BULLYING atau perundungan masih menjadi masalah serius dalam dunia pendidikan, khususnya di kalangan remaja. Tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang ini tidak hanya menyakiti korban secara fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikologis yang mendalam. Dampaknya dapat menghambat perkembangan sosial, menurunkan rasa percaya diri, dan bahkan memengaruhi prestasi akademik siswa.
Di lingkungan Yayasan Pembangunan Masyarakat Sejahtera (YPMS) Kedaung, isu bullying menjadi perhatian penting. Minimnya pemahaman tentang definisi, bentuk, dan dampak bullying, serta belum optimalnya upaya pencegahan yang terstruktur, menjadi celah yang memungkinkan perilaku negatif ini terus berulang.
Menyadari urgensi tersebut, kami sekelompok mahasiswa Program Studi Manajemen S-1, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang, melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dengan judul “Sosialisasi Stop Bullying: Mengetahui, Mencegah, dan Menangani Perilaku Bullying pada YPMS Kedaung”. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi komprehensif kepada para siswa, menumbuhkan kesadaran kolektif akan bahaya bullying, serta membekali mereka dengan strategi praktis untuk mencegah dan menghadapi tindakan perundungan. Sasaran utama kegiatan ini adalah siswa SMK YPMS Kedaung, dengan harapan tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan inklusif.
Metode PelaksanaanÂ
Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada 27 Desember 2025 ini dirancang dengan metode partisipatif dan edukatif melalui empat tahapan utama. Pertama, identifikasi permasalahan dilakukan melalui observasi awal dan komunikasi dengan pihak yayasan untuk memahami tingkat pengetahuan siswa tentang bullying serta bentuk-bentuk perundungan yang umum terjadi. Kedua, penyampaian materi edukasi menggunakan metode ceramah interaktif dan diskusi.
Materi yang disampaikan meliputi pengertian bullying, berbagai bentuknya (fisik, verbal, sosial, dan cyberbullying), dampak negatif bagi korban, pelaku, dan lingkungan, serta strategi pencegahan dan penanganan. Ketiga, pendampingan dan edukasi persuasif diberikan melalui simulasi dan latihan sikap asertif, seperti menolak ajakan bullying atau membela korban dengan kalimat tegas. Keempat, tahap monitoring dan evaluasi dilakukan dengan mengamati partisipasi aktif peserta, respons selama diskusi, serta perubahan pemahaman mereka setelah kegiatan.
Hasil dan Pembahasan
Pelaksanaan sosialisasi Stop Bullying di YPMS Kedaung menunjukkan hasil yang sangat positif. Terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta mengenai isu perundungan. Sebelum kegiatan, banyak siswa yang mengartikan bullying hanya sebatas kekerasan fisik seperti memukul atau mendorong. Setelah penyampaian materi, mereka mulai memahami bahwa ejekan, hinaan, pengucilan, hingga komentar negatif di media sosial juga termasuk dalam kategori bullying yang sama berbahayanya.
Para peserta juga menunjukkan peningkatan kesadaran akan dampak psikologis yang ditimbulkan. Mereka tidak lagi memandang bullying sebagai “kenakalan biasa”, melainkan sebagai perilaku yang dapat menyebabkan trauma, kecemasan, dan hilangnya kepercayaan diri pada korban. Hal ini tercermin dari diskusi interaktif yang berlangsung hangat; para siswa antusias bertanya dan berbagi pengalaman, menunjukkan bahwa materi yang disampaikan relevan dengan realitas yang mereka hadapi sehari-hari.
Selain aspek pengetahuan (kognitif), kegiatan ini juga berhasil menyentuh aspek sikap (afektif) dan komitmen (konatif). Melalui pendekatan persuasif dan simulasi, peserta dilatih untuk memiliki empati dan keberanian bersikap tegas. Beberapa siswa menyatakan komitmennya untuk tidak lagi melakukan candaan yang menyakiti teman dan akan lebih berani melapor jika menyaksikan tindakan perundungan. Hal ini menandakan bahwa sosialisasi tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga berhasil menanamkan nilai-nilai positif dan mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dengan demikian, metode sosialisasi yang sistematis dan partisipatif terbukti efektif sebagai upaya preventif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman.
Kesimpulan dan Saran
Kegiatan Sosialisasi Stop Bullying di YPMS Kedaung telah berhasil mencapai tujuannya, yaitu meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai bahaya perundungan. Para peserta kini lebih mampu mengidentifikasi berbagai bentuk bullying, memahami dampak negatifnya, dan memiliki gambaran tentang cara mencegah serta menanganinya. Keberhasilan ini tidak terlepas dari metode pelaksanaan yang interaktif dan partisipatif, yang mampu membangun empati dan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif.
Sebagai tindak lanjut, beberapa saran dapat diajukan. Pertama, sosialisasi serupa perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan agar pesan anti-bullying terus tertanam dan menjadi budaya di lingkungan YPMS Kedaung. Kedua, diperlukan penguatan peran lingkungan, di mana para pendidik dan orang tua turut aktif dalam membangun kontrol sosial dan memberikan pendampingan.
Ketiga, pengembangan media edukasi yang lebih beragam, seperti poster, video, atau konten media sosial, dapat dilakukan agar materi lebih menarik dan mudah diakses oleh siswa. Terakhir, kolaborasi dengan pihak eksternal, seperti perguruan tinggi lain atau lembaga psikologi, akan sangat bermanfaat untuk memperkaya perspektif dan sumber daya dalam upaya pencegahan bullying. Dengan upaya bersama yang berkelanjutan, lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Penulis:
Abid Masruqil Anwar
Adithia RaditaÂ
Rika OktasariÂ
Dosen Pebimbing:Â Muhammad Gandum, S.E.,M.M.
Mahasiswa Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang







