TANGSELXPRESS – Wakil Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Pilar Saga Ichsan mendorong pelaku ekonomi kreatif (ekraf) subsektor kriya untuk memperkuat identitas produk agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Menurut Pilar, keunikan produk menjadi faktor penting untuk menghadapi persaingan industri kriya yang semakin ketat, termasuk dengan produk impor yang ditawarkan dengan harga lebih murah.
Hal tersebut disampaikan Pilar saat menghadiri Workshop Kriya Tangerang Selatan dalam rangka mendukung Program Penguatan Ekosistem Creative Hub di Command Center Pusat Pemerintahan Kota (Puspemkot) Tangsel, Kamis (8/10/2026).
“Pelatihan ini terkait bagaimana para pelaku ekraf ini bisa memiliki brand identity, supaya menjadi sebuah kekhasan tersendiri dalam ekonomi kreatif. Karena persaingan di dunia kriya itu kan sangat luar biasa, kalau kita tidak bisa bersaing dan tidak bisa membuat inovasi yang berbeda dengan daerah lain, kita akan kalah bersaing,” ujar Pilar.
Ia menjelaskan, setiap produk ekonomi kreatif yang dihasilkan pelaku usaha Tangsel perlu memiliki karakteristik tersendiri. Untuk mewujudkannya, pelaku usaha harus memahami kebutuhan konsumen melalui riset produk dan pasar.
“Para pelaku ekraf ini diberikan kesadaran secara kolektif, materi, ilmu, dan pengalaman bahwa setiap produk di Tangsel harus punya ciri khas tersendiri. Mereka harus meriset, bagaimana cara mengenal pasar dan bagaimana cara menguasai pasar,” jelasnya.
Produk Kriya Tangsel Didorong Lebih Kompetitif
Pilar menyebut subsektor kriya di Tangsel mencakup berbagai jenis produk, mulai dari aksesori seperti kalung, gelang, dan cincin, hingga produk interior, pajangan, furnitur, tenun, serta batik.
Menurutnya, produk-produk tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan dan menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, pelaku usaha lokal masih menghadapi tantangan persaingan, terutama dari produk impor yang ditawarkan dengan harga lebih murah.
“Produk mereka sebenarnya bagus-bagus. Bahkan kualitasnya sudah bisa sampai pasar dunia. Cuma karena persaingan dengan produk-produk China yang lebih murah, mereka (pelaku ekraf lokal) kalah,” kata dia.
Karena itu, Pilar meminta pelaku usaha tidak hanya mengandalkan harga untuk memenangkan persaingan. Inovasi, karakteristik produk, dan identitas merek dinilai dapat menjadi nilai tambah yang membedakan produk lokal dari barang sejenis.
“Mereka (pelaku UMKM dan ekraf Tangsel) harus mengetahui celah apa yang tidak dimiliki oleh kota lain, bahkan negara lain. Supaya produk ini benar-benar bisa menguasai pasar,” katanya.
Ia mencontohkan produk batik dan tenun yang dikembangkan di Tangsel. Menurut Pilar, kedua produk tersebut perlu memiliki pembeda yang kuat agar mampu bersaing dengan produk dari daerah lain.
“Batik di Tangsel juga ada. Tapi bagaimana supaya batiknya Tangsel bisa bersaing dengan daerah lain? Berarti harus ada pembeda. Apa pembeda itu, mereka harus melakukan riset,” jelasnya.
Workshop Kriya Libatkan Lintas Perangkat Daerah
Workshop Kriya Tangerang Selatan diselenggarakan melalui kolaborasi Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi dan UKM, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tangsel bersama Kementerian Ekonomi Kreatif.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha, khususnya dalam membangun identitas merek dan mengembangkan produk yang memiliki keunikan.
Pilar berharap pelatihan tersebut dapat membantu pelaku ekonomi kreatif menghasilkan produk berkualitas, memiliki nilai tambah, dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
“Riset itu perlu dilakukan, lalu kita berikan ilmunya bersama Kementerian Ekraf supaya melakukan riset yang mendalam. Supaya hasil dari produk itu benar-benar memiliki kualitas tinggi, berdaya saing, dan punya uniqueness sendiri,” tuturnya.
Melalui penguatan identitas produk dan riset pasar, pelaku kriya Tangsel diharapkan dapat menemukan karakteristik yang membedakan produk mereka sekaligus membuka peluang untuk memperluas jangkauan pemasaran.







