TANGSELXPRESS– Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat sebanyak 2.387 warga teridentifikasi memiliki risiko depresi berdasarkan hasil skrining kesehatan mental melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 629 siswa tingkat SMA juga terdeteksi memiliki risiko depresi ringan.
Data tersebut diperoleh setelah Pemerintah Kota Tangsel melakukan skrining terhadap 753.537 jiwa melalui program CKG. Skrining dilakukan dengan sejumlah pertanyaan sederhana untuk memetakan kondisi kesehatan mental masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, skrining kesehatan mental tersebut tidak menggunakan tes psikologi yang kompleks. Pemeriksaan dilakukan melalui metode evaluasi mandiri atau self-assessment dengan sekitar enam pertanyaan dasar.
“Mengenai temuan awal depresi tersebut, itu merupakan skrining sederhana dengan menanyakan sekitar enam pertanyaan,” ujar Allin, Selasa (1/9/2026).
Menurut Allin, pertanyaan dalam skrining tersebut berkaitan dengan kondisi emosional dan fisik yang dirasakan masyarakat dalam dua pekan terakhir. Beberapa indikator yang ditanyakan antara lain rasa cemas berlebihan, kekhawatiran terhadap sesuatu yang belum terjadi, ketakutan, hingga gangguan tidur.
Ia menegaskan, hasil skrining yang menunjukkan risiko depresi tidak berarti seseorang mengalami gangguan jiwa berat. Temuan tersebut juga tidak secara otomatis menunjukkan seseorang membutuhkan penanganan psikiatri ataupun pengobatan medis.
“Sebenarnya ini adalah sesuatu yang membutuhkan edukasi dari kita. Apakah mereka sudah mulai minum obat? Tidak, ini hanya berupa risiko depresi,” kata Allin.
Ia menjelaskan, kejujuran masyarakat ketika menjawab pertanyaan menjadi hal penting dalam proses skrining. Dengan jawaban yang sesuai kondisi sebenarnya, potensi gangguan kecemasan maupun masalah kesehatan mental lainnya dapat dipetakan lebih dini.
Selain masyarakat umum, temuan risiko depresi ringan juga ditemukan pada kalangan pelajar. Dari hasil skrining, sebanyak 629 siswa SMA di Tangsel teridentifikasi memiliki risiko depresi ringan.
Terpisah, Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengakui terdapat sejumlah anak yang menunjukkan kondisi depresi. Temuan tersebut diketahui melalui proses konseling yang dilakukan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).
Menurut Benyamin, proses konseling dilakukan dengan memberikan sejumlah pertanyaan kepada anak. Jawaban yang diberikan kemudian menjadi salah satu dasar untuk mengidentifikasi kondisi yang mereka alami.
Benyamin menyebut, salah satu persoalan yang dapat menjadi pemicu tekanan pada anak adalah kegagalan masuk sekolah negeri.
“Walaupun tidak beratlah, kira-kira seperti itu,” ujar Benyamin.
Di sisi lain, Benyamin menyebut sekitar 53 persen penduduk Tangsel telah mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis. Dari hasil pemeriksaan tersebut, penyakit yang paling banyak ditemukan antara lain hipertensi atau tekanan darah tinggi dan diabetes.







