TANGSELXPRESS– Musim kemarau yang berkepanjangan membawa perubahan di kawasan Sungai Cisadane, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Menyusutnya permukaan air sungai justru dimanfaatkan warga untuk menggelar tradisi tahunan “tikar ngaliwet”, sebuah kegiatan makan bersama di pinggiran sungai yang telah menjadi kebiasaan saat debit air menurun.
Tradisi tersebut berlangsung ketika aliran Sungai Cisadane surut akibat minimnya curah hujan. Warga dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa, berkumpul membawa bekal makanan dari rumah sambil menikmati suasana alam di tepian sungai.
Salah seorang warga, Astuti, mengatakan tradisi tikar ngaliwet selalu dilakukan setiap musim kemarau ketika permukaan Sungai Cisadane menyusut.
“Warga menggelar tikar sambil menikmati bekal nasi liwet dan sayur asam yang dibawa dari rumah,” ujarnya, Senin (20/7/2026).
Menurut Astuti, fenomena surutnya Sungai Cisadane hampir selalu terjadi pada periode Juni hingga Agustus. Kondisi air yang lebih jernih juga dimanfaatkan warga untuk berenang bersama keluarga.
“Tradisi ini merekatkan tali silaturahmi sambil menikmati alam. Tentunya sudah membawa bekal makanan,” katanya.
Tak hanya menjadi lokasi berkumpul, Sungai Cisadane juga dimanfaatkan sebagian warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warga lainnya, Minar, mengungkapkan bahwa saat musim kemarau sejumlah sumur mengalami penyusutan sehingga sebagian warga memilih mencuci pakaian di sungai.
“Biasanya kalau pagi ramai di sini pada nyuci baju,” ucapnya sambil tersenyum.
Berdasarkan data Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Aliran Sungai Cidurian Cisadane, debit air Sungai Cisadane saat ini mengalami penurunan sekitar 12 persen dibandingkan kondisi normal.
Penurunan debit air dipicu berkurangnya pasokan dari wilayah hulu di Bogor, Jawa Barat, serta rendahnya intensitas hujan dalam sebulan terakhir. Akibatnya, bebatuan yang berada di dasar sungai kini tampak jelas di permukaan.
Kondisi tersebut dimanfaatkan warga untuk melakukan berbagai aktivitas yang sebelumnya sulit dilakukan. Selain berenang dan bersantai, sejumlah warga turun langsung ke dasar sungai untuk memancing hingga menjala ikan karena aliran air yang jauh lebih dangkal.
Meski menjadi ruang rekreasi musiman bagi masyarakat, warga tetap diimbau menjaga kebersihan Sungai Cisadane dengan tidak membuang sampah sembarangan agar kelestarian lingkungan tetap terjaga selama musim kemarau berlangsung.







