Kesuksesan Perusahaan?

Oktober 22, 2026
2.5k
Peran Public Speaking dalam Membangun Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Peran Public Speaking dalam Membangun Kepercayaan Diri

Oktober 22, 2026
2.5k
Tips Sukses Menggunakan Marketplace
DUNIA KAMPUS

Strategi Penetapan Harga Produk pada UMKM di Tengah Kenaikan Biaya Marketplace di Indonesia

Oktober 22, 2026
2.4k
Bukan Tidak Pintar, Cuma Takut Bicara: Ketika Pengetahuan Tidak Sejalan dengan Kepercayaan Diri
DUNIA KAMPUS

Public Speaking sebagai Kunci Meningkatkan Kepercayaan Diri dan Prestasi Mahasiswa

Oktober 21, 2026
2.3k
Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?
DUNIA KAMPUS

Banyak Views, Sedikit Respons: Apakah Cara Berbicara Menentukan Keberhasilan Public Speaking di Era Digital?

Oktober 21, 2026
2.4k
Next Post
Kabar Duka, Martha Tilaar Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Kabar Duka, Martha Tilaar Meninggal Dunia di Usia 89 Tahun

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • ABOUT US
  • Redaksi
  • Indeks Berita
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan
  • Pedoman Media Siber

© 2022 TangselXpress.com

No Result
View All Result
  • HOME
  • NEWS
    • NASIONAL
    • DAERAH
    • MEGAPOLITAN
  • REGIONAL
    • BANTEN
    • TANGERANG SELATAN
    • TANGERANG RAYA
  • POLITIK
    • PILKADA 2024
  • PENDIDIKAN
  • EXPLORE TANGSEL
    • KULINER
    • WISATA
    • KOMUNITAS
  • EKONOMI
    • UMKM
    • EKONOMI BISNIS
  • GAYA HIDUP
    • BEAUTY
    • SELEBRITI
    • FILM & MUSIK
    • KESEHATAN
    • PARENTING
    • MOTIVASI & INSPIRASI
  • OLAHRAGA
  • HUKUM
    • XPRESSLAW
  • DUNIA KAMPUS
  • VIDEO
  • EPAPER
  • OPINI
  • RAMADAN
  • KERANJANG KUNING

© 2022 TangselXpress.com